Album Hiphop Terbaik 2012

Jumlah 15 cukup ekstensif untuk sebuah review iseng rutin akhir tahun. Tapi untuk tahun seistimewa 2012, nampaknya tetap kurang. Begitu banyak album bombastis yang seharusnya layak pajang dan ulas, terlebih sangat jarang media lokal, online atau cetak, yang meresensi album hiphop. Oleh karena itu, karena resensi ini keterlaluan panjang, nampaknya saya tak perlu lagi memperpanjangnya dengan prolog yang tak penting, kecuali mungkin; demam album kedua Kendrick Lamar belakangan agak overrated. Saya tidak bilang jelek, tapi usaha media yang menyamakannya dengan kelahiran ‘Illmatic‘ itu ngasal. (MV)

15. Aesop Rock – Skelethon
Aesop-Rock-Skelethon-coverAlbum solo pertama Aesop dalam lima tahun terakhir dan menemukan rumah baru di Rhymesayers setelah Def Jux gulung tikar. Selintas, hampir tak berubah, Aesop Rock setia dengan flow merepetnya yang kadang tenang, kadang liar. Termasuk dalam pemilihan topik yang selalu memotret dunia dengan kacamata imajinatif dan personal, abstrak yang kadang politis ala Kurt Vonnegut. Ini album terbaik Aesop sejak ia mengejutkan dunia dengan debut ‘Labor Days’ satu dekade lalu, bedanya tidak ada Blockhead atau El-P yang membantunya di departemen musik. Ia membuat sendiri beat-nya kali ini. Agak mengejutkan mendengar hasil produksinya yang sangat mirip beat El-P, terutama pada cara ia mengkonstruksi ambient dan memilih drum roll sebagai struktur ritme-nya, di hampir setiap lagu. ‘Skelethon’ bisa jadi titik-balik Aesop setelah album-albumnya pasca ‘Labor Days’ yang terdengar membosankan.

14. Mayhem Lauren – Respect The Flyshit / Mandatory Brunch Meeting
meyhem-coverMayhem Lauren keterlaluan gilanya dalam hal produktifitas. Tahun lalu ia memproduksi double album dan puluhan feature verse di mana-mana, tahun ini ia merilis dua album, satu EP dan satu full-length. Saya sempat khawatir dengan penurunan kualitas mengingat begitu masifnya preman pencinta kuliner ini memproduksi lagu. Namun entah bagaimana dan seperti apa etos kerjanya, justru yang terjadi sebaliknya. Dua album ini melampaui kegarangan dua album Lauren sebelumnya. Dari loop Stevie Wonder hingga synthe 80-an melatarbelakangi rima meracau Lauren yang lebih abstrak dari De La Soul sekaligus lebih garang dari Tim Dog.

13. Lil Fame & Termanology – Fizzyology
lil-fame-Fizzyology-coverLil Fame mengistirahatkan MOP sementara waktu dan mengajak MC darah baru NY, Termanology membuat album yang Onyx hanya bermimpi bisa membuatnya hari ini. Fame memproduksi sendiri hampir semua beat, kecuali beberapa lagu dari Primo yang tak salah mereka pilih. Merevitalisasi drum kit bersejarah dari BDP hingga Marley Marl, Pete Rock hingga T-Ray, Fame dan Termanology bertukar verse preman ala Brownsville, menambah iman para hiphophead yang menua akan keyakinan formula sederhana, rima brengsek akan selalu cadas berkawin dengan boombap klasik. Beberapa filler bisa di skip untuk kenikmatan sempurna. Bagi Termanology, proyek ini merupakan penampilan terbaik dalam karirnya, dalam kata lain, selama ini ia tak cocok dengan beat Statik Selektah.

