Album Hiphop Terbaik 2011

Tahun 2011 nampaknya akan berakhir sebagai tahun yang menarik untuk hiphop. Pertama sekali karena fenomena banyaknya album keren dari pelosok dunia yang mulai terekspos. Trem dari Australia, Torae dari Kanada, Opgezwolle dari Belanda, La Rumeur dan Kalash L’Afro dari Perancis diantaranya, meski agak sulit untuk menyamakan kualitas progresifitas dan keotentikan album secara keseluruhan dengan album-album dari Mekah-nya genre ini di Amrik sana.

Hiphop tahun ini nampaknya harus berterimakasih pada trend kolaborasi dan pembentukan ‘supergrup’ yang sedikit menyelamatkan kejumudan genre ini yang berjangkit di satu dekade terakhir. Memang kolaborasi dan supergrup yang lahir tak selalu menghasilkan album yang bagus, namun paling tidak, ada kesempatan untuk mencoba, membuat progresifitas terutama pada kasus kolaborasi antara para veteran dan generasi MC/DJ baru.

Namun entah apa hubungannya, tapi rasanya ada yang cukup aneh, di tengah maraknya keriaan kolaborasi silang, grup-grup lama tak lagi membuat album (bagus) dan sedikit saja yang grup baru yang menghasilkan album yang bisa dicatat sebagai debutan keren. Mungkin saking sibuknya para anggota grup berkolaborasi, mereka agak mengistirahatkan aktivitas grup mereka. Entahlah.

Tanpa harus berpanjang-panjang, berikut adalah sejumlah album yang saya pilih sebagai yang terbaik tahun ini. Hasil sebulan lebih menyortir setumpukan CD dan bertumpuk-tumpuk folder mp3 sambil menunggu minggu-minggu terakhir tahun ini habis agar tidak kecolongan, berjaga-jaga barangkali saja album-album mahakarya dirilis di penghujung tahun dan tak sempat dipasang seperti kasus The Left tahun lalu. Semoga bisa menjadi panduan penyelamat dari epidemik Watch the Throne dan luxury hiphop sampah yang terkutuk. Amin. (MV)

 

10. Pete Rock & Smif N Wessun – Monumental
MONUMENTAL-coverAlbum proyek kolaborasi produser ikonik 1990-an Pete Rock dengan duo legendaris Smif & Wessun ini bisa menjadi obat pengganti kekecewaan akibat tak menentunya album kolab Pete Rock dan DJ Premier yang entah dirilis kapan. Kombinasi soulful boombap ala Pete Rock dan rima ortodoks NY ala Boot Camp (dimana Smif & Wessun menjadi bagiannya), merupakan jaminan yang tak hanya bagus di atas kertas. Belum pula ditambah rhymesayer dari NY lainnya yang bertamu, dari Styles P, Sean Price & Rock dari Heltah Skeltah, Buckshot dari Black Moon hingga Raekwon!

Agak aneh mendengar karya Pete Rock di album ini yang bersuara mirip Premier dalam mengkomposisi chopped samples, entah mengapa ia tak begitu banyak melakukan lagi ciri khasnya mengkonstruksi bangunan instrumental dari berlayer-layer samples seperti album-albumnya di tahun 1990-an. Tapi apapun itu, album ini patut pajang di list ini karena kesolidannya sebagai satu kesatuan album, memutarnya tanpa harus men-skip satu track pun dari awal hingga akhir. Its not a throwback record, its hiphop in 2011 with 90s soul and spirit.

 

09. Pacewon & Mr. Green – The Only Color That Matters is Green

pacewon-coverBelajar dari kesalahan tahun kemarin yang begitu saja melewatkan album mahakarya seperti ‘Gasmask‘ milik The Left karena malas di era cyber, tahun ini saya menggali Google untuk album hiphop independen lebih dalam dari tukang gali kubur. Dan usaha saya tidak sia-sia.

Beberapa album super keren yang tidak tertangkap radar berhasil dikarungi dan memudahkan saya untuk memutuskan CD fisik apa saja yang harus saya beli tahun ini, lebih strategis ekonomis karena dompet semakin menipis. Green adalah seorang beatmaker paling underrated di NY. Karakter beat-nya yang super boombap mungkin kurang populer untuk generasi sekarang yang kebanyakan mendengar beat tipis yang dibuat dari soundbank software-software komputer ala southern beat. Ia sudah merilis tiga album instrumental yang super paten. Namun album ini lebih dari paten.

