Got More Rhymes Than I Got Grey Hairs: RIP Adam Yauch

Selain ribut-ribut Pemilu yang pemenangnya itu-itu juga di jaman Orba. Gol tunggal Ribut Waidi di final SEA Games, tak banyak yang saya ingat di tahun 1987. Yang pasti itu tahun pertama masuk SMP, ingat persis karena saya diizinkan Bapak membeli dua buah kaset sebagai hadiah kelulusan SD. Saya sedang memandangi salah satunya. Cangkang kasetnya berbentuk plastik gendut yang tidak lazim untuk ukuran cangkang standar. Tidak muat ditaruh di wadah kaset normal.

Entah apa ada hubungannya dengan tuntuan Bob Geldof terhadap pemerintah Indonesia untuk menghentikan pembajakan musik (kaset) di Indonesia saat itu, yang pasti setelahnya casing model begini lebih populer dari cangkang plastik bening yang biasa/sebelumnya beredar. Tertera 1987 dibawah tandatangan. Mengingatkan sebuah ritual wajib mencoreti sampul segera setelah membeli sebuah kaset. Di bawahnya lagi biasanya ditambah nama-nama alias sok hip-hop yang luar biasa epik jika dibaca lagi; Rap Master Cox, Dirty ‘Rap’ Herry, Herry Boogaloo dan lain sebagainya. (Oke, kalian boleh tertawa dan nyela-nyela).

Saya ingat untuk menyetelnya saya harus bersaing dengan kakak sepupu yang menguasai boombox dengan Eddie Gombloh, Yopie Latul dan Endang S. Taurina. 1987, artinya terlambat satu tahun kami di Indonesia mendapatkan Licensed to Ill. Tentu saat itu saya tak pernah menyadarinya dan tak pernah peduli. Semua kaset yang dibeli di era itu selalu saya anggap baru rilis. Di era tanpa pencerahan internet, membeli album terlambat 5 tahun sekalipun harus patut di syukuri.

Saat itu hip-hop belum populer disebut hip-hop. Seringnya; Rap. Umurnya masih sangat muda sebagai aliran musik, lebih lama sedikit dari hitungan mundur hari ini ke hari pertama Bakrie buang muka dan buang tahi soal lumpur Lapindo. Struktur dan flow lirik rap era itu masih sederhana. Rima multi-silabel nan kompleks baru datang dalam bentuk Rakim dan Kool G Rap dua tahun kemudian. Begitu pula rap politis super-serius yg dibawa Public Enemy. Bagi para penggemar rap yang kemudian memutuskan untuk mengambil mic dan belajar nge-rap saat itu, sangat tidak mungkin tidak terpengaruh Licensed to Ill. Karena bicara mengonsumsi musik rap di lokal saat itu hanya akan berhenti di tiga figur; Run DMC, LL.Cool.J dan Beastie Boys. Kecuali jika kalian menghitung lagu-lagu rap KW-an seperti “Wham Rap”€- nya George Michael sebagai musik rap, itu beda perkara.

Sampai satu dekade kemudian, saya tak pernah menyadari betapa album ini berpengaruh bagi saya pribadi untuk memutuskan mencoba nge-rap. Seperti halnya ABG labil lain, saya tak pernah mengerti betul apa yang dikatakan para rapper di lirik mereka. Apalagi hal-hal detil lain, misalnya Kerry King menyumbang solo di lagu “€œNo Sleep Till Broklyn”€ atau sample yang mereka pakai pada lagu “Rhymin and Stealin” adalah gitar Black Sabbath dan drumbreaks dari Led Zeppelin.

Saya sama sekali tidak peduli, paham bahasa Inggris saja tidak apalagi tahu bahwa ada metode bernama sampling. Yang penting bagi saya lagu itu asik, enerjik dan cocok dipasang pada boombox yang biasa dibawa nangkring ke lapangan volley di kompleks perumnas di sore hari tempat para anak muda kongkow. Dalam kata lain, jika alasan tertarik dan memasang rap saat itu adalah ritme dan iramanya yang begitu enerjik maka tidak aneh jika Licensed to Ill menjadi pilihan utama dalam hal memberikan sesuatu yang berbeda. Rap yang diusung Beasties tak pelak merupakan keanehan tersendiri sekaligus memiliki keliaran berbeda dari musik rock saat itu. Mereka berkulit putih dan tidak berusaha menjadi hitam gara-gara musik yang mereka usung. Mereka begitu serius untuk menunjukkan ketidakseriusan mereka.

Dengan imaji hura hura, slebor dan sembarangan mereka membuka jalan bagi apapun diluar imaji dan musik yang sudah ditawarkan Run DMC dan LL. Meski bernuansa sama dengan album pada zamannya (meninggalkan corak elektro disko ala musik breakdance, mulai mengadopsi rock dengan big-beat minimalis), Licensed to Ill memiliki kebinalan spesial yang sulit dijelaskan. Silakan bandingkan “Walk This Way”€ dan “€œFight for Your Rights to Fight to Party”€. Tepat di bagian ketika mereka berseru “...to paaaaaarteeeeee” itu ada sejenis ugal-ugalan mistis yang membedakan mereka dengan RUN DMC meski sama-sama mengadopsi rock-n-roll. Dalam videonya bahkan mereka memperolok glam rock jauh hari sebelum orang-orang menyadari betapa buruknya genre itu. Sejalan dengan waktu, musik mereka berubah. Namun Beasties hanya salah satu saja dari sedikit saja grup musik yang berkembang bersama umur fansnya. Meski saya garuk-garuk kepala saat Paul’s Boutique datang saya paham ada sesuatu disana. Mereka memproduksi musik yang melampaui zamannya.