12. Journalist 103 – Reporting Live
journalist103-coverThe Left tahun ini kembali absen merilis album di tahun ini. Namun dengan dua album kolaborasi Apollo Brown nan megah dan debut solo Journalist 103 sehebat ini saya bisa mengikhlaskan The Left beristirahat panjang. Dengan flow dan konstruksi rima yang tak berubah sedikitpun, Journalist 103 melepas verse demi verse cadas di atas beat yang disediakan oleh beragam produser. Mulai dari Snowgoons, Lex Luthorz, Oddisse hingga Apollo Brown sendiri. Seperti aksinya pada album The Left, lirik 103 bertemakan pergulatan personal yang kental nuansa sosial politiknya, dan rasanya ia tak pernah kehabisan tema dan cara menyampaikan isu-isu rumit. Puncak album ini ada pada lagu “United We Stand” yang mengisahkan dengan detail pembunuhan terencana Imam Mesjid Detroit, Imam Luqman Ameen Abdullah, oleh FBI dan detasemen anti-terror Amerika Serikat.

11. Oh No – Ohnomite
oh-no-ohnomite-coverSetelah berpetualang dengan Alchemist, memproduksi Gangrene, Oh No merilis album solo keempatnya ini dengan niat membuat versi terbaik dari albumnya terdahulu namun dengan keseriusan dan metoda yang berbeda. Oh No membuat album dengan cetak biru dari The Chronic; mengundang MC-MC favorit ke dalam album seorang produser/ beatmaker. Dia sendiri nge-rap, dan cukup impresif. Namun yang menjadi kojo dari setiap rilisan Oh No apalagi kalo bukan beat-nya. Di album ini ia bereksperimen dengan konsisten secara tematik, ia mengambil sample dari soundtrack film Dolemite karya Rudy Ray Moore yang Ia potong, chop, loop, modifikasi, filter, komposisi ulang sedemikian rupa diramu jadi 21 track mantap. Tentu hasil akhirnya sangat Oh No; hiphop fuzzy yang sangat terinspirasi sang kakak, Madlib, lengkap dengan suara sample yang ambient-nya di kompres jadi serasa di panning kanan-kiri.

Bedanya sound Oh No lebih boombap dari Madlib. Yang menjadi lebih istimewa, deretan feature MC di album ini cukup berbahaya. Dari yang sangat dinanti seperti MF Doom, Alchemist, Roc Marciano dan Evidence, hingga yang mengejutkan seperti Sticky Fingaz, Chino XL, Phife Dawg dan Eric Sermon. Beberapa lagu memang seperti filler, jika saja album ini dirampingkan sedikit (15 lagu mungkin?), dampak mendengarkannya mungkin akan lebih dahsyat. Tak perlu men-skip beberapa lagu yang seharusnya tak ada di situ, cukup sebagai B-Side.

10. Vinnie Paz – Gods of Serengeti
vinniepaz-coverVinnie Paz adalah salah satu rapper paling sibuk tahun ini di samping Action Bronson, Mayhem Lauren dan Roc Marciano. Setelah merilis album kolabonya dengan Ill Bill, album keroyokan sebatalyon Army of the Pharaohs, album Jedi Mind Tricks, ia merilis album solo keduanya yang tak disangka ternyata lebih bagus dari proyek-proyek mercusuarnya (mungkin karena Paz menginjeksi cerita personal dalam album ini, tak melulu rima konspiratif) meski lusinan bintang tamu agak mengganggu flow album disaat kalian ingin mendengarkan lebih banyak lagi rima Paz. Departemen musik album ini tak beda dengan proyek-proyeknya pasca Stoupe cabut dari Jedi Mind Tricks, digawangi beragam produser, dan kali ini agak istimewa di mana DJ Premier, Stu Bangas, DJ Lethal, Marco Polo dan Psycho Les menjadi jaminan album ini bersuara sematang rima-rima Paz. Tidak membosankan seperti album solo debutnya dulu. Membentang antara boombap era 90-an  hingga beat mengkilap era 2000-an ala Snowgoons.

Yang agak mengejutkan adalah track berjudul “You Cant Be Neutral on the Moving Train” yang merupakan tribute bagi Howard Zine, pemikir radikal yang wafat dua tahun lalu. Merangkum buku Howard Zine “A People’s History of the United States” dalam satu verse, 68 bar, non-stop tanpa chorus dan menutupnya dengan seruan “The government doesn’t care about you, the people of power doesnt care about you, organize yourself“. Menyegarkan mendengar Paz menyimpan sebentar rima premannya, dan lebih berkosentrasi pada isu politik.

