Fight The Power in 1990, Fight Them Today: 20 Tahun Album Public Enemy ‘Fear of a Black Planet’

public-enemy-fear-of-black-planet-634731Sebenarnya agak sulit memulai ini. Meresensi sebuah maha karya luar biasa yang merubah hidup saya 20 tahun yang lalu tanpa harus terjebak pada nostalgia dan glorifikasi berlebihan hingga tulisan tentang album sakral ini menjadi tidak lagi empiris. Tapi apa mau dikata, ini diperlukan, untuk menjaga objektifitas dari resensi dan opini kanon-kanon estetika musik populer barat bilang tentang Fear of a Black Planet. Jadi, jika memang harus ada alasan khusus mengapa selebrasi 20 tahun tidak penting seperti ini dibuat, bukan karena NME, Vibe, The Source, Rolling Stone menobatkannya sebagai salah satu album hiphop terbaik sepanjang masa, namun pula karena dampak yang sungguh luar biasa bagi saya secara personal.

Fear of a Black Planet dirilis di bulan April 1990, namun dikarenakan era itu masih berjarak satu lompatan dalam mesin waktu dengan era Internet, saya baru mendapatkannya 3 bulan kemudian dalam bentuk kaset tepatnya tanggal 10 Juli 1990 (kebetulan, saya memiliki kebiasaan menuliskan tanggal di setiap rekaman yang saya beli). Dalam dunia tanpa search engine dan Youtube, 3 bulan sudah termasuk yang paling kilat, biasanya saya mendapatkan sebuah album setahun lebih setelah dirilis. Saya masih ingat memburunya setelah seorang kawan SMA bercerita melihat album Public Enemy baru di jajaran rak di toko musik Aquarius Dago yang sekarang sudah tutup bangkrut tak bisa bertahan di era donlod gratisan. Diputar ribuan kali, membelit di tape player dan walkman puluhan kali, dan membelinya entah berapa kali hingga kaset nya tak lagi dijual dan saya memiliki versi piringan hitam beserta CDnya satu windu kemudian.

Sebelum di rilisnya album ini di penghujung 80an, sebagai ABG yang mencari-cari musik aneh, saya sudah menjadi big fan dari Public Enemy. Di zaman pop-chart diisi Madonna, New Kids On The Block dan teman sebangku menyetel Metallica dan Iron Maiden, agak wajar untuk jatuh cinta pada musik se-enerjik dan se-‘bising’ rap, terlebih yang di usung Chuck D dkk. Dua album pertama mereka “Yo Bum Rush The Show” dan “It Takes A Nation of Millions to Hold Us Back” sudah cukup fenomenal. Chuck D, Flavor Flav, DJ Terminator X, dan sekelompok beat-producer The Bomb Squad plus segerombolan sekuriti absurd bernama S1W, memperlihatkan pada dunia sejauh apa hiphop dapat menjadi sangat politis dengan musik yang sangat revolusioner dan dengan tehnik sampling yang sama sekali baru dan luar biasa inspiratif. Sebagai ilustrasi, kala itu hiphop masih berusaha keluar dari era primitif pasca The Message nya Melle Mel dan stereotipikal ala LL Cool J dan Run DMC. Oke…, memang Beastie Boys memberi warna sedikit, Rakim merevolusi art of emceeing, De La Soul membuka jalan bagi hiphop absurd, NWA datang dengan ‘Fuck The Police’ menabur benih gangsta-rap. Namun tak ada album / grup hiphop lain yang memberi jalan terang ke arah penggunaan teknologi sampler dan kekuatan lirik dan kontroversi melebihi Public Enemy.

Di masa para MC masih bicara soal selebrasi microphone dan menggoyang pesta, Chuck D datang dengan rima khas baritone-nya tentang bagaimana ia menolak panggilan wajib militer dari pemerintah dan masuk penjara karenanya, tentang konspirasi pemerintah yang memasok drugs ke lingkungan kulit hitam, perihal CIA yang menyadap telepon nya, tentang pentingnya pengorganisiran komunitas dan seruan call-to-arms lainnya yang mungkin tidak terdengar aneh hari ini namun sangat tidak lazim jika kalian berada di era Like A Prayer, sex-drug-rocknroll dan lirik setan-neraka ala metal, terlebih ini datang dari genre party music seperti hiphop. Dan jika ada album pasca generasi bunga dan cimeng ala 60-an yang sedemikian rupa provokatif sehingga menginspirasi generasi apolitis jaman Suharto menjadi melek politik dan menstimulasi terlibat di perubahan bukan karena buku-buku ideologis dan lagu-lagu Iwan Fals, maka album ini mungkin salahsatunya. (saya sekalipun, mendapatkan album ini jauh hari sebelum berkenalan dengan buku-buku kiri). Ini sekaligus membuktikan dalam skala global efek lirik Chuck D yang notabene soal Black Power tidak hanya menginspirasi anak muda kulit hitam, dan saya tidak merasa sendirian menganggapnya demikian, dalam “Slingshot Hiphop”, sebuah film dokumenter dahsyat tentang hiphop di Palestina, seorang MC menjelaskan bagaimana album ini memberikan inspirasi bagi generasi musisi hiphop lokal yang terlibat di Intifada.