Baru beberapa tahun kemudian saya menyadari betapa luar biasanya album itu. Hingga hari ini totalitas dan kompleksitas kolase sample pada Paul’s Boutique hanya bisa ditandingi oleh Fear of A Black Planet milik Public Enemy yang keluar setahun setelahnya. Check Your Head datang tiga tahun kemudian. Undang-undang sample yang membuat mustahil memproduksi album super-kolase seperti Paul’s Boutique dengan murah, memaksa mereka kembali memungut alat musik mereka dan berakhir menghasilkan album yang luar biasa keren. Ini album Beasties pertama yang dalam proses menikmatinya saya tidak sendirian. Saya ingat persis kali pertama menikmatinya di kamar Adi dan Udi, kembar jahanam dari Pure Saturday. Ingat bagaimana kami berloncatan menikmatinya terlebih ketika “Time for Livin'” lewat. Mengejutkan bagaimana mereka kembali mengikutsertakan akar musik punk mereka sekaligus mengekplorasi funk dan tetap menghasilkan album yang masih sangat hip-hop.

Ill Communication datang beberapa tahun kemudian berupa versi lebih sempurna dari Check Your Head. Ingat persis suatu hari pulang kencan mengendarai motor bebek 70 di daerah Sukajadi dengan headphone di telinga memutar “Sabotage.” Saya menghajar sebuah motor yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang. Tergeletak dijalan dikerubungi orang-orang dengan headphone masih melekat di kuping lengkap dengan teriakan Adrock “Listen all yall its a sabotaaaaage”,€ itu sungguh pengalaman absurd yang sulit dilupakan. Mereka kembali mengejutkan dengan Hello Nasty di era Indonesia ribut-ribut dan bakar-bakaran. Saya ingat mendengarkannya pada walkman bersama Robin Puppen sepanjang jalan Bandung-Jakarta untuk merekam lagu pertama Homicide di sebuah studio di Pulo Gadung. Pula saat mereka kembali ke akar hip-hop mereka pada album To The 5 Boroughs dan album terakhir mereka tahun kemarin, Beastie Boys tetap melahirkan inovasi yang konsistensinya jarang ditemukan pada grup dengan perjalanan karir seusia mereka.

Beberapa malam lalu Adam Yauch alias MCA meninggal dunia setelah berperang dengan kanker sejak 2009. MCA adalah figur penting dalam Beastie Boys, dengan ide-ide gilanya, visinya yang direfleksikan pada video-video mereka bisa dibilang ia merupakan frontman tidak resmi dari grup ikonik ini meski kita tahu mereka tak pernah punya frontman. Karakter gruff dari suaranya tentu standout diantara dua suara cempreng Mike D dan Adrock.

MCA pula seorang figur yang memiliki banyak sisi menarik sebagai seorang individu. Ia mendirikan Oscilloscope Laboratories, yang merilis film-film indie menarik seperti dokumenter Banksy Exit Through The Gift Shop. Memproduseri album comeback Bad Brains Build A Nation dan menggalang konser Free Tibet dengan membawa Dalai Lama ke Loolapalooza. Sungguh menarik menyaksikan transformasi dirinya dari seorang frat boy yang total ignoran menjadi seorang aktivis kemanusiaan. Pelajaran menarik yang bisa didapat generasi kita dari sebuah budaya populer. Ketika New York galau dan marah pasca 9-11, MCA lah orang pertama di Beastie Boys yang mengutuk kekerasan dan diskriminasi terhadap muslim di kota itu dan bersama musisi lainnya menggalang konser New Yorkers Against Violence untuk mengkounter proses epidemi stereotyping arab dan muslim sebagai teroris dan mempromosikan perdamaian. Ia pula kemudian bergabung di aksi protes anti-perang terbesar sejak perang Vietnam, menentang kebijakan Bush menyerang Timur Tengah. Bahkan yang mengagumkan, di antara sakitnya, terapi kanker, operasi dan kemoterapi, Yauch masih menyempatkan diri bergabung di aksi Occupy Wall Street, berdemo di atas Brooklyn Bridge akhir tahun kemarin.

Beastie Boys sudah dipastikan akan berakhir persis seperti Run DMC. Karena posisinya persis seperti Jam Master Jay almarhum, tak akan pernah tergantikan. Namun seperti halnya grup musik hebat lainnya, mereka akan tetap hidup dalam imortalitas. Ada perasaan aneh lewat ketika saya mendapat kabar itu. Rasanya seperti ada kawan lama pergi dan sebagian memori masa muda kalian dibawa serta. Aneh, karena saya tak pernah mengenalnya secara personal. Bahkan saya terlalu miskin untuk menonton mereka ketika mereka datang ke Jakarta bersama Sonic Youth dan Foo Fighters di tahun 1996. Mungkin karena musik mereka terlalu dahsyat dan kadung menjadi bagian hidup yang penuh cerita.

1987. It was the first year of recognizing we all had to fight for the rights to party, a long years before I knew that we also need party for our rights to fight. Long long years before I knew we dont really need party at all to fight for the cause. Perjalanan panjang yang menyenangkan bersama musik mereka.

Selamat jalan bung Yauch. Thanks for making my teenage years exciting, convincing me to pick up the mic, showing us how to grow old in steady coolness, living life to the fullest and being human at the same time. (MV)

 

Boutique Beats: A Tribute to MCA by Chris Read (Musicofsubstance) on Mixcloud

05yauchobit3

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here