Chuck D berujar di tahun 1989 “beat is the father of your rock n roll“. Dengan kesederhanaan album-album hiphop klasik (sebut ‘Criminal Minded’ hingga ‘Low End Theory’) yang menumpukan kekuatan pada beat, beat, beat dan tentunya beat, Green membuat album seminal yang merepresentasikan kekuatan beat boombap pada hiphop yang semakin melenyap. Hampir semua lagu ber-template sama; menghindari ornamen berlebihan yang bisa merusak suara beat kotor dari MPC terasa menendang dada, hanya satu chop sample dalam satu lagu yang ia ulang-ulang bahkan scratches sekalipun miskin tampil di album ini. Namun Green memang terkenal dalam memilih hook yang cocok untuk di-chop hingga pengulangan metode ini sama sekali bukan masalah. Pacewon sendiri adalah seorang MC yang selama ini tak begitu saya lirik, karena memang biasa-biasa. Namun performanya di atas track-track buatan Green cukup impresif. Album ini dirilis secara DIY oleh Green sendiri. Didistribusikan di beberapa online store minor. Namun bukan berarti album ini biasa-biasa, dengan sedikit saja pertimbangan, album ini berhasil membuat saya menyingkirkan album kolaborasi Ill Bill/Vinnie Paz dan rilisan terakhir Pharoahe Monch dari list 10 besar ini.

 

08. Action Bronson – Dr. Lecter

lecter-coverDari salah satu crew terpanas NY tahun ini (Outdoorsmen) muncul MC terpanas yang me-rep NY sebagaimana seharusnya NY di-rep. Sebelum aksinya meledak, Action Bronson merupakan seorang koki profesional terkenal di Queens NY, dan nekat menghentikan karir memasaknya untuk serius menggarap album debut ini dan  membuatnya langsung melejit sebagai MC yang paling banyak dibicarakan hiphop purist setelah Roc Marciano di tahun 2011.

Seperti yang banyak dibilang orang, Bronson memang nyaris mirip dengan legenda Wu, Ghostface Killah dalam banyak hal. Dari delivery, vocal pitch hingga flow, bahkan breath control-nya sekalipun. Action Bronson membuktikan tak harus berlagak thug untuk menghasilkan album banger, rima bernuansa jalanan (meski kebanyakan ia selalu membicarakan tentang makanan) dan energi 1990-an. Diproduseri oleh beatmaker antah berantah bernama Tommy Mas, ‘Dr.Lecter’ ini bersuara mirip album-album klasik Marley Marl and the Juice Crew. Rolling drum, bassline ala 3rd Bass, dan overall sound ala Beastie Boys era ‘Paul’s Boutique’ memeriahkan album ini. Its simply a gritty album of streetcorner shit-talk tanpa nuansa nihilistik ala Mobb Deep. Mandatory cop!

 

07. Beastie Boys – Hot Sauce Committee

capa-beastie-boys2-coverGrandpas are back on the kuttt. Grup legendaris, satu-satunya veteran era Def Jam 1980-an yang tersisa yang masih merilis album bagus konstan. Pasca Adam Yauch di vonis kanker dan menjalani pengobatan, akhirnya album ini jadi juga dirilis dengan embel-embel Part.2 sebagai pembeda dengan versi sebelumnya yang telah banyak diotak-atik sedemikian rupa.

Bersuara di antara album ‘Hello Nasty’ dan ‘To The 5 Boroughs’, tanpa harus berpanjang-panjang menjelaskan, ini album hiphop terpenting yang dirilis tahun ini, meski bukan yang terbaik. Terutama dengan hadirnya Nas di satu lagu (mengingat jarang sekali Beasties mengundang MC lain hadir di track mereka). Today’s banger, future classic. Period.

 

06. Hasaan Mackey & Apollo Brown – Daily Bread

dailybread-coverApollo Brown adalah figur penting di belakang suksesnya The Left tahun kemarin. Ia memproduseri semua beat dalam album ‘Gas Mask’. Jadi tidak terlalu sulit bagi saya untuk memilih album kolaborasinya dengan Hasaan Mackey ini, seorang MC yang dulu juga sempat mencuri perhatian di salah satu track pada album The Left tersebut.

Dengan formula yang sama, Brown memoles hampir semua track dengan sentuhan khas-nya: sample soul dari katalog era Motown 1960-an, dipotong-potong, dikomposisi ulang, di-chop sedemikian rupa ditambah beat boombap di atasnya hingga menghasilkan track yang luar biasa head-nodding dan adiktif. Pengaruh dua orang inspiratornya (J-Dilla dan DJ Premier) masih sangat terasa sepanjang album ini, which is a good thing.