Hingga tahun 90, album masterpiece hiphop terdahsyat yang pernah diproduksi oleh genre ini sekalipun adalah album kedua mereka sendiri It Takes A Nation…, oleh karena itu, sebenarnya sulit membayangkan bagaimana mereka akan melampaui semua pencapaian hingga titik sebelum “Fear of…” dirilis. Maka, jika hiphop adalah rock n roll, “Fear of A Black Planet” adalah “Sgt.Pepper’s Lonely Hearts Club” pasca “Revolver” dalam diskografi The Beatles dan sejarah rock n roll. Oke, mungkin terdengar hiperbolis, namun intinya “Fear of…” merepresentasikan seluruh kehebatan yang dapat dihasilkan dari sebuah genre musik hingga pada saat album tersebut dibuat bahkan melampaui album masterpiece mereka sendiri persis ketika ‘Revolver’ membuat takjub kemudian datanglah ‘Sgt.Pepper’s’. Semua elemen album ini membuat sebuah fenomena tak terpisahkan, mulai dari cover album, sound, karakter, fashion, lirik hingga kontroversi anti-semit yang mengiringi peluncuran album ini.

Dari penampakannya sekalipun, saya sudah jatuh cinta setengah mampus. Dengan cover menggambarkan sebuah dunia yang dibayangi oleh sebuah planet bertato logo mereka, album ini sudah keluar dari apa yang selalu dibayangkan saat saya membeli album hiphop. Sama sekali tak ada foto personil di sampul depan dan ilustrasi-nya maut. Untuk mendapatkan efek galaksi yang Star Wars-ish sedemikian rupa, konon PE menyewa ilustrator dari NASA. Begitu pula foto grup di sampul dalam yang memvisualisasikan mereka di tengah sebuah rapat, Chuck terlihat sedang menjelaskan sesuatu dengan globe di tangan dan strategic map di meja yang dikelilingi oleh sisa grup mengitarinya, mencoba berkata bahwa mereka sangat serius membuat rencana serangan tandingan pada rasisme dan ketidakadilan.

Di album ini Chuck D tak melakukan apapun selain menambah koleksi deretan rima kolosal nya plus kontroversi yang semakin berkepanjangan. Meski Chuck berujar di rima nya “Who gives a fuck about a goddamn Grammy?” bukan artinya ia sedang bermanuver underground, justru sebaliknya ia mendobrak dan memaksa mainstream menerima mereka dengan segala kekacauan yang dihasilkannya. Dari mulai menyebut Elvis dan John Wayne rasis (“Fight The Power”), mencaci kebijakan apartheid terselubung departemen kepolisian AS (“911 is A Joke”), hingga deklarasi perang melawan gembong narkoba yang memasok drugs ke lingkungan kulit hitam! Belum lagi kolaborasinya dengan Ice Cube yang menyerukan generasinya untuk membakar Hollywood (“Burn Hollywood Burn”) karena merepresentasikan portrait kulit hitam sebagai jongos dan lawakan di film-film nya, kemudian yang paling kusut adalah celetukannya yang menyebut dunia kacau gara-gara settingan zionis Yahudi (“Welcome to the Terrordome”).

