Album Hiphop Terbaik 2013

Seperti yang saya prediksi sebelum tahun naga air kemarin dimulai, 2013 bisa menjadi tahun luar biasa bagi hiphop. Tradisi kolaborasi terus menghasilkan karya-karya yang tak terduga, album-album yang diantisipasi menahun akhirnya dirilis, generasi baru yang mempertahankan ortodoksi hiphop dan generasi lama yang mencari relevansinya di masa kini termasuk kembalinya para dewa seperti Ill Bill dan R.A Rugged Man yang dengan serius membuat albumnya menjadi milestone tepat pada perayaan ke-20 tahun sakral kedua di era keemasan dirayakan. Pada catatan lainnya, Kendrick Lamar membuat fenomena dengan satu verse-nya yang memicu respon dari rapper seantero jagat untuk ‘raise the bar’. Kanye West dengan album total bututnya, plus sederet kontroversi publik yang tak penting, Lord Jamar dengan komentar bodohnya dan naiknya fenomena throwback hiphop yang diusung rapper-rapper muda seperti Joe Badass dan Pro Era Crew.

Beberapa pengharapan berakhir mengecewakan, album sekuel “Marshal Mathers” misalnya. Saya berharap Em sedikit melupakan pop chart atau paling tidak membuat lagu pop maha epik seperti ‘Stan’, tapi kenyataannya, meski ‘Rap God’ bisa jadi salah satu lagu terbaik tahun ini, agaknya saya harus menunda (lagi) berharap Em kembali tak hanya dengan kebengisan dan permainan kata dan silabel maha rumit namun juga dengan kedalaman delivery-nya. Demikian pula harapan tinggi saya pada kolaborasi Kool G Rap dan Necro yang mereka namakan The Godfathers. Reputasi rima gelap keduanya tak usah diragukan lagi, terlebih soal teknik rap. Di atas kertas, kombinasinya sungguh maut, namun ‘Once Upon A Crime’ berakhir membosankan karena Necro tetap keras kepala memproduksi sendiri musik pada album ini, tentu tak masalah jika bagus. Yang terjadi sebaliknya.

Tak mengapa, tahun 2013 tetaplah sangat istimewa. Saya agak kewalahan menyeleksi dan mengurutnya. Awalnya saya pilih sepuluh seperti biasa, namun karena terlalu banyaknya album bagus, agak tidak adil rasanya jika hanya mengulas sepuluh album, maka review tahunan ini berakhir dengan jumlah dua kalinya. Saya bagi ke dalam dua tulisan karena memang terlalu panjang. Dalam tulisan terpisah saya juga menulis album-album kanon yang dirilis  ditahun sakral 1993, sebagai bagian dari perayaan memperingati betapa menakjubkannya era keemasan hiphop yang berpuncak di tahun itu. Tanpa harus berpanjang-panjang lagi, ini sepuluh pertama hiphop terbaik tahun lalu. Selamat membaca. Keep the boombap alive, demolish the autotune and the trap rap bullshit. (MV)

20. Ugly Heroes – ‘s/t’

uglyheroes-coverApollo Brown adalah salah satu produser baru favorit saya. Sejak satu dekade terakhir, nyaris tak ada tahun tanpa album Apollo Brown menjadi salah satu pilihan di antara yang terbaik . Ini bukan album solonya, Ugly Heroes adalah proyek kolaborasi antara Brown dengan dua MC Verbal Kent dan Red Pill. Namun seperti proyek-proyek Brown lainnya, ia tak pernah setengah-setengah memberikan materi. Saya tak pernah mendengar Verbal Kent dan Red Pill namun jika mendengar album ini, rasanya mereka melakukan tugas dengan baik, terutama dengan beban agak berat mengingat Brown tak pernah merilis album buruk, sehingga ada ekspektasi tertentu pada setiap rilisan Brown dengan siapapun ia berkolabo.  Ada momen dimana album ini terasa repetitif, topik seputar berangkat dari nol dan berusaha bertahan hidup yang jadi tema album, namun terimakasih pada Brown yang memproduksi boombap maha soulful yang sedikit membuat kalian melupakannya.

19. J-Zone – ‘Peterpan Syndrome’

jzone-coverIni album pertama J-Zone selama hampir satu dekade. Bagi yang melewatkan, legacy J-Zone -hampir mirip dengan R.A. The Rugged Man- merupakan MC peninggalan era keemasan hiphop yang tak pernah segemilang rapper lain namun banyak dihormati para hiphop heads karena konsistensinya bahkan ketika harus mengambil jalan pedang, bergerilya independen sekalipun. Album-albumnya telah kadung menjadi ‘underground classics’. Kali ini ia kembali dengan album yang sekonyong-konyong hadir tanpa gembar-gembor promo, namun menjadi album terbaik yang pernah ia buat. Bersuara persis seperti yang kalian harapkan dari J-Zone, komedi gelap, flow gagah dengan aksentuasi NY yang kental dan cadence yang mengingatkan pada era dimana K-Solo dan Knuckleheadz bergerilya dari mixtape ke mixtape. Di atas banging boombap yang kental, drumbreaks dahsyat, dengan tehnik mixing analognya yang luar biasa, J-Zone mengemas humor konyolnya yang terkenal, dari soal bagaimana merasakan umur 40 dan masih tetap ngehe (judul albumnya tepat mengilustraskan ini, keinginannya untuk tetap brengsek), meditasi “French-kissing mediocrity in the back of the sloth mobile”, hingga membuat lawakan Soulja Boy yang total ngaco. This is a perfect example how hiphop rule the world with its ultimate bullshit and mockery, dan masih dibuat di 2013! Fuck yeah.

18. Prodigy & Alchemist – ‘Albert Einstein’

prodigy-coverKolaborasi Prodigy dan Alchemist dimulai 2 tahun lalu saat mereka merilis debut tandem mereka “Return of the Mac”. Hasilnya diperoleh cukup memuaskan meski tetap terasa masih terlalu biasa untuk ukuran nama besar keduanya. Tahun 2013 kemarin mereka kembali masuk studio dengan banyak catatan dan melahirkan “Albert Einstein” yang tak diduga sangat intens dan diluar dugaan. Mereka mengundang sederte MC pada beberapa track, mulai dari pakar rima mafia, Roc Marciano, sang Chef Raekwon, Havoc, Action Bronson dan sempalan Odd Future, Domo Genesis.

Secara keseluruhan, beat yang diproduksi Alchemist merepresentasikan karakter yang ia bangun satu dekade terakhir. Berkesperimen dengan tekstur, samples yang overlap, synthe rakitan, mood lawas dan kadang minimalistik dengan tidak bergantung gedoran boombap namun tetap bernuansa 90an. Harapan saya dahulu ketika mendengar mereka akan menggedor kolaborasi lagi, menjadi kenyataan, Prodigy dan Alchemist memproduksi musik yang seolah bagaimana seharusnya Mobb Deep bersuara dan bereksperimen di dekade kedua milenium ini. Kadang sinematik, kadang terdengar seperti skit-skit Cypress yang bermutasi bersama RZA. Dengar saja “IMDKV” atau “Give Em Hell” jika meragukan opini saya, sebuah track sederhana dengan boom-bap tegas dibungkus dengan piano loop yang mengancam.

Penampilan Prodigy pun tak mengecewakan, flownya masih rapat mengalir lengkap dengan rima kriminal berbungkus metafor drugs narkotik, plus aksen QB yang kental. Meski demikian agak keterlaluan jika membandingkannya dengan masa-masa kejayaan dua album pertama Mobb Deep dahulu. Highlite album ini ada pada sepertiga pertama album, berpuncak pada duonya dengan Roc Marciano dan Action Bronson, “Death Sentence” dan tentu saja reuninya dengan Havoc pada track bersama Rakewon “R.I.P”. Mereka bertiga meresureksi arwah album “Hell on Earth” diatas beat bertempo tinggi dan gitar elektrik. Ini semoga menjadi pertanda baik setelah ributnya dengan Havoc semakin parah setahun sebelumnya dan sempat membuat reuni Mobb Deep menjadi mustahil.

