Matt “Doo” Reid (1971-1998): Ilustrator Yang Memberi Marka Visual Hiphop 90’an

“I dedicate this to Matt Doo (thank you), My name is El-P, I produce and I rap too”
-El-P “Turned Mass Dumper”

jstlkniMatt Doo adalah contoh sederhana mengapa karya-karya visual menjadi bagian dari pengalaman mengkonsumsi musik di era 90an. Bagaimana ia menjadi potongan memori yang mengawal passion saya terhadap hiphop di era digital seperti sekarang ketika informasi sudah begitu mudah didapat dan format fisik sudah tak begitu punya peran penting dalam keseharian mengkonsumsi artefak kultural seperti musik.

Bagi saya personal, akhir 80-an dan awal 90-an, masih bukan era yang bersahabat bagi siapapun yang menggemari hiphop dan berusaha setengah mati mendapatkan rekaman dan informasi seputar musik yang ia tergila-gila terhadapnya. Jika teman kanan-kiri kalian saat SMP dan SMA yang fans metal dan punk saja berjibaku, bisa dibayangkan bagaimana mendapatkan rekaman hiphop di zaman itu, terlebih majalah yang secara spesifik memberitakan update-update terkini, nyaris mustahil.

Ada sebuah toko di bilangan Jalan Riau, Bandung yang eksis hingga akhir 90an, bernama Toko Q-ta yang menjual beragam majalah impor. Pada suatu hari saya sengaja menemani seorang kawan yang hendak membeli majalah metal Kerrang!. Di antara majalah-majalah itu terselip satu majalah menarik dengan sampul yang cukup bisa dibilang sama sekali tak ada urusan dengan metal; Boogie Down Productions! Ini pasti majalah hiphop. Saya langsung membuka plastiknya meski ada secarik kertas tertempel pada rak yang melarang membuka plastik; “Membuka Berarti Membeli”, meski hanya hanya ada lima ribu rupiah di saku. Saya cukup paham bahwa pengalaman langka ini tak bisa saya skip tanpa kenekatan. Saya digiring satpam ke kounter informasi dan menandatangani perjanjian untuk membeli majalah itu dengan jaminan kartu pelajar ditahan hingga keesokan harinya. Cara ini kemudian selalu saya pakai untuk memesan majalah tanpa harus memberi uang muka. Di majalah itu ada sebuah ilustrasi yang tak bisa saya lupakan hingga hari ini, gambar komikal seorang b-boy dengan tulisan Fight The Power dan Bush Killer menyelip. Di bawahnya tertulis nama sang ilustrator: Matt Doo.

Matt Doo, yang aslinya bernama Matty Reid, adalah seniman otodidak jalanan, alumni generasi bomber graffiti, salah satu elemen hiphop, di era 70-80an. Matt, seperti kebanyakan anak muda di urban ghetto kala itu mengenal senirupa dari graffiti yang tumbuh sepaket dalam kultur hiphop yang lahir dari fenomena ruang publik, pesta-pesta taman ketika penghuni kota kumuh tak punya akses pada tempat-tempat hiburan. Dinding-dinding kota ketika penghuni kota tak punya akses pada pusat-pusat kebudayaan dan kanvas-kanvas konvensional.

Dalam kata lain seperti halnya generasi muda kala itu, Matt Doo bermain dengan cat semprot dan marker. Ia mulai bereksperimen pada wilayah ilustrasi di era 80-an akhir. Penampakan pertamanya adalah pada majalah Beat Down yang saya beli dengan uang jajan sebulan itu. Pada saat ilustrasi itu dimuat, Matt mulai mendirikan studio main-main “Dooable Arts” bersama rekannya Gerard “G-Young” Young.
93-bush-killer-beat-down-dec-93Ia mengerjakan hampir apapun, dari ilustrasi demo tape, poster gig, mural hingga ilustrasi backpatch yang kala itu populer di kalangan B-Boy dan Geng Jalanan di NY. Pengaruh graffiti yang kuat pada karya-karya Matt bisa dilihat dari cara ia membuat tipografi dan mewarnainya secara gradient memakai warna-warna menyala, yang juga ia pakai pada medium berbeda selain yang biasa dipakai dalam graffiti konvensional.

Ilustrasi Matt Doo untuk Rappages

Pengaruh kuat graffiti juga dapat dilihat cara ia menggambar karater-karakter kartun/komikal yang banyak terpengaruh generasi pertama bomber kereta NY, seperti Seen dan Dondi. Karakter gambar Matt sangat khas seperti halnya drawing para bomber ketika menggambar karakter pada tembok-tembok, sosok dengan kaki melebar, bergaya “b-boy stance” dan garis-garis kaku yang seolah dibuat dengan marker berujung lebar dan pipih.