Hasaan Mackey pun nampaknya dapat mengimbangi, menunaikan tugas dan menjaga nama besarnya sebagai MC alumnus Rawkus di akhir 90-an. Puncak album ini terletak saat Brown mencabik track soul legendaris milik Sam Cooke (‘Change Gon Come’) pada lagu ‘Dollar Bill Hill‘, dan Mackey mengilustrasikan kisah klasik lingkungan cadas yang membentuk karakter liar seseorang dan berharap suatu hari semua berubah. Pula pada track selanjutnya, ‘Elephant‘ dimana Mackey bertutur soal sebuah era keras dimana resesi menghantam dan pengangguran menjadi sebuah kenormalan, di atas beat dengan hook paten yang sangat Dilla-esque. Rilisan ini cukup sukses untuk membuat nama Apollo Brown terjaga sebagai salah satu produser handal penjaga gawang boombap di era Watch The Throne ngehe keblinger yang mencret itu.

 

05. Random Axe – Random Axe

randomaxe-coverDi era kolaborasi silang seperti sekarang memang harus sering membayang-bayangkan di atas kertas tim supergroup kalian. Siapa tahu jadi kenyataan. Saat pertama kali mendengar trackRun” dalam album Guilty Simpson pertama dahulu saya selalu membayangkan bagaimana jika Guilty Simpson, Sean Price dan Black Milk bikin grup. Empat tahun kemudian tak disangka-sangka tanpa banyak press release, Random Axe muncul dan khayalan tadi jadi kenyataan. Selama berbulan-bulan album ini tak pernah tersingkir dari playlist di mp3 player saya. Kolaborasi rima Sean Price dan Guilty Simpson menghadirkan kombinasi yang tak pernah terbayangkan saat mendengar album solo mereka. Humor gelap, lirik menyampah dalam flow delivery yang sudah paten khas dua MC ini.

Kecuali track ‘Somebody, Nobody, Everybody’, yang agak berkonsep naratif, semua lagu berplot sederhana; braggadocio laten. Kombinasi Hard boombap, gritty fuck-all-yall rhymes, next-level Black Milk produced beats, lengkap dengan sound sample surealis dan elemen musik timur ala Milk. No less.

 

04. Apathy – Honkey Kong

apathy-coverWhat can i say, Ap is raw and rugged.
Tahun ini mungkin tahun paling sibuk dalam karirnya, setelah merilis mixtape bersama crew-nya, Demigodz, membuat proyek Get Busy Committee bersama Ryu dari Styles of Beyond, Ap merilis album solo yang nyaris sempurna jika saja tidak terlalu banyak lagu di dalamnya, dimana hampir sepertiganya hanyalah filler doang. Total lagu album ini 23 lagu dengan rata-rata durasi 3-4 menit per lagu. Jika dirampingkan menjadi 10-12 lagu saja mungkin album ini akan terdengar tidak terlalu melelahkan dan lebih fokus (ingat Illmatic?).

Tapi apapun kelemahan Honkey Kong, ini karya terbaik Ap selama karirnya. Dari lagu kojo ‘Check to Check‘, lagu creepy ‘1:52’ yang mengingatkan pada jaman kejayaan Ice-T, hingga banger album yang diproduseri DJ Muggs, ‘Fear Itself‘. Namun hi-lite album ini terletak pada lagu kolaborasinya dengan MC West Coast liar (yang belakangan jarang terdengar lagunya dan lebih sering muncul di MTV Pimp My Ride); Xzibit. Dalam track berjudul ‘The Recipe‘, Ap dan X bertukar rima ala old-school rappers lengkap dengan musik nostalgik ala West Coast. Mari kita tunggu kolaborasi maut Apathy dengan rapper NY ter-gaspol hari ini; Diabolic yang dinantikan para purist dari taun kemaren. Konon mereka sedang membuat grup bernama Sleeper Cell dan sekarang sedang dalam proses rekaman. Cihui.

 

03. Action Bronson & Statik Selektah – Well Done

welldone-coverAlbum kolaborasi ini baru saja dirilis November kemarin, dan ternyata keren mampus di luar dugaan. Setelah mendengar kolaborasi Statik Selektah dengan Termanology, Bumpy Knuckles (Freddie Foxx) dan album solonya yang biasa-biasa saja, awalnya saya tidak mengharapkan sesuatu yang fenomenal datang dari kabar kolaborasinya dengan MC debutan paling panas tahun ini; Action Bronson.