09. Apollo Brown & Guilty Simpson – Dice Game
dicegame-coverSetelah merilis album proyekan bersama Black Milk dan Sean Price tahun lalu, Guilty Simpson mengulang kegemilangannya dengan duetnya bersama Apollo Brown. Ini juga artinya Brown memiliki dua album paten tahun ini (satu lagi adalah duet maha dahsyat bersama O.C.) Kali ini Brown lebih lepas dari konsep dan bereksperimen. Bersuara lebih Detroit dan mengalah sedikit agar Guilty lebih nyaman ngerap sesuai karakternya tanpa harus mengkompromikan vibe khasnya yang Motown-ish. Kehebatan Brown dalam menghasilkan beat boombap bisa dibaca lebih banyak lagi pada resensi ‘Thropies‘ di bawah nanti, yang pasti ia merupakan Jack White bagi hiphop, membawa tradisi lama tanpa harus terdengar stagnan dan repetitif. Guilty pun  tak berusaha terlalu akrobatik seperti biasa, dan memang tak perlu. Kita hanya perlu storytelling dan flow merayap nan hardcore dari seorang Guilty. Bold, cold, soulful.

08. Nas – Life Is Good
nas-coverSaya sudah agak terimunisasi dengan setiap rilisan Nas yang tak kunjung memenuhi harapan sejak jauh hari lalu. Jadi saya tak pernah lagi begitu tertarik mendengar kabar Nas akan merilis album baru. Namun setelah ‘Life is Good‘ dirilis dan mendengarnya bolak-balik berhari-hari berturut-turut, saya mulai yakin bahwa ini adalah rilisan terbaik Nas sejak ‘Stillmatic‘. Baik secara lirik, flow maupun musikal.

Nas kembali dalam format terbaiknya mengeksekusi verse nyaris pada semua lagu dengan gemilang. Mulai dari mengundang arwah ‘Illmatic‘ pada “Loco-Motive“ dan “Queens Story“‚ bereksperimen pada “World‘s on Addiction“, hingga menarik rimanya ke wilayah yang sangat personal, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Perihal membesarkan anak perempuannya, perceraiannya dan kegetiran kehilangan kawan. Album ini juga seolah menjadi tribute terakhir bagi dua sahabatnya yang wafat belum lama ini, Amy Winehouse (yang kontribusi vokalnya hadir di track “Cherry“) dan Heavy D (yang memproduksi musik pada lagu “The Don“).

Kelemahan album ini ada di jumlah total lagu yang terlalu banyak, sehingga lagu club sampah seperti ‘Summer On Smash‘ hadir merusak kenikmatan sedangkan track se-liar ‘Nasty‘ malah ditempatkan hanya sebagai CD Bonus. Jika saja di-sequence selayaknya, maka akan sangat merepresentasikan kalimat Nas saat menutup “Loco-Motive“ yang diproduseri Large Pro; This is for my trapped-in-90s niggas.

07. El-P – Cancer for Cure
FP1270-1_Gatefold_LP_Outside.aiSetelah 5 tahun sejak album keduanya ‘I’ll Sleep When You’re Dead’, El-P kembali dengan album nomor 3 pasca kebangkrutan labelnya, Def Jux. Saya berasumsi El-P akan kembali pada level kerumitan lo-fi dan megahnya sound ‘Fantastic Damage’ setelah berkesperimen pada ‘I’ll Sleep…’, yang terjadi justru sebaliknya. Ini album El-P yang paling sederhana, bersih dan mudah dicerna. Sesuatu yang tidak saya harapkan dari El-P. Jadi tentu saja awalnya mengecewakan, terlebih deretan MC tamu yang diluar ekspektasi, tak ada lagi Vast Aire, Aesop Rock atau Mr.Lif. Saya rasa Mr. Muthafuckin’ eXquire, Danny Brown, Despot atau bahkan Killer Mike tidak bisa memberikan kepuasan yang sama dengan MC-MC yang saya sebutkan di awal, juga kehadiran Paul Banks (dari Interpol) dan Nick Diamonds (The Unicorns/Islands) rasanya tak bisa menyaingi apa yang dilakukan Omar Mars Volta dan Trent Reznor di album terdahulu.