17. Deltron 3030 – ‘Event II’

deltron-coverMenunggu album ini rilis mungkin mirip dengan menunggu My Bloody Valentine merilis album baru di tahun kemarin. Kita sama-sama tahu, agak mustahil Kevin Shield membuat album sehebat “Loveless” lagi, namun kita masih saja berharap ia melakukannya. Deltron 3030, proyekan yang diinisiasi oleh sepupu Ice Cube, seorang rapper paling underrated di era paling dahsyat hiphop, Del The Funky Homosapien, 13 tahun lalu. Ia mengajak Dan the Automator sebagai beatmaker dan Kid Koala sebagai DJ, yang kemudian menghasilkan album legendaris dan berpengaruh besar, dengan nuansa science-fiction diramu plot politis yang kental dan satir sosial cyberpunk dan humor gelap tentang distopia yang menggelikan. Album itu sungguh luarbiasa, baik dari segi konsep, lirik dan musik. Meninggalkan jejak pada banyak grup-grup lainnya, bahkan pengaruhnya melampaui genre hiphop sendiri, Gorillaz misalnya. Dan 13 tahun bukan waktu yang sebentar, dalam rentang waktu selama itu hiphop dibanjiri nerd rapper, budaya geek dan over-populasi fashionista ala Pharell dan sebatalyon MC bercelana pinsil yang terinspirasi album ini.

Ketika proyek sekuel ini diumumkan 8 tahun lalu, semua orang gembira, namun setelah mengalami penundaan berkali yang jumlahnya hanya bisa disaingi “Detox”, album visualisasi anarki masa depan lanjutan ala Katsuhiro Otomo ini akhirnya dirilis juga dengan antisipasi yang mulai bodo amat mengurangi rasa penasaran. Mendengarkan hasilnya, tentu sudah pasti akan mengecewakan, karena kita selalu ada dibawah bayang-bayang album debut mereka dulu. Bahkan del sendiri mengakui dalam sebuah waancaranya bahwa album ini tidak lebih baik dari debut pendobraknya dahulu. Namun jika objektifitas diperlukan tanpa harus membandingkan, saya bisa bilang album ini tidak seburuk yang dibayangkan.

Secara musikal, Deltron 3030 kembali menawarkan eksperimentasi hiphop yang tetap berada pada jalur sebagaimana mestinya hiphop dibuat. Bermain avant sembari memegang teguh prinsip-prinsip hiphop yang diperoleh dari tradisi suara 90an. Ia mengambil elemen rock tanpa harus terdengar rock-n-roll, mengintegrasikan gitar fuzz, string, terompet kungfu dan bebunyian lainnya ke dalam beat khas ala Dan yang banyak terpengaruh Paul C, Q-Tip dan Prince Paul. Terlebih jika menghitung peranan Kid Koala dengan aksi turntablism-nya, tak ada aksi scratch dan cutting yang biasa-biasa. Begitu pula kontribusi para tamu, dari ketebak seperti Damon Albarn hingga yang mengejutkan, Mike Patton, memberi sentuhan lain pada beberapa lagu. Satu catatan penting dari sisi musik, hilangnya efek simfoni dan pemakaian sample string/orkestra mengurangi kesan epik yang dahulu dengan mudah dirasakan pada album pertama.

Sejak awal album nuansa gelap disetting dengan teliti, Deltron memilih Joseph Gordon-Levitt membacakan narasi intronya, menyebut tahun 3040 sebagai marka waktu. Del meninggalkan plot anarki pasca apokalips dan mulai berkeksperimen dengan plot kenabian sang tokoh, Deltron Zero, menjelajahi ranah yang luluh lantah, bercerita bagaimana kebusukan berlanjut dan petualangan baru dimulai. Del membangun plot dengan intrik-intrik masa depan, ketika tirani totalitarian mengumpulkan kembali kekuatannya, dan kelas menengah dianggap “had faded into irrelevance”. Ia memberinya nama “Event II”.

Menarik, sekaligus menyulitkan kita untuk tidak kembali mengungkit-ngungkit album pertama. Yang agak menjadi masalah adalah alur cerita yang Del bangun terasa terlalu dibuat-buat, kurang mengalir. Ada yang gregetnya kurang dari Del pada album ini, mulai dari flow, pembawaan/delivery hingga permainan emosi yang mengimbangi humor konyolnya. Pula kurangnya kesan krisis pada karakter Deltron Zero mungkin pula mempengaruhi plot secara keseluruhan. Atau mungkin hilangnya relevansi sosial-politik plot sekarang dengan realitas yang membuatnya kering? Jika dahulu perkara pembangkangan melawan rezim totalitarian bisa menghubungkan dengan krisis dunia pada saat itu, “Event II” nyaris tak punya cermin pada pergolakan massal yang terjadi secara global. Entahlah, mungkin saya terlalu berharap banyak. Seperti yang saya bilang tadi, agak sulit bersikap wajar dengan album magnum-opus sehebat debut mereka ‘Deltron 3030’ dahulu.

Sedikit asumsi tambahan, mungkin album ini dibuat terlampau lama. 7-8 tahun menggarap album tentu sudah harus dipertanyakan soal konsistensinya. Bisa dilihat dari beberapa track yang terdengar agak tidak up-to-date. Dan Automator dan Kid Koala pernah berujar 3 tahun lalu, bahwa musik album ini selesai digarap dan tinggal menunggu Del mengeksekusi liriknya. Jadi jika album pertama Del mengerjakannya dalam 2 minggu dengan hasil yang begitu dahsyatnya, 2 tahun pengerjaan liriknya kali ini dengan hasil yang agak mengecewakan cukup menjelaskan bahwa pengerjaan yang terlalu lama membuat mereka kehilangan fokus. Oke, kepanjangan. Cukup. Album ini bagaimanapun layak hadir dalam 20 terbaik tahun ini.

16. Killer Mike & El-P – ‘Run The Jewels’

17_-Killer-Mike-El-P-Run-The-Jewels-2Ketika Killer Mike memilih El-P untuk menggarap album terakhirnya”R.A.P Music” tahun lalu, dunia sepakat ada chemistry yang sangat klop antara keduanya, terutama ketika El-P ikut nge-rap pada satu track di album tersebut. Setahun kemudian mereka kembali dengan format lanjutan; Killer Mike dan El-P membuat sebuah grup bernama Run the Jewels dimana musik tetap digarap sepenuhnya oleh El-P dan mereka berdua berbagi verse ngerap dari lagu ke lagu menghasilkan salah satu album terbaik dalam masing-masing diskografi mereka. Sebenarnya secara personal saya lebih menyukai ”R.A.P Music, El-P meninggikan kadar bouncenya dan mengurangi eksperimentasi drones dan synthe nya sedikit. Namun ini tertolong oleh dua hal, pertama integrasi stab khas ala 80-an yang didemonstrasikan El-P menghasilkan efek ekstra, kekinian namun retro pada saat yang sama. Kedua, agresi bahu membahu antara Killer Mike dan El Producto yang sangat impresif seolah keduanya bersaing verse sekaligus saling melengkapi, mengingatkan saya pada solidnya Evidence dan Iriscience, Vast Aire dan Vordul Mega, atau bahkan Run dan DMC. Secara lirikal mereka masih bermain pada wilayah bragadocio yang mereka tingkatkan level kesompralannya. EL-P bahkan seolah menemukan kembali dirinya saat bersama Big Juss mengusung Funcrusher Plus, setelah sekian lama lebih banyak berkutat pada dunia sci-fi dan retrospeksi diri. Album ini dirilis donlot gratis via Fools Gold website. Ini membuat saya menunggu aksi mereka selanjutnya dengan musik yang lebih liar tentunya. 2014 terdengar sangat menarik.

15. U-God – ‘Keynote Speaker’

ugodkeynote2013 bisa dibilang tahunnya Wu-tang meski secara kolektif Wu tak mengeluarkan album tahun ini. Klaim ini datang dari banyaknya album bagus yang dirilis oleh para anggotanya, baik itu solo maupun proyek. Inspektah Deck dengan Czarface nya berduet dengan Esoteric, Ghostface Killah yang melahirkan album jawara bersama Adrian Younge, Killah Priest menghasilkan double album magnum opusnya, dan U-God yang untuk pertama kalinya melahirkan masterpiece. Album bertitel “The Keynote Speaker” ini merupakan album ke-4 nya., pasca merilis “Dopium” yang banyak orang bilang sebagai kebangkitan U-God dan nampaknya dengan album lanjutan seperti ini U-God memang sudah selayaknya mendapatkan tempat yang layak atau sama dengan anggota Wu yang sudah memiliki nama besar lainnya seperti Method Man, Gza atau Ghostface Killah.