Tak membutuhkan waktu lama setelah track pertama menarik perhatian, track bersama M.O.P ‘Time for Some‘, track sexy ‘Cocoo Butter‘ dan kojo ‘Not Enough Words‘ yang soulful, saya langsung merubah ekspektasi, ini album berpotensi klasik. Lagu demi lagu, album ini mencapai puncaknya pada track keroyokan bersama kadet Outdoorsmen lain; Mayhem Lauren dan AG Da Coroner bertitel ‘Terror Death Camp‘.

Selektah sebenarnya tak merubah apapun, gayanya yang berakar dari choppy samples ala Premier -epitome NY boombap- dengan sentuhan modern tetap ia pakai. Namun entah mengapa beat-beatnya kali ini serasa pas. Terutama setelah bertemu vokal Action Bronson yang delivery-nya konstan dan kali ini lebih intens dari album solonya, menandakan Bronson semakin matang dan semakin memantapkan gayanya dimana orang-orang sudah mulai berhenti menyamakannya dengan Ghostface Killah. Sudah beberapa minggu album ini dalam rotasi kencang. Saya yakin akan bertahan hingga beratus minggu ke depan.

 

02. The Roots – Undun

undun-coverSatu-satunya grup lawas legendaris yang konstan merilis album bagus dan tetap bersuara sama tanpa terdengar membosankan. Soal siapa mereka tak perlu banyak dijelaskan karena akan terdengar seperti melecehkan pembaca. Ini album ke 13 mereka, dan kali ini The Roots melakukan sesuatu yang agak berbeda dari biasanya, mereka membuat sebuah album berkonsep, setengah sinematik, setengah ilustratif ala Illmatic dan seratus persen epik. Undun adalah kisah seorang pria bernama Redford Stevens, yang diceritakan secara terbalik, dimulai dari saat ia seorang yang self-aware hingga menjadi seorang penjahat yang tertangkap dan berakhir tragis di hiruk pikuk urban modern. Yang menarik adalah bagaimana Black Thought, figur sentral dari The Roots, mendokumentasikan detail-detail transisi itu. Mencoba menangkap gestur harapan ala ghetto yang nihilistik, perihal bahwa keniscayaan semua itu sia-sia.

Undun adalah narasi salah arah yang berakhir terbalik dengan cerita hidup Malcolm X yang berangkat dari begundal jalanan menjadi seorang figur penting dalam sejarah perjuangan politik dan identitas African-American. Black Thought meramu kisah ini dari gabungan fiksi imajinatif dengan kisah nyata kehidupan keseharian kulit hitam di urban ghettos. Ia saring sedemikian rupa ekstraknya dibiarkan mengalir dengan ketidakberpihakan jurnalistik menghasilkan kisah yang sengaja dibiarkan agar pendengar menyimpulkan sendiri kisah moralnya masing-masing, persis seperti pertanyaan dalam lirik Raw Dice yang tampil di track ‘Tip The Scale‘; “Lotta niggas go to prison, how many come out Malcolm X?”. Secara musikal, album ini tidak se-optimis How I Got Over yang uptempo, menyambungkan soul dengan keceriaan yang bisa ditawarkan kehidupan. Undun sebaliknya, menyuguhkan palet musik yang tidak gampang dicerna semudah album-album The Roots sebelumnya, lebih mengendap, mid-low tempo, meskipun tetap menarik ala mereka.

Tiga track terakhir album ini merupakan track instrumental, salah satunya mengambil sample lagu Sufjan Stevens ‘Redford (For Yia-Yia and Pappou)’ dan membangun atmosfer dari sana. Chuck D dari Public Enemy sempat sesumbar memberi bocoran jauh hari sebelum album ini dirilis bahwa The Roots sedang membuat album Sgt. Pepper-nya hiphop. Meski saya tetap menganggap gelar itu sudah disandangkan pada ‘Fear of A Black Planet’ 20 tahun yang lalu, saya sepakat bahwa ini album The Roots terbaik dalam karir mereka.

 

01. Immortal Technique – The Martyr

The_Martyr-coverOK, here it is. Album hiphop terbaik tahun ini berwujud dalam bentuk album digital gratisan alias free download! Betul, Mr. Tech is back. Tech merupakan figure penting dalam hiphop hari ini bukan hanya karena lirik mautnya yang tersohor itu, namun juga ia merupakan representasi generasi aktivisme baru yang militant namun toleran, radikal namun merengkuh yang plural. Tech yang political as fuck namun dapat bersanding dengan street rapper manapun di muka bumi untuk tarung rima. Dengan ideologi Autonomus Marxism, Tech bisa seradikal gerilyawan anarkis Spanyol.