Namun seiring waktu berjalan, album ini tidak seburuk yang saya asumsikan sebelumnya. Karena bagaimanapun konstruksi noise, revival beat era BDP dalam bungkus modern dan rima politis/ personal yang mirip emo pasca-apokalips khas miliknya ini tetap hadir menendang, dan tentu lebih istimewa dibanding kebanyakan album hiphop yang dirilis di tahun ini. Jadi bagi mereka yang berharap masih ada pewaris Bomb Squad yang bisa mempertahankan hiphop boombap berisik di era sekarang dimana para hiphophead menganggap Lil Wayne dan Chief Keef selevel dengan Rakim, El-P belum berubah.

06. Sean Price – Mic Tyson
Mic_Tyson-coverDengan sampul berilustrasikan Sean Price menggengam mic berlumuran darah dan beberapa gorila tergeletak di lantai, album ini bersuara persis seperti apa Sean Price selama ini; intensitas tanpa henti, sejak ia masih tergabung di Heltah Skeltah, album demi album mempertahankan rima super-grimmy ala NY plus humor gelap di atas beat boombap yang tak satupun buruk, diproduseri beragam kawakan dari Alchemist, 9th Wonder, Evidence dan DJ Babu. Menjadikan 15 lagu dalam album ini bisa dinikmati tanpa satupun track di-skip. Bisa dibilang ini album terbaik yang pernah ia buat selama karirnya. Album total bragadocio terbaik tahun ini.

05. Epidemic – Monochrome Skies
epidemic-coverIm a sucker when it comes to 90’s throwback hiphop. Ketika Celph Titled merilis ‘Nineteen Ninety Now‘ saya girang setengah mampus. Tahun ini berulang ketika mendapatkan album ‘Monochrome Skies‘ ini, debut full dari grup asal Florida yang beranggotakan dua emcee; Tek-nition dan Hex One. Seperti mendengar kolaborasi Celph dan Buckwild tahun lalu, mendengarkan album ini memiliki efek nostalgik dan goosebump yang sama meski dalam beberapa sisi ia terdengar lebih modern. Atmosferik, melodik dari awal hingga akhir, seluruh lagu diproduseri penuh oleh beatmaker asal Luxembourg, Jesse James. Semakin meyakini fenomena belakangan bahwa suara hiphop tradisional ala NY 90’an semakin banyak ditemukan di luar NY. Track penutup album ini seolah menyimpulkan dan membungkus dengan sempurna, Epidemic membuat lagu tribute dengan meng-cover ’93 Till Infinity’  milik Soul of Mischief dengan elegan, lengkap dengan improvisasi saxophone di akhir lagu.

04. Killer Mike – R.A.P. Music
killermike-coverSaya menyukai Killer Mike sejak kemunculannya sembilan tahun lalu. Namun selalu merasa ada yang salah di albumnya ketika itu. Gaya Mike yang super kental southern-nya memang agak mengganggu (mungkin karena soal subjektif, saya tak pernah suka beat southern). Ketika mendengar kabar Mike akan menggarap album yang seluruh beat-nya digarap El-P, saya pun tak menaruh harapan banyak. Namun R.A.P Music ini (singkatan dari Rebellious African People) membuktikan sebaliknya. Kolaborasi Mike dengan El-P pada album ini mengingatkan Ice Cube ketika hijrah ke New York dan menggandeng Bomb Squad untuk mengeksekusi musik AmeriKKKa’s Most Wanted, album solo pertamanya di tahun 1990.