Musiknya ia percayakan pada beragam produser, tak heran hasilnya pun beragam, mulai dari boombap banger seperti “Keynote Speaker” dan “Stars” hingga beat yang mengundang fans Wu-tang bernostalgia seperti “Heads Up” dan “Mt. Everest” bahkan hingga track mellow yang bersahabat dengan radio yang bagi saya agak diluar dugaan. Secara lirikal, U-God masih seperti U-God yang dahulu yang menjadi warna baritone pada batalyon Wu-Tang. Dengan flow tegas meski tak rapat seperti RZA, akrobatik meski tak selalu gemilang seperti Ghostface dengan permainan kata yang mudah diingat meski tak sejenius GZA. Setengah album ini U-God mendemonstrasikan satu hal yang selama ini ia kuasai dengan baik: bragadocio sederhana yang akan selalu terdengar gagah bila dibawakan dengan dengan pembawaan kharismatik seperti suaranya. Bahkan caranya mengkonstruksi bar demi bar hampir tak banyak berubah; mengutamakan frase-frase pendek dibanding kalimat kompleks yang multi-silabel, namun tetap sangat menarik dan enak disimak; “Fuck with my brother, gonna have to clap at ya/ Mess with my brother, goin back to Attica/ He the nucleus, I’m the reactor/  War scar, Battlestar Galactica/ Solid gold, I’mma fold and package ya/ Rap czar, nigga, I’m a rhythm trafficker”

Kelemahan album ini jelas terletak pada jumlah lagu yang terlalu banyak. Berjumlah 19, sejumlah lagu akan terdengar luar biasa sebagai satuan album jika saja tidak ada filler yang dipaksakan masuk dan merusak moodnya. Jika saja ia merelakan beberapa track lepas dan mempertahankan lagu dahsyat seperti “Fire” dan “Six Directions of Boxing” menjadi fokus album, U-God bisa jadi memiliki album yang setara dengan ‘Only Built 4 Cuban Linx” atau ‘Tical’.

14. Demigodz – ‘Killmatic’

demigodz-killmaticJika ada satu crew massif hiphop yang bisa menyamai intensitas kebrutalan Wu-Tang di pertengahan 90-an, maka saya akan nominasikan Demigodz. Terdiri dari barisan MC-MC garda depan bawah tanah yang reputasinya  mengerikan dalam hal menghancurkan oponen pada battle booth; Apathy, Esoteric, Celph Titled, Blacstan, Motive dan Ryu. Debut perkasa mereka ‘Godz Must Be Crazy’ sudah dianggap sebagai album keroyokan terbaik di satu dekade pertama milenium kemarin.

Berarti pula, ini album pertama mereka setelah 10 tahun sibuk dengan solo masing-masing dan proyekan-proyekan bercabang. Dengan titel “Killmatic”, para Demigodz tentu sudah memperhitungkan resiko membawa-bawa nama album klasik dengan menyadari penuh potensi mereka sebagai para titan rima yang verse demi verse di atas boombap beragam menghasilkan album yang luar biasa.

Dari pembuka yang mengambil sample soundtrack Rocky, “Demigodz is Back,” ini mungkin album sempurna bagi mereka yang tak terlalu peduli dengan kedalaman lirikal dan menaruh perhatian tinggi pada sisi teknis/flow dan sound/aura hardcore dari sebuah grup rap. Setengah album ini diproduseri oleh Apathy, setengah lagi dipercayakan pada beberapa produser dengan reputasi yang tak tercemarkan memproduksi beat-beat club/crunk; dari Snowgoons, Marco Polo, Chumzilla hingga sang maestro DJ Premier yang agak tidak terlalu vintage seperti Preemo biasanya hasilkan, namun tetap boombap minimalis dan sempurna bagi 6 MC setengah tuhan ini mengeksekusi tema paling laten di hiphop; ego dan kesompralan.

Meski mereka sudah berjumlah setengah lusin, mereka masih merasa perlu menambah intensitas kesan bancakan neraka ala La Coka Nostra dengan mengundang dewa bawah tanah lainnya; Termanology, R.A. The Rugged Man, Planetary, Vinnie Paz hingga yang saya baru dengar rap-nya seperti Eternia dan Scoop Deville. Tak banyak hardcore crew yang merilis album di 2013, termasuk absennya La Coka Nostra dan The Army of the Pharoah, nampaknya “Killmatic” dengan mudah saya nobatkan sebagai posse album of the year.

13. Timeless Truth – ‘Rock It Science’

timelesstruth-coverSetelah merilis EP brillian “Brugal & Presidentes” tahun lalu, Timeless Truth akhirnya merilis album penuh mereka dengan resep yang sama dan output yang lebih ajaib. Bagi mereka yang melewatkan mereka tahun kemarin, Timeless Truth adalah duo asal kampung halaman Run DMC, Queens, yang terdiri dari SuperBad Solace dan OPrime39. Berbeda dengan EP mereka sebelumnya, album ini diproduseri penuh oleh Rthentic RTNC. Namun demikian arahan musik mereka tidaklah berubah sama sekali, masih dengan template boombap hiphop era pertengahan 90an, jazzy hooks, booming bassline, funky licks dan tekstur dekil tanpa kehilangan relevansi pada kekinian. Jika Paul C masih hidup mungkin musik Timeless Truth ini adalah gambaran terdekatnya.

Kali ini mereka mengundang MC semahzab yang juga pengisi garis depan NY dalam mereservasi sound fundamental mereka hari ini. Sebut saja; Sean Price, Roc Marciano, Action Bronson, Meyhem Lauren juga sang double-threat MC/Produser ikonik, Large Professor.Timeless Truth tahu betul bagaimana mengkonstruksi album hiphop yang berkiblatkan pada Digging in The Crates, Pharcyde, Gangstarr, Main Source dan Bobbito Radio Show (Ingat era Rappages?). Bahkan dalam pemilihan tematik lirikal mereka seolah tak pernah dewasa sehingga “Rock It Science” terdengar seperti perjalanan ‘back-to-the-future’ dalam mesin waktu berilustrasikan imaji kereta subway yang tercoreti graffiti, tapak boots Timberland pada trotoar bersalju yang mencoba menjembatani era hiphop 90an dengan hiphop hari ini.

Album ini nyaris tanpa cacat meski konsep mesin waktu yang mereka usung sebagai tema sentral sebenarnya bukan hal baru.Satu dekade lalu, Arsonist memakainya dalam sebuah lagu di album debut mereka. Memakai penggayaan musik dan pola rima sebagai penanda zaman. Namun Timeless Truth mencoba mengambil sudut dan eksplorasi rima berbeda, mereka bingkai dalam konsep ilmu pengetahuan dengan menggunakan idiom, kosakata, singkatan, objek pegetahuan yang unik yang mengingatkan pada lelucon-lelucon bragadocio serius ala Pharcyde atau Main Source. Mereka sedang dalam proses merekam album baru mereka. Mari kita tunggu di awal 2014 nanti, prediksi saya, mereka akan membuat album yang lebih luar biasa dari album ini.

12. The Doppelgangaz – ‘Hark’

Basic RGBThe Doppelgangaz, duo yang terdiri dari EP dan Matter Ov Fact, merilis album debut yang luar biasa “2012: The New Beginning” pada tahun 2009 lampau. Rima mereka merupakan kombinasi absurdisme Kool Keith/ Anti-Pop Consortium, dengan nuansa kegelapan Gravediggaz berbalut teknik rap pelan mengancam ala Mobb Deep era awal. Mereka kembali di tahun 2013 kemarin dengan album yang lebih gelap lagi dan lirik lebih pekat dan absurd, tentu saja lebih kental nuansa kekerasannya dan humor gelap yang lebih ngehe lagi.

Lirik pagan duet EP dan Fact nampaknya menemukan jalannya meresureksi altar kegelapan Gravediggaz tanpa harus terdengar hororcore. Jubah yang selalu mereka pakaipun lebih terlihat seperti gembel tuna wisma dengan coat curian dibanding para Lord pengikut setan di upacara-upacara pengorbanan. Terimakasih pada keabsurdan lirik mereka yang menghadirkan pemaknaan ganda, satu bertumpu pada Glen Benton dan satu lagi pada Tragedy Khadafi.