Setelah mixtape kolabonya dengan DJ Green Lantern 3 tahun lalu, ia pergi ke Afghanistan dan Palestina untuk kerja-kerja sosialnya membantu perjuangan lokal, Tech kembali ke NY menggarap album ini dalam waktu singkat. Ia kembali dengan kegarangan flow dan keliaran lirikal yang sama dalam pengemasan isu yang baru, meski masihdalam bentuk album kompilasi single, bukan album betulan. Kali ini departemen musik digawangi tak hanya satu produser. Green Lantern hanya membuat satu track, sisanya didominasi Southpaw, Engineer dan The Molemen.

Secara keseluruhan, album ini bersuara tidak jauh dengan ‘3rd World‘. Saya pribadi tak berharap banyak album Tech secara musikal akan bersuara seperti ‘Enta Da Stage’  atau ‘Nineteen Ninety Now’ atau bahkan ‘Apocalypse 91’, karena saya paham selera beat Tech bukan pada vintage boombap atau hardcore berisik ala NY 90’an. Ia cenderung memilih sound 2000-an yang lebih modern dan bersih. Namun untunglah ia cukup sadar bahwa memilih karakter beat kekinian bukan berarti ia harus memberikan para fans musik payah yang tak sebanding dengan kekuatan lirik monster, seperti dua album pertamanya. Dan memang lirik lah alasan paling penting mendengar Immortal Tech. Dari perihal bagaimana penindasan dilestarikan di Amerika hingga tribute untuk kamerad yang sudah tiada, kekuatan Tech tetap terletak pada bagaimana ia mengadopsi cara bertutur, penempatan punchlines dan metafora dengan begitu brutalnya dan ia lakukan dengan begitu telanjang.

Misalnya saja; “You can’t stop a revolution from breathin’/ So to beat ‘em they offer people the illusion of freedom”. Atau “A toast to the dead for criminals, burning in hell/ I wonder how many presidents are burning as well/ Emperors, Popes, Senators, Generals“. Album ini nyaris sempurna, jika saja beberapa pilihan beat tidak selemah beberapa track filler seperti kolabonya dengan Dead Prez, dan track ‘Eyes In the Skies’ yang tidak cukup keren meski mengambil sample lagu Alan Parsons Project. Namun semua cukup terobati oleh track monumental baru; dari ‘Civil War‘ yang berkolaborasi dengan Brother Ali dan Chuck D, ‘Goonies Never Die‘ bersama kamerad monsternya; Diabolic, dan tentu saja ‘The Martyr‘ yang mengambil sample string dari lagu ‘Eleanor Rigby’ milik The Beatles, dimana Tech seolah memberi nyawa baru lirik Lennon “Look at all the lonely people” dengan kesompralan seorang martir; “Guerilla war when the army is gone/ That’s the place a Martyr is born/ Mothafucka it’s on”.

Momen paling sinting album ini terletak pada sebuah track spoken words berjudul ‘Ultimas Palabras‘ saat Tech berpidato seolah-olah seperti Malcolm X dunia modern, membongkar praktek penindasan korporasi di dunia dengan detilnya dan diakhiri dengan letusan pestol dan orang-orang menjerit. Album ini dirilis tepat di hari-hari awal Occupy Wall Street dimulai, konten album yang menitikberatkan pada penindasan korporasi global serasa menambah betapa pentingnya album ini. OK ‘nuff said. Mulailah mengunduh. Kita tunggu album betulan dari Tech tahun ini, semoga.

Honorable Mentions:

  • Wu-Tang Clan – Legendary Weapon
  • Statik Selektah – Population Control
  • Thurz – LA Riot
  • Tragedy Khadafi – Thug Matrix 3
  • Kool G Rap – Riches, Royalty & Respect
  • DJ JS-1 – No One Cares
  • Bad Meets Evil – Hell The Sequel
  • Ill Bill & Vinnie Paz – Heavymetal Kings
  • Pharoahe Monch – W.A.R
  • Kendrick Lamar – Section 80
  • M.O.P – & Snowgoons – Sparta
  • Tyler the Creator – Goblin
  • yU – The Earn
  • Torae – For The Record
  • Hasaan Mackey & Apollo Brown
  • Blaq Poet – Blaq Poet Society

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here