Untuk beberapa hal lainnya pada album nomor duanya ini, Mike juga mengingatkan pada Cube era itu; mulai dari cadence, cara story telling-nya, hingga tematik political gangsta-ism yang diusung sang penyelamat pantai Selatan ini. Cek saja bar lirik dari track berjudul “Reagan” yang mencoba membandingkan era Reagan dan Obama (yang menurutnya tak pernah ada yang berubah); “But thanks to Reaganomics / Prisons turned to profits / ‘Cause free labor is the cornerstone of US economics / ‘Cause slavery was abolished / Unless you are in prison / You think I am bullshitting, then read the 13th Amendment.” Anehnya, El-P sama sekali tidak berusaha setengah mampus merubah arah musikal Mike yang memang Southern mentok itu. Bahkan El-P lah yang beradaptasi disini, tanpa harus mengkompromikan kebisingan yang biasa ia lekatkan selama ini di setiap materinya. Jadi bisa dibayangkan, beat Southern dengan noise ala Fantastic Damage atau brake old school dan stab dari jaman Marley Marl masih menyiksa SP-1200.

03. Roc Marciano – Reloaded
Roc-Marciano-Reloaded-coverAlbum kedua Roc Marcy yang sangat ditunggu para hiphop purist seantero planet bumi setelah debutnya, ‘Marcberg’, sangat cemerlang tahun lalu. Roc membuktikan ia dapat mengulang kehebatan kombinasi rima kriminal kompleks ala Raekwon era Cuban Linx dengan musik hipnotis yang dikonstruksi dari crime funk, soul dan potongan bebunyian unik dari rekaman-rekaman prog-rock. Perbedaan yang agak mencolok pada album ini adalah dobrakannya yang menggoyahkan iman hiphop NY akan kesaktian beat boombap. Dalam kata lain, 2/3 lagu pada album ini nyaris tidak menggunakan breakbeat/ drumloop keras khas NY sebagai tulang punggung. Hanya loop atau serangkaian loop yang ia pilih dengan telaten sehingga tak terpisahkan dengan lirik khas sang veteran perang heroin 90an ini. Keraguan khalayak yang bersiap dengan kekecewaan ala ‘It Was Written’ pasca ‘Illmatic’, tamat terbantahkan.

02. Apollo Brown & O.C – Thropies
trophies-coverPengalaman buruk mendengar hasil duet KRS-One dan Marley Marl selalu hadir ketika mendengar dua ikon favorit kalian berencana untuk sebuah album kolaborasi. Kabar Apollo Brown akan bekerjasama dengan O.C. sangat luar biasa di atas kertas. Bagaimana tidak, Brown adalah beatmaker The Left, salah satu grup favorit saya pasca 2000-an. Salah satu produser terbaik yang dimiliki hiphop hari ini, pewaris sound boombap yang tak pernah buruk di proyek apapun yang ia bikin. Sedangkan O.C adalah MC alumnus salah satu klan terhebat di sejarah hiphop NY; D.I.T.C, dengan diskografi impresif enam album solid pada sabuknya. Debutnya “Word…Life” hari ini telah menjadi cult di antara para true heads. Namanya akan selalu disebut dalam list favorit rapper para MC hari ini, tak peduli mainstream atau underground; dari Eminem hingga Ill Bill. Ia terkenal dengan gayanya kuat, yang tak pernah terlalu agresif namun konsisten. Tak pernah laid-back namun selalu smooth. Suaranya yang selalu tegas dan ucapannya yang lantang menjadikan rekamannya salah satu sumber paling sering dipakai para DJ untuk chorus-scratch. Ia memiliki kemampuan istimewa untuk menjelaskan subjek rumit dengan kalimat-kalimat singkat.

Dalam pujian Premier; “He has the ability to take something common and transform it into a great, finished article”. Untunglah, album ini bersuara persis seperti yang saya bayangkan, bahkan melebihi ekspektasi saya. Tanpa bermaksud hiperbolis, ini album sempurna. Tak ada satupun lagu filler, tak ada salah konsep, rima setengah hati. Ajaibnya dengan lagu berjumlah 16 dan tanpa satupun MC bertamu di sini. Sulit bagi saya sebelumnya membayangkan Brown membuat beat yang lebih baik dari album The Left. Pada ‘Thropies’ ini ia melakukannya berlipat ganda. Brown memproduksi track yang tak hanya boombap namun indah. Skillnya dalam memilah, menyampel ulang dan mengkomposisi potongan suara string, horn dan sax layak dicemburui setengah mampus.