Yang saya garis bawahi dengan mencolok adalah beat mereka yang kali ini sangat luarbiasa. Memang track soulful mereka berkurang, sehingga perasaan aneh yang datang dari cerita gelap tentang memasak organ tubuh para pengedar obat bius diatas loop soul ala The Temptations/Marvin Gaye agak tidak terasa di album ini. Namun, sebagai gantinya, saya mendapatkan kebangkitan boombap atmosferik seperti 3 track pembuka album ini; “Dopple Hobble” yang terdengar seperti lagu Dalek yang tak sempat dirilis, “Skin Yarmulke” yang hanya mengambil sample suara mirip bel gereja yang digabungkan dengan noise kotornya piringan hitam menghasilkan lagu super-creepy, juga “Hark Back”, lagu up-tempo dengan latar belakang dengung mengerikan, konsep musik yang jarang lagi terdengar sejak Muggs menyerah pada beat-beat busuk dan mulai banyak memakai synthe dan drumkit generik.

Tak semua beat bernuansa sepekat “Temple of Boom” atau diskografi Gravediggaz, beberapa track lain justru menolak terang ketika memakai sample cerah dan bahkan dengan judul “Sun Shine” sekalipun. Album ini akan mengikhlaskan mereka yang kesal bertahun-tahun gara-gara Muggs dan Dr.Dre memproduksi musik-musik membosankan yang tak sepadan dengan nama besar mereka dan dobrakan pemakaian sampling yang mereka pelopori, sekaligus bagi mereka yang menggemari cerita kegelapan namun muak dengan gimmik-gimmik horrorcore.

11. Earl Swirtshirt – ‘Doris’

earl-sweatshirt-doris-album-coverKetika Odd Future meledak 3 tahun lalu, adalah Earl yang menjadi pusat perhatian sejagat (bukan sang frontman, Tyler), karena skillnya yang luar biasa terutama untuk anak seumuran dia pada saat itu. Bisa dibayangkan anak umur 15 tahun ngerap dengan skill flow dan delivery tingkat tinggi bercerita tentang pesta meracik ramuan drugs mematikan yang dinikmati teman setangkringannya sampai membusuk. Dalam khayalan tentunya. Earl pula satu-satunya alasan mengapa saya masih mendengarkan Odd Future, musiknya yang sok asik dan dibangun dari usaha ngulik fuityloops itu sungguh tak menarik.

Kehebohan debut lagunya yang kontroversial itu membuat sang Ibu yang seorang aktivis dan profesor merasa perlu mengirim anaknya ke ‘pesantren’ di seberang lautan, di Samoa, untuk dididik mentalnya. Beberapa tahun kemudian ia kembali dalam usia balig dan mulai muncul ber-feature di berbagai album dan mixtape orang dan menggarap album solonya ini.

Ia merilis single pertamanya “Chum” awal tahun 2012 lampau, dan saya langsung jatuh hati. Boombap sederhana yang dibangun bertemankan suara piano satu dua bercerita tentang kekosongan jiwanya berefleksi gelap ke memori kelamnya di masa lalu, tentang bagaimana pengaruh besar tanpa ayahnya, dan menjadi liar di asuh trotoar dan semesta. Dengan rima seperti ini saya langsung teringat betapa hebatnya dia ketika Odd Future meledak; “It’s probably been twelve years since my father left, left me fatherless/ And I just used to say I hate him in dishonest jest/ When honestly I miss this nigga, like when I was six/ And every time I got the chance to say it I would swallow it/ Sixteen, I’m hollow, intolerant, skipped shots/ I storm that whole bottle, I’ll show you a role model”

Ketika akhirnya album ini dirilis, “Doris” nyaris bersuara sesuai harapan kecuali saja tentu musik yang ia pakai tidak semua bersuara seperti “Chum”, mood album galau yang ia usung, tetap mendominasi, flow monoton-nya tetap impresif, mengerikan dan depresif pada saat yang bersamaan. Permainan kata-kata dan kedalaman liriknya semakin meyakinkan saya bahwa Earl adalah salah satu reinkarnasi pendekar rima era lawas yang dahulu diidentikan pada Rakim, Nas hingga Cannibal OX. Penampilan Tyler pada satu lagu menambah poin penting mengapa album ini harus kalian miliki fisiknya, selain sampulnya yang impresif tentu. Jika saja departemen musiknya ia berikan otoritasnya pada El-P, Statik Selektah atau Muggs, mungkin album ini sudah jadi mahakarya di tahun 2013.

10. Esoteric and Stu Bangas – ‘Machete Mode’

stu-bangas-esoteric-machete-modeEsoteric menggila di tahun ini. Setelah merilis album proyeknya bersama Inspektah Deck di bawah bendera Czarface pada awal tahun ini dan bergabung dalam pasukan Demigodz dalam “Killmatic” di pertengahan tahun, ia kembali merilis album di akhir tahun yang ia kerjakan bersama beatmaker Stu Bangas. Awalnya saya agak meragukan proyek kolabo ini, karena saya tak begitu suka beat-beat Stu Bangas selama ini. Prediksi saya Esoteric akan menggila di atas musik generik dari produser biasa-biasa. Ternyata saya keliru.

Stu Bangas melalukan pekerjaannya dengan baik, menghindari kesan repetitif dengan varian beat yang disegel atmosfer 90-an. Secara garis besar, musik Stu Bangas tak banyak beda, ia tak banyak bermain sample, tetap mengandalkan suara hook guitar dan piano sebagai tulang punggung lagu, selain tentu boombap yang konsisten. Memberikan kanvas bagi Esoteric memvisualisasikan kebrutalan visinya dari bragadocio bodoh hingga rima berkonsep. Tentu sangat mudah bagi Eso bermain ego seperti; “Optimus Prime be the only reason you pull a semi out/Is there really any doubt?/As to who be the best? E to S, lethal yes, creature double feature fest/Papered up like teachers desk/ So we don’t need a test/ Your like the panic button, when we rhyming you should be depressed”. “Ease Up” dan “The Danger” adalah contoh sempurna mengapa ia selalu masuk hitungan MC paling berbahaya dalam hal rima battle. Terlebih yang saya sebutkan terakhir, membantai MCs bersama 3 rekannya di Army of the Pharoah; Celph Titled, Apathy dan Vinnie Paz.

Namun salah jika MC battle seperti Eso tidak mampu membuat lagu berkonsep tanpa cacat, silahkan cek track bersama Ill Bill “Repercussions” yang menuturkan filsafat aksi-reaksi dengan pengalamannya dahulu membuat lagu berjudul “Kill Bill O’Riley” yang menuai kontroversi, juga “Never Be” dimana Eso menganalisa dalam laboratoriumnya semua hal palsu di industri rekaman dan hiburan, pula “Wonder Why” track kisah masa kecil Eso dan segala hal yang ia lalui dan ia harus bayar untuk passion nya.

Secara general album ini tak jauh beda bersuara dengan apa yang biasa Eso representasikan. Rap murka, agresif dengan nuansa battle rap yang selama ini ia buat bersama 7L. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana chemistry antara Eso dan Stu terbangun seperti Eric B dahulu menemukan Rakim. Bahkan dalam beberapa track saya agak keterlaluan menganggap, Eso lebih baik mengganti saja beatmaker permanennya, 7L sudah waktunya dipensiunkan. Jika meragukan komentar saya, silahkan langsung cek track berjudul “Save Ya Breath” yang dimutilasi tandem bersama Joel Ortiz, “State of War” bersama Celph Titled, “Steel Chairs” yang sinematik, “Blood on the Flowers” dan “Pharaoh Status” yang menutup album dengan sempurna.

09. Mayhem Lauren & Icerocks – ‘Raw Cashmiere’

meyhem-cashmiere-cover3 tahun terakhir merupakan tahun cemerlang bagi Outdoorsmen.Salah satu crew hiphop NY yang bukan hanya produktif namun pula banyak melahirkan album diatas rata-rata. Dua pentolan crew ini adalah Action Bronson dan Meyhem Lauren. Yang pertama mungkin sudah tak begitu asing, MC pecinta makanan yang bisa ngerap soal seafood connoisseur hingga battle rap di antara dinner. Meyhem Lauren sedikit kurang terkenal, atas beberapa alasan, entah terlalu produktif namun lagu-lagunya banyak yang generik seperti album ‘Mandatory Brunch Meetings’ atau belum menemukan produser/beatmaker yang cocok untuk dirinya, sehingga potensi MC utamanya tidak terlalu kentara.

Di satu pojokan lain, DXA atau sering dikenal sebagai Icerocks, merupakan beatmaker ‘tradisional’ NY yang mempertahankan reputasinya sebagai salah satu penjaga pusaka boombap NY dari generasi baru. Paling tidak sejak setengah dekade lalu Icerocks merilis beat tape demi beat tape dengan konsistensi sound yang berkiblat pada DJ Premier dan Buckwild.