Yang paling dahsyat album ini dicatat dalam sejarah adalah bagaimana the Bomb Squad (Hank dan Keith Shocklee, Carl Ryder dan Eric “Vietnam” Sadler) membuat lirik Chuck D dan Flav semakin membakar. Dengan jumlah 20 pada tracklist, PE tidak menyia-nyiakan sedikitpun ruang untuk mediocrity, sesuatu yang biasa-bisa, bahkan intro dan skit sekalipun. Sejak intro “Contract On The World Love Jam” dimulai hingga album ditutup dengan single legendaris mereka “Fight The Power”, album ini bukan saja magnum opus PE namun pula sekaligus momen paling menakjubkan dalam sejarah hiphop pada saat itu, dan mungkin hingga hari ini. Jika kalian tak suka liriknya sekalipun, kalian bisa pura-pura gak ngerti bahasa inggris dan nikmati saja musiknya. Karena memang album ini menawarkan keajaiban dunia sonik yang hampir tak ada padanannya sampai sekarang. Funky Drummer-ish beats ala James Brown dikawinkan dengan noise yang dilahirkan paksa lewat sampler. The Bomb Squad di album ini memang mencapai peak-nya dengan tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan teknologi setelah dua album sebelumnya dibuat dengan sampler low tech. Sampler paling high-end di zamannya membuat Shocklee cs memproduksi lebih buas lagi jeep beats neraka khas mereka tanpa meninggalkan karakter musik dari dua album sebelumnya, suara sirine, pluit, saksofon blast, dan noise-noise aneh, bahkan suara ketel nyaring sekalipun tetap hadir.

Mereka tetap mempertahankan formula sample ber-layer-layer, hingga loop individual-nya akan sulit diindentifikasi sumbernya oleh pendengar biasa, dan tentunya menghasilkan komposisi suara baru. Jika ada album abad 21 yang bisa mengilustrasikan logika post-modern “mengambil dari berangkal dunia lama dan mengkolasenya menjadi sesuatu yang baru” maka album ini lah wujudnya yang paling keren. Beruntunglah album ini dibuat sebelum undang-undang sampler dirancang sehingga mengizinkan Bomb Squad men-sample apapun yang mereka ingin sample, dari gitar Prince hingga beat Issac Hayes, dari Funkadelic, The Meters, Diana Ross, Sly & the Family Stone, Hall and Oates, The Commodores hingga lick gitar Uriah Heep. Mereka men-sample hampir apapun, sehingga album ini bisa didengar ratusan kali dan mendengar suara berbeda setiap kali kalian mendengarnya. Silahkan dengar lagi jika tak percaya. Mereka tak hanya menunjukkan bagaimana memaksimalkan sebuah alat bernama sampler, namun pula membuat hiphop menjadi state of art tersendiri.

Mereka pula pada album ini benar-benar mengakhiri kebosanan ala old-school hiphop yang mengulang-ngulang sample yang mudah teridentifikasi diganti dengan white noise antah berantah yang dikonstruksi dari kolase suara diambil dari rekaman lain. Bomb Squad membuat sebuah formula album tanpa terdengar formulaic. Hingga skit 1 menit sekalipun seperti “Reggie Jax” dan “Meet the G That Killed Me” serasa sebagai bagian dari album bukan hanya filler pelengkap belaka. Bahkan ketika Terminator X hanya mempertontonkan skill turntable nya saja di track “Leave This Off Your Fuckin Charts”, it’s still fresh as hell!. Di jaman para DJ masih menata rapih komposisi scratch-nya, ia dengan brutal-nya mengkomposisi track iseng di satu menit terakhir lagu “Power to The People”, dan ini dieksekusi jauuuuuuh hari sebelum The X-ecutioners datang. Tak hanya itu, mereka pula yang mempelopori perubahan besar dalam mengkomposisi struktur lagu hiphop dimana mereka melahirkan lagu-lagu yang sama sekali keluar dari pola pop verse-chorus-verse dan bereksperimen dengan komposisi-komposisi aneh namun tetap goyang dan funky-cold. Hanya sedikit grup rap yang memproduksi album yang sempurna tanpa cacat seperti ini. Bahkan 20 tahun kemudian…, “Fear of A Black Planet” remains remarkably timeless!.

Album ini begitu dahsyatnya sehingga jika harus disingkat seluruh karir PE dalam 3 album pertama dan berakhir di album ini lalu mereka bubar, sama sekali tidak masalah (paling yang akan disayangkan mungkin tidak akan ada kolaborasi revolusioner mereka dengan Anthrax di album Apocalypse 91). Dengan “Fear of…”, Public Enemy membuat wajah dan perilaku hiphop tak pernah lagi sama, mungkin persis dengan analogi Flavor Flav yang membawa-bawa jam dinding sebagai kalungnya untuk mengglorifikasi shout nya yang terkenal “Yo Chuck! You know what time it is?”, bahwa propaganda yang baik adalah propaganda yang membuat kalian berdansa, dan dengan sebuah album klasik pesan mereka akan selalu relevan, 20 tahun bahkan hingga 100 tahun ke depan; Fight the power in 1990, fight it today! (MV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here