Komposisi Brown sungguh ajaib dalam mendatangkan nostalgia tertentu baik terhadap hiphop era lampau, juga terhadap memori personal tertentu. Dari lagu bertematik klasik, social-commentary (“We The People” dan “Angel Sing”), pergulatan eksistensi personal (“Just Walk” dan “Anotha One”), tribute bagi D.O.C dan Rakim, para inspiratornya (“The Formula”), lagu braggadocio klasik (“People’s Champ” dan “Prove Me Wrong”) hingga lagu epilog “Fantastic” yang menutup secara fantastis. Kombinasi duet DJ-MC yang sempurna. Saya menominasikan ‘Thropies’ ini sebagai yang terbaik tahun ini, nyaris memang, jika saja seorang veteran NY lainnya tak merilis satu album epik yang terdengar semakin hebat seiring waktu berjalan.

01. Ka – Grief Pedigree
grief-pedigree-coverKa mengambil pelajaran dari kegagalan debutnya, ’Iron Works‘, dan datang di 2012 dengan formula baru. Ia mengambil esensi NY boombap, memeras dan mengambil intisarinya hingga ke elemen yang paling dasar. Musiknya selintas lebih ‘sunyi’ namun efek yang dihasilkan sama dengan mendengar sound era keemasan hiphop di 90an; baik dari BPM, tekstur sample, hingga konsep rima yang sinematik. Bagi yang baru pertama kali mendengarnya album ini akan terdengar membosankan dan repetitif, bahkan bagi para penggemar NY boombap sekalipun. Mirip kasusnya dengan penggemar berat metal kala pertama kali mendengar Khanate. Namun jika kalian memberi sedikit saja waktu lebih untuk menyimak ‘Grief Pedigree’ ini, saya jamin kata hipnotis lebih cocok dibanding ‘repetitif’. Single ‘Cold Facts‘ tadi contohnya.

Yang Ka lakukan sangat sederhana, ia menyampel satu suara stab aneh, lalu ia filter delay sedemikian rupa dan menambahkan bassline monoton dan drumkick satu-dua. Hasilnya ajaib. Instrumental itu jadi kanvas sempurna bagi lirik sinematik Ka yang melukiskan suasana hood-nya, Brownsville dengan kepekaan seorang Nasir Jones di tahun 1994. Dengan permainan silabel yang impresif meski dengan kecepatan delivery-nya tidak ngebut, seolah mendengarkan Kool G Rap yang menenggak oplosan Xanax dan obat batuk.

Mood album ini segelap ‘The Infamous’-nya Moob Deep atau ‘Black Sunday’-nya Cypress Hill, namun lebih bluesy dan itu tadi; hipnotis. Bukan gelap yang horror seperti Gravediggaz, Insane Poetry atau sejenisnya. Namun gelap dengan kesan imsoniak yang sama saat pertama kali mendengar ‘Only Built 4 Cuban Linx’. Musik nokturnal. Saya yakin, dalam prosesnya Ka menjalani proses membuat dan memilih sample dan mengkonstruksi yang tidak sesederhana lagunya. Dengan jumlah total 11 lagu, album ini terasa pas, jika ditambah beberapa lagu lagi saya tidak yakin Ka bisa mempertahankan atmosfer album yang gelap dan nihilistik. Cek langsung; ‘Cold Facts’, ‘Chamber’, ‘Collage’ dan ‘Vessel’.

Honorable Mentions:
Kendrick Lamar – Good Kid, Maad City
Ghostface Killah & Sheek Louch – Wu-Block
Public Enemy – Most of Our Heroes Still Dont Appear on No Stamps
The Coup – Sorry to Bother
Joe Bada$$$ – 1999
Chino XL – Ricanstruction (The Black Rosary)
La Coka Nostra – Masters Of The Dark Arts
Brother Ali – Mourning In America And Dreaming In Color
Quakers – Quakers
Koncept – Awaken
Snowgoons – Snowgoons Dynasty
Large Pro – Professor @ Large
DJ Premier & Bumpy Knuckles – Kolexxxion
KRS-One – The BDP Album

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here