Mereka bertemu satu hari dan memutuskan untuk membuat album bersama, hasilnya? Album terbaik dalam karir Meyhem Lauren. Baik secara musikal dan lirikal ‘Raw Cashmere’ sukses merepresentasikan esensi New York, masa lampau dan sekarang. Beat yang dikonstruksi Icerocks sungguh di luar dugaan, saya pikir tak akan ada lagi generasi beatmaker baru NY yang membuat track dengan materi jazz hook, horns chop, bassline sedalam sumur, dan drum keras yang tak bertele-tele. Sangat menakjubkan bagaimana ia memilih sequence track demi track sehingga hampir tak ada celah untuk komplen untuk satu beat pun dari 10 yang ada dalam album ini. Secara keseluruhan musiknya mengingatkan kita pada boombap mahakarya O.C ‘Word…Life’, debut Royal Flush ‘Ghetto Millionaire’ dan 2 album pertama Showbiz & AG.

Lauren sendiri tak hanya mencatat penampilan terbaiknya dalam album ini. Delivery-nya hampir tanpa cacat, flownya tetap selicin partnernya di Outdoorsmen, Action Bronson, dengan tematik beragam dari braggadocio vintage, tribut untuk kultur graffiti hingga rima testimoni tentang seorang anak yang besar bersama kultur gang. Hanya satu MC yang ia undang bertamu dalam album ini, rekan satu tim nya di Outdoorsmen, AG Da Coroner. Untuk pertama kalinya saya bisa mendengarkan album Lauren tanpa harus berkomentar “Oke, bagus, tapi…” Album ini awalnya dirilis sebagai EP 12” terbatas oleh Chopped Hearings Records, label asal Prancis. Kombinasi terpuruknya rupiah, harga vinyl-nya yang di atas rata-rata dan ongkos kirim yang bengis, membuat saya melupakan untuk membelinya. Namun syukurlah, beberapa bulan kemudian Lauren merilis versi digitalnya lewat iTunes dengan dua bonus track. Adalah kejutan, Lauren yang tak pernah membuat jejak gemilang, membuat album sesolid dan sebaik ini, mungkin ini salah satu alasan mengapa 2013 istimewa.

08. Czarface – ‘s/t’

PrintEntah ide siapa yang mempertemukan mereka, yang pasti tak pernah terpikirkan sebelumnya -bahkan dalam kalkulasi di atas kertas sekalipun- Inspektah Deck yang tak pernah gemilang dalam solo-solonya menghasilkan karya terbaik dalam hidupnya justru ketika bertandem dengan salah satu rapper paling haus dan berbahaya hari ini; Esoteric.

Kombinasi rima dan flow mereka pada proyek Czarface ini sungguh solid, mereka seperti terlahir untuk ngerap bareng, bahu membahu mengusung lagu demi lagu dengan multi-tema yang bersandar pada inspirasi buku-buku komik. Ini berlaku pula bagi sang beatmaker pada album ini; 7L yang menahun setia menemani Esoteric. Tak pernah sebelumnya 7L memproduksi musik dengan begitu konsisten keren, dengan variasi beragam dan drumbreaks sepaten ini.

Dari serangan udara semodel “Air ‘Em Out” yang membangkitkan rap-drumbreaks up-tempo ala “Its Yours” Wu-Tang, industrial banger ala Oh No pada “Czar Refaeli” hingga “Rock Beast” yang mempertahankan hiphop sederhana dengan drumbreaks terpilih dan konstan ala era awal Marley Marl memakai sampler yang cukup akomodatif menyimpan 4 bar loop. 7L paham betul, sia-sia hiphop boombap macam begini tanpa chorus scratch liar seperti pada “Savagely Attack” dimana bersanding sempurna dengan rima Eso; “you don’t get much more ruthless than “(rampant, run through your town in attack mode/ savagely leavin’ broomstick in their asshole)”. Puncaknya tentu ketika DJ Premier datang berkontribusi pada “Let It Off”.

Eso dan Deck pada dasarnya tidak macam-macam, mungkin itu yang membuat mereka begitu istimewa dalam membentuk Czarface. Mereka cukup keras kepala untuk tetap mengumbar ego dari lagu ke lagu. Tidak ada satupun lagu dengan plot tertentu, atau konsep yang sedalam sumur. Ini membuktikan album hiphop yang sempurna tidak selalu harus terlalu sibuk dengan konsep dan kedalaman lirik yang canggih. Kesompralan sederhana bila dilakukan dengan gaspol dapat menghasilkan outpu seperti Czarface. Mengundang pula Action Bronson dan MFN Exquire pada beberapa track, tandem Deck dan Eso terasa seperti duo Mobb Deep disambangi Nas dan Raekwon.

Czarface is an action-packed boom-bap at its best. 45 menit yang sempurna untuk memberi contoh bagaimana menghadirkan hiphop beraura 90an di era sekarang.

07. 7 G.E.M.S. (Tragic Allies and Tragedy Khadafi) – ‘Golden Era Music Sciences’

seven-gemsIni album kejutan yang sama sekali tidak saya antisipasi kedatangannya dan tidak saya sangka bakal sebagus ini ketika pertama kali mendengar bocoran singel nya “Without You” beberapa bulan sebelum hari rilis album ini. “Golden Era Music Sciences” adalah album kolaborasi dari trio Tragic Allies (Purpose, Estee Nack dan Code Nine) dengan legenda asal Queensbridge, New York; Tragedy Khadafi. Kolaborasi mereka ini mereka namakan ‘7 G.E.M.S’. Dan persis seperti judul albumnya, proyek ini memperlihatkan bagaimana ilmu musik di era keemasan hiphop diproduksi, reproduksi, dan didemonstrasikan dengan relevansi tahun 2013. Di album ini mereka pula mengundang MC-MC dari era lampau Killah Priest dan Shabaam Sahdeeq, juga MC dari era sekarang Roc Marciano dan Relentless.Saya tidak pernah mendengar Tragic Allies seserius ini sebelumnya, rilisan mereka kurang impresif, meski tetap menarik dengan bumbu 90an yang cukup kental. Oleh karena itu, cukup mengejutkan trio Queens ini benar-benar konstan dari awal hingga akhir album ini. Nyaris tak meninggalkan kekecewaan sedikitpun. Chemistry yang terbangun antara mereka bertiga dengan sang legenda, Tragedy Khadafi sangatlah sempurna. Tak heran mereka merilis album ini dibawah bendera baru. Diproduseri oleh Purpose, album ini memiliki kekuatan musikal yang intens dan hampir tanpa cela yang jarang ditemukan bahkan pada karya-karya nama-nama besar dari era keemasan hiphop yang masih beredar hari ini seperti Fat Joe, Onyx, Mobb Deep atau bahkan Wu-Tang Clan.

Mereka mengeksekusi hiphop vintage era album pertama Big Pun dan Fat Joe, dengan beragam hasil akhir, dari yang bengis dengan drumkick keras dan suara strings menusuk seperti “Dem Get Murda”, “Gems” dan “Man of Honor”, hingga yang soulful ala Pete Rock seperti pada track “No Good”, “The Anointed” dan track bersama Shabaam Sahdeeq, “Foul Thesis”. Satu track yang super istimewa bagi saya adalah lagu berjudul “Vantage Point”. Kombinasi sempurna dari sample loop piano yang efektif dengan drumbreaks extra ganas, yang sudah jarang sekali kalian dengar dibuat dalam 10 tahun terakhir. Dengan gaya storytelling yang padat, tiga rapper Tragic Allies memberondong track tersebut dengan cerita tentang tragedi tembak menembak di dalam sebuah konser musik. Hanya satu saja yang saya sangat sayangkan, penampilan Tragedy tidak selalu ada dalam setiap track, ada 4 track yang minus kehadiran sang Khadafi, salah satunya track yang sangat-sangat disayangkan karena Tragic Allies mengundang sang maestro epik kegelapan, Killah Priest. Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar Priest dan Tragedy Khadafi berbagi verse dalam satu track.

06. Ransom & Statik Selektah – ‘The Proposal’

proposal-cover2013 adalah tahunnya proyek kolabo tandem meruyak dan menghasilkan album-album istimewa. Saya sebelumnya hanya mengenal Ransom dari mixtapenya yang tak bisa dibilang bagus dan beberapa lagunya di Souncloud. Ketika beef ‘Control’ Kendrick Lamar sedang heboh-hebohnya, Ransom membuat pula track balasan dengan flow yang sangat Big Pun. Saya cukup kaget. Tak lama kemudian album ini lahir, tak saya sangka ia bekerjasama dengan Statik Selektah untuk melahirkan debutnya yang ditunggu hiphop heads sejagat.