Karya-karya sketsa karakter di tahun-tahun pertama Matt sering dipakai pada sampul-sampul demo tape dan mixtape di awal 90-an. Ada nuansa primitif yang menyengat dari gambar-gambar itu, seolah mewakili abrasifnya hiphop di era sebelum membesar dan dikooptasi industri di kemudian harinya. Misalnya saja, sampul untuk sampul Total Pack yang dirilis label DIY kala itu Packhouse Music di tahun 94 (Dirilis ulang tahun ini dengan gambar sampul yang sama), juga sampul demo (teaser) tape untuk Craig Mack sebelum album ‘Project Funk Da World’nya itu dirilis Puff Daddy tak lama kemudian.

doo_2Nasibnya seketika berubah ketika pada suatu hari ia nekat menghampiri Prince Po dari grup legendaris Organized Konfusion yang kala itu hendak merilis album keduanya. Organized Konfusion pada era awal 90an sedang naik daun sejak debutnya dirilis. Mereka mencari ilustrator untuk album yang sedang mereka garap dan di kemudian hari menjadi album mahakarya mereka, ‘Stress: The Extinction Agenda’. Kabar itu sedemikian rupa sampai ke telinga Matt. Prince Po bercerita pada sebuah wawancaranya, Matt menghampirinya pada sebuah gig dan mempromosikan dirinya yang nampaknya apa adanya. Ia adalah tipe seorang fans hiphop yang jalan dari satu bagian kota ke bagian kota lain hanya untuk melihat acara yang sering diadakan di taman-taman kota. Dalam bahasa Po “He was the true sense of that dude who was in a cypher absorbing the entire culture” Ia meyakinkan Po bahwa ia adalah orang yang cocok untuk menangkap ruh dari rekaman Organized Konfusion dan menuangkannya pada kanvas.

doo_3Hasilnya seperti yang kita lihat ketika album tersebut dirilis. Dilukis dengan cat minyak diatas kanvas berukuran 30″x30″, Matt memberikan ilustrasi sempurna dari album ‘Stress: The Extinction Agenda’ yang super-maniacal, baik dari segi artistik lirikal maupun tema. Dengan karakterisasi komikal khas-nya ia mendeskripsikan dengan tepat secara visual bagaimana egotrip dua MC Organized Konfusion, lengkap dengan elemen gambar yang biasa ia pakai; kosmos galaksi pada tubuh Po, dan tokoh-tokoh kulit hitam pada tubuh Monch, lahar yang mengalir dari urban ghetto, dan yang istimewa adalah kolase objek yang ia tempel rapat dibawahnya. Ini mengingatkan pada ilustrasi ala Larry Caroll yang melukis sampul-sampul mahakarya Slayer, terutama Reign In Blood. Polisi, arloji bertebaran, uang, barcode, speaker, potongan tajuk utama koran, mikropon, isi perut, objek-objek yang secara sublim mewakili nyawa dari tema inti album ini; upaya bertahan hidup di sebuah lingkungan yang tak memungkinkan manusia normal hidup.

Organized-Konfusion-Stress-The-Extinction-Agenda-Front

Sampul album itu kemudian membawanya ke karir yang memungkinkan ia dikenal lebih banyak orang, ketika menjadi ilustrator tetap untuk Rappages, sebuah majalah yang juga besar dan populer di tahun 90 hingga akhirnya bubar tahun 99. Saya tak akan pernah lupa gambar-gambar ilustrasi itu, bukan hanya karena Rappages dan The Source yang menjadi sumber informasi untuk hiphop circa 90-an bagi kami di Indonesia, tapi terlebih karena pula ilustrasi itu sangat menarik perhatian.