Satu hal yang bisa dideskripsikan singkat mengenai “The Proposal” adalah bagaimana album ini mengundang nostalgia dalam paket penuh secara sengaja dan tidak. Pertama, album ini menggunakan template ‘Illmatic’ dengan track tak lebih dari jumlah 10 saja. Kemudian, dalam 3 lagu, Statik mengambil sample beberapa momen dari ‘Illmatic’ sebagai loop, teases, maupun chorus scratch. Bahkan dalam satu lagu bertitel ‘1996’ Statik mengambil sample dari lagu Sly, Slick and Wicked yang sama dipakai Nas dahulu, “The Lost Generation”.

Namun demikian, plot, teknik dan ilustrasi lirikal yang coba Ransom bangun sama sekali jauh dari ‘Illmatic’ meski sama-sama vivid dan nihilistik. Narasi Ransom dibangun berkisar pengalamannya besar di Brooklyn dan New Jersey, dari era kegelapan hingga menemukan katarsis pada mikropon. Ada sedikit perbedaan mendengar Ransom pada album ini, cadence dan flownya tidak lagi terlalu Big Pun, entah mengapa, padahal itu ciri khasnya selama era nya membuat mixtape dan membuat lusinan single pada halaman Soundcloud-nya.

Pola rimanya agak mengendur, meski multi-silabel tetap ia pakai. Namun satu yang pasti Ransom adalah purists. Ia tahu bagaimana hiphop seharusnya dan seperti yang ia katakan “I’m the last one you’re really gonna get that sound from. That believable [hip-hop] sound”, ia tahu bagaimana skill MCing dipakai dalam mengkosntruksi sebuah album yang berpatokan pada era dimana hiphop menemukan format paling digjayanya.

Rimanya tetap liar, terhitung, powerful, kadang mengerikan meminta kepatuhan, kadang berefleksi, meditatif meminta empati. saksikan bagaimana ia menggodog 4 bar dari verse ke-2 “Ourcast”; “I’m mythological, prodigal, son of a diabolical volatile and methodical biological obstacle/pathological chronicles of this fucking in phenomenal/astronomical, powerful, why was they ever doubting you?”

Sungguh beruntung kali ini, Ransom bertemu produser/beatmaker yang cocok dengan gaya, flow, cadence-nya. Statik Selektah dengan luar biasa memproduksi 10 track dan tak satupun gagal seperti proyeknya yang sudah-sudah. Meski hampir semua soulful, pemilihan beat Selektah membuatnya tidak terjebak pada mood album yang mellow. Lagi-lagi mengingatkan kita pada kesempurnaan “Illmatic’. Lengkap dengan chorus scratch ortodoks seperti biasa.

Proyek solid Ransom dan Selektah ini saya harap menjadi duo permanen dan melahirkan karya solid seperti ini lagi di tahun-tahun mendatang. Ini menjawab pertanyaan besar majalah The Source ketika kenaikan kembali boombap 90an mulai menemukan tanda-tanda signifikan; “Is East Coast boom-bap still relevant?”

05. Ghostface Killah & Adrian Young – ‘Twelve Reasons to Die’

Ghostface-Killah-Adrian-Younge-Twelve-Reasons-To-DieSetelah bertubi-tubi kekecewaan datang dari kubu Wu-Tang selama beberapa tahun terakhir, saya berfikir lumrah untuk tidak berharap lagi album menarik bisa datang dari mereka, secara kolektif ataupun solo. Ketika single promo album ini, “The Rise of Ghostface Killah”, nongol di halaman-halaman maya, saya terkaget dan meminta maaf pada arwah Old Dirty Bastard atas kelancangan asumsi saya. Ini proyekan paling unik yang genre ini hasilkan tahun ini. Ghostface sang penjaga obor altar terakhir dari kubu kuil Wu bertemu salah satu produser dan komposer terbaik di awal milenium ini, Adrian Younge.

Younge selama ini dikenal dengan keahliannya memainkan dark funk dan soul dengan sound vintage bersama band-nya Venice Dawn. Lengkap dengan harpsichords and organ sepulchral dan suara guitar yang dikubur reverb. Entah ide siapa yang mempertemukannya dengan Ghostface untuk membuat sebuah album ini, sebuah karya konseptual dengan tematik opera Itali bercampur horor dengan ambience gangster yang pekat.

Rapper tamu cukup minimal di album ini dan –cukup mengagetkan juga- hanya MC dari lingkaran Wu yang ia undang. Masta Killa, U-God, Killa Sin, Cappadonna, Rza dan Inspectah Deck, tak satupun mengecewakan, termasuk Masta Killah yang selama Wu-tang eksis tak pernah saya perhitungkan peranannya. Namun demikian, bintang di album ini tetaplah Ghostface.Ia merakit plot demi plot dengan struktur bercerita, dalam ceritanya mengisahkan pertempuran keluarga mafianya melawan keluarga Deluca’s. Bragadocio khasnya tetap hadir dengan bumbu detail yang cemerlang; “First things first, I’ll chop your head then your fingertips/ Butcher knife your torso, chop up your ligaments/ Make sure its legitimate, conceal all my fingerprints”. Ada yang cukup mengagetkan dari rangkaian rima Ghostface kali ini, ia lebih ilustratif dari biasanya. Bar-bar sinematik seperti “From a city that’s recession-hit / with stress, niggas could flex metal with, peddle to rake pennies in.” Bertebaran di tiap verse, di tiap lagu.

Tentu album ini akan terdengar biasa atau tidak semegah apa yang terdengar jika departemen musik yang digarap Adrian Young cs tidak sehebat ini. Sungguh luar biasa bagaimana Adrian cs menulis musik yang mereinkarnasi Portishead era dua album pertama mereka dengan tambahan intensitas dan nuansa Wu-Tang (baca: RZA) yang cukup kental. Album ini sedemikian rupa seolah menjadi sebuah soundtrack film Quentin Tarantino yang tak pernah eksis.

Outputnya pun sangat variatif. Mulai dari ‘Beware of the Stare” yang membuka dengan dramatis, “Blood on the Cobblestones” yang menyambat versi gelap Curtis Mayfield dengan abrasif, “Enemies All Around Me” yang mengancam, “An Unexpected Call” yang paling ‘noir’, “Revenge is Sweet” yang mengingatkan pada lagu klasik Sly Stone “Theres Riot Goin On”, “The Rise of the Ghostface Killah” yang meresureksi sepertiga ‘Wu Forever’, “The Sure Shot” yang mirip musik kolaborasi band pendamping James Brown menggila bersama Enno Morricone.

Ini album luar biasa dalam karir Ghostface, bisa dibilang terbaik setelah ‘Supreme Clientle’. Album ini bisa jadi menjadi catatan penting bagi RZA, tak seharusnya pusing-pusing mencari-cari bentuk baru musik Wu-Tang. Dengan serangkaian feature dari keluarga Wu dan outputnya yang luar biasa, bisa jadi ini prototype bagaimana seharusnya album Wu-tang bersuara di era baru milenium ini

04. R.A The Rugged Man – ‘The Legend Will Never Die’

ratheruggedmancoverR.A. The Rugged Man adalah salah satu MC favorit saya yang selama ini saya sayangkan tidak pernah membuat album solid. Album pertamanya tak begitu jauh dibawah ekspektasi saya. Untuk seseorang yang pernah diundang Mobb Deep, Wu-Tang Clan, Kool G Rap, and Notorious B.I.G almarhum untuk bekerja sama, debutnya tahun 2002 itu terlalu biasa. Selama menahun ia hanya merilis single-single iseng dan featuring dapat ditemukan pada album-album keroyokan, dari Demigodz, Army of The Pharoah hingga Snowgoons.

9 tahun kemudian, ketika saya hampir lupa jika saya dahulu pernah sangat mengidolakan R.A. The Rugged Man, tiba-tiba ia muncul tanpa banyak promo dengan album keduanya bertitel ‘The Legend Will Never Die’. Saya tak menunggu lama untuk memesan pre-ordernya jauh hari. Karena bagaimanapun R.A. The Rugged Man adalah salah satu MC yang skillnya langitan yang akan selalu inovatif dalam hal flow, delivery, cadence dan metafor.

Ketika seminggu mendengarkan album keduanya ini, saya bisa menyimpulkan seperti ini seharusnya album R.A. dieksekusi. Dengan nuansa 90an yang kental, relevansi kekinian yang tak menyebalkan, variasi beat yang luar biasa diluar dugaan dan tentu skill MCing R.A yang tak sedikitpun mengendur bahkan dalam beberapa lagu sangat melampaui perkiraan saya.

Saya bahkan jatuh cinta sejak intro pertama, “Still Diggin Wit Buck”, track yang diproduksi Buckwild, R.A membuka dengan manifesto tentang bagaimana seharusnya hiphop dan bagaimana ia tetap mengakar pada blueprint hiphop 90an; “This for hip-hop heads, everyone else fuck your opinions/ This ain’t generic pop, novelty rap/ I’m reigning supreme/ You about to hear a level of skill you won’t hear in the mainstream”.

Di-sequence dengan sempurna, R.A tak menunggu lama membombardir track demi track tanpa cacat seolah ia membayar 9 tahun tanpa album dengan skill MC-nya yang khas, rapid-fire multi-silabel, mulai dari “The People Champ” yang diproduseri Aphaty, beatboxing galore “Tom Thum”, “Definition Of A Rap Flow” yang mendisplay skillnya dengan sempurna, merayakan skena bersama Hopkins dalam “Underground Hitz”, dan menutup album dengan “Sam Packenpah” bersama Vinnie Paz. Bragadocionya tak pernah setengah matang, total sompral dengan skill yang mungkin hanya bisa disandingkan dengan Big Pun almarhum dan Eminem.

Yang saya sebut tadi sungguh luar biasa, namun belum ada apa-apanya dibanding track-track kojo yang R.A simpan menahun. Mulai dari kolaborasinya dengan Talib Kweli “Learn the Truth” yang bercerita tentang bagaimana Amerika dibangun diatas perbudakan dan pembantaian, Talib muncul duluan dengan verse terbaiknya yang saya dengar dalam 5 tahun terakhir, saya pikir R.A akan dipermalukan di lagunya sendiri, namun ketika ia muncul dengan flow sinting dan pointer sejarah yang detail, saya tak berhenti mangap hingga hook terakhir selesai. “Media Madgets” yang dengan delivery dan plot yang kompleks R.A bercerita bagaimana media berkonspirasi, lalu “Legends Never Die (Daddy’s Halo)” dimana Mr Green memberinya track boombap manis sehingga R.A dapat mengenang ayahnya dengan sempurna, dan terakhir dan terbaik; “The Dangerous Three” yang mengundang Brother Ali dan Masta Ace.

Sungguh album yang luar biasa. Dalam satu wawancaranya, almarhum Notorious BIG ditanya bagaimana pendapatnya tentang MC bernama R.A the Rugged Man, ia menjawab “I thought i was the illest”. Album ini contoh sempurna jika kalian menginginkan penjelasan atas komentar BIG tadi.

03. Ill Bill – ‘Grimmy Award’

Ill-Bill-Grimy-AwardsTak ada tahun tanpa rilisan Bill, baik dalam misi bersama Muggs dibawah bendera Kill Devil Hills, dengan Vinnie Paz sebagai Heavymetal Kings atau bersama Slaine mempertahankan La Coka Nostra pasca ditinggal Everlast. Namun ini bisa dibilang album solo pertama Bill dalam 4 tahun ini.

Ill Bill adalah salah satu epitom hiphop NY yang tak banyak tersisa. Bagi mereka yang selalu menginginkan hiphop berarwah sama seperti pertama kali kalian mendengar LL Cool J di 80an, sejak eranya bersama Non-Phixion, Ill Bill tak mungkin kalian abaikan. Album solonya ini kembali membuktikan kesetiaan Bill pada cetak biru hiphop yang membentuk NY di era nya.

Pada album solo ke-4 nya, Ill Bill kembali pada formula yang tak pernah salah ia pakai berulang: boombap khas NY dari berbagai produser (termasuk beatmaker veteran ikonik), scratched hooks, rima acak sedingin Colt ilegal yang dikubur di bawah salju dan flow maut yang agresif lengkap dengan permainan multi-silabel yang canggih.

Bill hanya mengundang satu MC generasi baru pada album ini; Mayhem Lauren yang bernostalgia tentang kebesaran pantai timur dalam “L’Amour East,” bersama Q-Unique, sisanya ia sisakan bagi para veteran. Mendeklarasikan bagaimana ‘power’ yang mereka miliki ketika dapat mengontrol karir mereka secara independen di atas beat DJ Muggs bersama O.C dan Cormega (Scratch hooks suara Dead Prez “bring the power back to streets where the people lives”, serasa sangat tepat). Berkisah soal kultur kekerasan bersma Shabazz, Lil Fame dari MOP, menebar legenda penegakan keadilan versi jalanan bersama Vinnie Paz dalam “120 Darkside Justice”, bahkan kembali mengundang HR dari Bad Brains untuk mengisi pada track glorifikasi kegelapan Babylon pada “Forty Deuce Hebrew”.

Persoalan tematik mungkin bermasalah bagi beberapa orang yang berharap Ill Bill keluar dari rima konspirasi, akhir zaman, kebrutalan dunia, dan tribut untuk kerabatnya. Sekilas nampak demikian, namun Bill melakukannya dengan intensitas dan kreativitas tanpa batas. Namun jika memang demikian sekalipun, who cares? Memang tematik seperti ini yang kita harapkan keluar dari mulut Bill. Cypress Hill dapat bercerita soal cimeng dalam tiap albumnya, kita tidak pernah bermasalah selama outputnya keren (yang jadi masalah, ketika outputnya berupa album-album generik). Jika tak percaya silahkan cek epik tentang Unabomber yang melampaui sosok Ted Kasczinsky, menawarkan diskusi tentang kebusukan masyarakat, teknologi dan aksi terorisme. Dan jika pada album terakhir Bill mendedikasikan satu lagu untuk Slayer, maka dalam album ini kembali ia memberi tribut bagi ikon metal, Paul Baloff almarhum, seorang vokalis Exodus yang fenomenal.

Dalam departemen beat, Bill tahu persis bagaimana mempertahankan keyakinan bagaimana hiphop harus direpresentasikan. Bill kembali mengundang mereka-mereka yang memberikan inspirasi dan berkontribusi besar dalam perjalanannya. Bill kembali mengundang Pete Rock, Large Professor, DJ Premier bahkan El-P yang juga menyumbang verse pada track “Severed Heads Of State”. Ini track tandem Ill Bill dengan El-P pertama sejak “Simian Drugs” lebih dari satu dekade lalu.

Lagu paling cemerlang saya nobatkan pada tiga berikut; homage untuk halusinasi LSD “Acid Reflux” di atas beat super-boombap dari Large Professor, track Bill berfilsafat pada “Truth” yang diproduseri Pete Rock, dan tribut bagi produser boombap paling ikonik di muka bumi “World Premier” yang diproduseri oleh DJ Premier sendiri.

Yang agak saya sayangkan dari album ini, saya lebih menyukai “When I Die” versi aslinya yang ia rilis sebelum album keluar, beat versi album ini agak terlalu manis meski tetap di atas rata-rata, meski keduanya di buat oleh Pete Rock. Di luar itu, Ill Bill belum mematahkan rekor diskografi patennya dengan memproduksi album butut.Bagi saya pribadi, ini album solo terbaiknya sejauh ini.

02. Killah Priest – ‘The Psychic World of Walter Reed’

Killah_Priest_TPWOWRJika ada pertanyaan; anggota keluarga besar Wu-Tang mana yang paling konsisten dan intens merilis album dengan kualitas album yang konstan, maka jawabannya hanya satu: Killah Priest. Sejak kemunculan verse perdananya pada sebuah lagu GZA pada maha album “Liquid Swords”, Priest telah membuat 16 album, tak satupun yang biasa-biasa, dengan kedalaman lirikal yang tak pernah surut sedikitpun dan kompromi nol bagi aspek komersil. Priest adalah salah satu lyricist yang bisa disamakan levelnya dengan GZA dalam kedalaman dan kompleksitas lirik, bahkan dalam beberapa hal saya merasa Priest lebih baik dari GZA. Lirik Priest dapat sedemikian rupa luar biasa kompleks dan dalam sehingga bergantung pada sejauh mana pengetahuan para pendengarnya akan sejarah, astronomi hingga bacaan biblikal untuk dapat memahami lagunya dan kemudian mengapresiasinya.