Yang paling menonjol adalah ilustrasi pengantar profil Mobb Deep pada isu Maret’95 ketika Mobb Deep merilis album legendarisnya ‘The Infamous’, pula pada edisi Juni’95 sebagai pengantar artikel Outkast ‘Benz and Beamer’. Tak banyak yang berubah, garisnya masih seorganik buku sketsa graffitinya, karakter komikalnya masih dominan dan masih merefleksikan sesuatu yang sering ia lihat di jalanannya. Puncaknya mungkin ketika ia menggambar untuk sampul majalah edisi ulangtahun Rappages tahun 1996.

doo_4Ia kembali melukis untuk salah satu album bersejarah dalam milestone hiphop di akhir 90an. El-P yang merupakan fans karya-karya Matt memintanya untuk membuat ilustrasi untuk album Company Flow, sebuah grup hiphop avantgarde yang dobrakan eksperimentalnya menjadi perhatian scene hiphop NY yang mengalami stagnansi akut di pertengahan 90an.  El-P meminta Matt berkolaborasi dengan Ewok, bomber graffiti legendaris NY lainnya untuk menggambar sesuatu diluar kebiasaannya, karena mungkin bagi El-P album “Funcrusher Plus” ini bersuara diluar ‘kebiasaan’ hiphop kala itu. Matt menggambar sebuah scene yang sok sci-fi dengan figur monster/alien yang sedang berpesta dengan tubuh terbakar pada lanskap yang apokaliptik. Dengan karakter dan warna yang ia pakai, ilustrasi tersebut jauh dari kesan menyeramkan. Sebaliknya, ia menggambarkan keabsurdan yang riang dan keriangan yang absurd meski tetap ‘mentah’ dan ‘brutal’. Mirip seonggok kereta tua yang diwarnai cat semprot dengan blockbbuster warna menyala di tengah kota kumuh yang kesan estetis garis dan warnanya menyatu dengan atmosfer lingkungan sekelilingnya.

Saya ingat ketika pertama kali membeli dan mendengarkan album “Funcrusher Plus” ini tahun 1998, kami tak hanya takjub dengan musik dan rima Company Flow yang sungguh anomali pada zamannya, tapi juga tak henti-hentinya melihat sampul album yang sangat tak lazim untuk sebuah album hiphop. Kombinasi musik dan visual yang abnormal memberikan kesan aneh tersendiri dalam menikmati album itu, tanpa harus terdengar keluar dari hiphop orthodoks.

cofolow-funcrusher

Setahun kemudian, ia menghasilkan karya sampul album terbaiknya, namun justru tidak terlalu terkenal; kompilasi ‘Tags of Times’. Penggayaannya semakin sempurna dan khas, pula mulai banyak ditiru ilustrator lain. Ilustrasi ini melukiskan sebuah cypher, kumpulan/tangkringan tradisi para MC ketika bertukar freestyle, dilukiskan di tengah hutan dalam sebuah kamp raksasa, yang ornamen anehnya tak bisa saya lupakan; kondor bertengger.

98-various-artists-tags-of-the-times-compilation

Berselang tak lama ia membuat sampul album untuk ‘Tags of Times’ volume II yang lebih banyak mencampurnya dengan teknik kolase. Teknik yang banyak orang berharap Matt melakukannya lebih sering karena memang mungkin kesan chaos, absurd sekaligus ‘nyata’ yang didapat dari karyanya seperti itu sangat cocok dengan lirik-lirik rap puitis ala Rawkus records, sebuah label independen yang kala itu sedang populer.

 

99-various-artists-tags-of-the-times-version-2-0-compilationMatt Doo, tanpa disangka siapapun saat itu, memutuskan untuk bunuh diri pada tanggal 12 Desember 1998. Saya mengetahui kabar tersebut beberapa bulan setelahnya. Nyaris tak ada informasi apapun tentang apa latar belakang ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sedemikian rupa. Ini sama sulitnya mencari informasi mengenai Matt dan karyanya di media-media kala itu, termasuk di internet yang mulai populer disini. Hingga hari ini pun, profil Matt hanya bisa ditemukan di beberapa blog dan majalah lama.

Namun nama Matt Doo, tak hanya immortal karena karya-karyanya. Beberapa rappers, yang besar dan banyak dibantu oleh karya-karya Matt, memberi tribut dalam lagu-lagu mereka, dari El-P, Talib Kweli hingga Prince Po. Karya Matt tak hanya memberikan visualisasi album bagi para rapper yang ia buatkan sampulnya, tapi juga memberi marka visual bagi hiphop di 90an, dan tentunya bagi kami para fans, membuat pengalaman membeli album fisik tak terlupakan dan menyenangkan. Dan tepat 25 tahun lalu saya mengenal karyanya, nampaknya ini waktu yang tepat untuk memberi tribut bagi salah satu ilustrator yang karyanya menemani lebih dari setengah hidup saya besar bersama hiphop.

Rest in Power, Matt Doo.

*Ditulis untuk Penahitam Zine #4 beberapa waktu lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here