Liriknya yang begitu dalam kadang membuat musiknya terdengar sebagai elemen pendukung belaka. Bagi mereka yang mengapresiasi karya-karya lirikal, nampaknya ini tak menjadi masalah. Namun ini menjadi alasan mengapa selama ini Killah Priest tak pernah membuat maha karya yang diakui semua hiphopheads, tak hanya mereka yang membeli rekaman atas alasan skill penulisan lirik belaka.

Album ini terdiri dari dua CD yang dijual terpisah. Jadi saya bisa menganggapnya sebagai album terpisah yang bersambung. Bukan satu album yang dipaksakan dipenuhi sebanyak-banyaknya lagu. Disc pertama lebih berbobot dari yang kedua, meski keduanya memiliki kualitas yang sama seperti album Priest lainnya. Secara keseluruhan melibatkan delapan beatmaker untuk menggarap musiknya. Disitu letak keajaiban pertama, dari lagu ke lagu, sungguh menakjubkan bagaimana delapan produser ini konsisten menjaga mood dan atmosfer yang sama sehingga Priest dapat menjaga kekuatan dan kedalaman rimanya juga sepanjang album. Begitu intensnya album ini mungkin album Priest dengan beat/musik terbaik. Kalian bisa merasakannya dari lagu pertama “Shadow Landz” dimana Priest bercerita tentang semesta, awal tragedi dan bagaimana nyali di tes menjalani ketidakteraturan dan kekacauan yang digabungkan dengan cerita-cerita jalanan yang berceceran di NY. Juga track selanjutnya, “New Reality” yang bercerita tentang eksistensialisme dihadapan Black Hole jalanan, naturalisasi kejahatan dan menggunakan metafor berlapis Priest membacanya sebagai kenyataan baru, diatas beat boombap yang luar biasa indah dengan suara sample sirine, siulan dan suara burung sedemikian rupa bersautan membangun komposisi hook yang hipnotis.

Dari situ, track demi track mengalir dengan dahsyat. “Street Thesis”, “Devotion To The Saints” yang mengundang dua sahabat Wu nya; Ghostface Killah dan Inspectah Deck, “Visionz” yang kompleksitas multi-silabelnya luarbiasa, berpuncak pada “They Say” lagu super indah yang mempertanyakan mitos dengan flow yang mengalir penuh pengandaian yang brilian. Jika kalian meragukan apa yang saya tulis, silahkan dengar satu lagu saja “The PWOWR (Problem Solver)” lagu pertama dari CD kedua, sebuah track tanpa beat hanya background atmosferik, untuk membuktikan bagaimana gilanya Priest menyusun rima dengan metafor menggila, silabel membantai dan tak sedikitpun mengorbankan esensi makna lirikal yang ia hendak sampaikan.

Dua album dalam sekali mendengarkan akan membutuhkan waktu yang serius terlebih dengan lirik Priest yang membutuhkan konsentrasi lebih, begitu pula menulisnya secara ekstensif akan mubazir karena sungguh saya sarankan kalian mencari double album ini, benar-benar mengatasi rasa haus saya akan album hiphop yang kedalaman liriknya dapat kalian ulik berbulan-bulan dan tetap kalian menikmati setiap flownya seperti “Liquid Sword” dahulu. Album brilian.

01. Ka – ‘The Nights Gambit’

Ka-The-Nights-Gambit1Ka, sesederhana namanya dengan kompleksitas yang tak dimiliki rapper manapun hari ini. Ia pada keseharian, adalah seorang pemadam kebakaran berumur 40an yang punya jejak sejarah di era hiphop mengalami masa keemasannya, namun justru baru hari ini ia hadir sebagai salah satu suara paling penting untuk jawaban dari pertanyaan; dobrakan apa yang bisa ditawarkan hiphop hari ini bagi dirinya dan dunia?. Ka adalah seorang rapper, beatmaker, visualizer dan sekaligus seorang musisi yang menjalankan label rekamannya sendiri. Pada websitenya, pada halaman pembelian albumnya, ia menulis; “Please have patience with your order, I don’t go to the post office everyday”, notifikasi sederhana yang menggambarkan betapa penting menjalankan hasrat kalian dengan kontrol kuat ditangan kalian sendiri.

Pada tahun 2012 lalu saya pernah mendeskripsikan pengalaman mendengarkan album Ka “Grief Pedigree’ yang ia rilis tahun itu, dan nampaknya harus saya ulang sekarang; “Bagi hiphop heads yang mendengarkan Ka akan mirip kasusnya dengan penggemar berat metal kala pertama kali mendengar Khanate”.

Secara musik hampir tidak ada yang berubah, ia memakai formula yang sama ketika ia membuat album fenomenalnya “Grief Pedigree” tahun lalu. Hiphop yang ditelanjangi, dilucuti elemen paling integralnya: beat boombap, namun dengan tekstur, hentakan, aura yang sama dengan mendengarkan diskografi Preemo, Pete Rock dan Buckwild. Ka membuat musik yang kuat mengakar pada hiphop 90an dengan pendekatan yang secara total berbeda, ia mengambil esensi hiphop boombap NY, memeras dan mengambil intisarinya hingga ke elemen paling dasar, mengambil nyawa atmosferiknya dan mempertanyakan secara kritis “Jika tanpa beat kalian bisa membuat lagu hiphop yang luar biasa, maka mengapa harus ada beat?”. Ia menghasilkan musik 90an yang ‘sunyi’, namun dengan efek dan aura yang sama dengan pengalaman kalian besar bersama album Eric B & Rakim, Black Moon atau O.C. Lengkap dengan kesamaan pada BPM, tekstur dan karakter sample.

“The Night’s Gambit” mendisplay skill Ka dalam menghadirkan rima reportase nokturnal yang sangat terhitung, sinematik dengan deskripsi detail yang mencengangkan. Yang membuat album ini lebih baik dari “Grief Pedigree” adalah bagaimana Ka menyempurnakan teknik rapnya, termasuk dalam mengkonstruksi silabel yang secara teknik hanya bisa ditemukan pada Eminem, Kendrick Lamar atau Kool G Rap. Silahkan cek bar maut ini; “In the ‘Ville pumping steel, hunt until we feel full / Home cold as Poconos fill rodent holes with steel wool”.

Suara Ka yang dingin dan tak dibuat-buat menyempurnakan semuanya. Dengan ekspresi lurus hampir tak bernyawa justru Ka mengilustrasikan dengan tepat bagaimana kehidupan malam di daerah yang berbahaya didiami manusia. Dengan flow yang tabah, Ka memberikan cerita tentang penyesalan, rutinitas mortal, konsekuensi yang tak dikehendaki dan kisah kegelapan lainnya yang ia sampaikan dengan kesadaran tinggi akan musiknya yang mega monoton namun kaya akan imajinasi. Contoh sempurnanya ada pada satu track berjudul “Peace Akhi” dimana cara rap Ka nyaris tidak bisa dibilang ngerap, namun kalian tahu betul apa yang ia lakukan jauh lebih baik dari 99% rapper hari ini.

Yang agak istimewa adalah bagaimana Ka memberi tribut pada hiphop gurunya di masa  lampau. Dikonstruksi dengan menggunakan metafor dan kosakata album hiphop klasik seperti; “These pages tell my life in the ‘ville/ Out here raising hell with license to ill/ This raging bull trying to get paid in full/ Going off, not knowing soft gauge to pull/ Runaway Slave, wanted dead or alive”. Ia sampaikan dengan musik yang mendengung, beat berbisik dan membiarkan kemuraman memberikan salutnya pada para pelopor.

Sekali lagi, Ka melakukannya dengan sempurna, dan kali ini dengan jauh lebih baik. Langsung cek saja “Off The Record”, “Our Father” dan “Peace Akhi”. Kalian akan berterima kasih pada saya telah menyelamatkan hidup kalian yang sesat dan membosankan.

Honorable Mentions

  • Slaine – The Boston Project
  • Epidemic – Somethin’ For Tha Listeners
  • Vinnie Paz – Carry On Tradition EP
  • Ill Bill – Howie Made Me Do It 3
  • Snowgoons and Virtuoso – CoVirt Ops Infantry
  • Snowgoons, PMD & Sean Strange – Welcome To The Goondox
  • Dirt Platoon and Kyo Itachi – War Face
  • The Godfathers (Kool G Rap & Necro) – Once Upon A Crime
  • Eminem – Marshall Mathers II

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here