Album Hiphop Terbaik 2014

Tahun 2013 lampau terasa agak istimewa ketika banyak sekali album luar biasa yang muncul sebagai perayaan 20 tahun selebrasi tahun sakral 1993. Ekspektasi saya bahwa tahun ini akan mengulang fenomena itu tidak sepenuhnya terjadi. Album baru Wu-Tang butut, Mobb Deep apalagi, Dilated People mengecewakan dan album baru Wu-Tang butut (Ya saya tahu, saya menyebutnya dua kali). Memang seharusnya tak usah berharap macam-macam sih. Tapi yah, untuk orang yang selera musiknya berhenti di 90-an, 93-94 akan selalu jadi tahun sakral. Alasannya tak berlebihan, tepat dua puluh tahun lalu hiphop mencapai klimaks era tahun keemasannya. Paling tidak ada sedikitnya ada 10 album yang hingga hari ini menjadi cetak biru dan merubah parameter estetika dalam hiphop. Puncaknya tentu saja ketika sebuah album dari pemuda berumur 21 tahun bertitel Illmatic dirilis. Ya sudahlah, sebelum dituduh menglorifikasi romantisme yang menghalangi progresifitas, ini list super-subjektif album terbaik di tahun kuda. ‘Super subjektif’ dalam hal ini otomatis sedikit peringatan untuk tidak berharap Azealia Banks, Iggy Azalea, Wiz Khalifa atau album crunk dub step favorit kalian ada disini. (MV)

PS: R.I.P Larry Smith. Tanpa beliau tak akan ada Run DMC. Tanpa Run DMC, tak akan ada Beastie Boys dan Public Enemy. Tanpa mereka semua, hiphop tak lebih dari hanya sekedar musik. Word up.

 

10. Soul of Mischief – ‘There Is Only Now’
souls-of-mischief-adrian-younge-panic-struck-mp3Dari kru yang duapuluh tahun lalu memberi lagu kebangsaan era keemasan hiphop yang nyaris menjadi sebuah pernyataan generasi; ’93 Till Infinity’. Mereka kembali setelah lama sekali vakum. Ada sedikit kekhawatiran tentunya. Bagaimana mereka bisa memberikan relevansi album baru tanpa harus menjadi kekinian parah seperti beberapa veteran lain. (Kasus Fat Joe dan Cypress Hill sudah barang tentu jadi pelajaran penting).

Bersyukur mereka menggandeng Adrian Younge yang sukses membuat album konseptual Ghostface tahun lalu bersuara seorganik itu. Adrian dan band-nya Delfonics adalah salah satu dari sedikit saja -selain The Roots tentunya- yang berhasil membawa karakter suara sample dengan instrumen live. Meski harus diakui ada yang hilang dari karakter boombap ala Soul of Mischief yang selama ini kita kenal. Tak ada lagi flow Opeo yang menempel ketat breaks James Brown atau Idris Muhammad. Atau A-Plus dan Tajai yang bersatuan pada chorus dengan latar belakang bassline ala The Chronic.

Adrian menggantinya dengan musik soul/funk kadang psychedelic gelap yang kaya akan warna Ennio Morricone dan Otis Redding. Tidak masalah memang. Hanya saja, rasanya tidak sedang mendengar album dari sebuah grup almuni Hieroglyphics disini, dalam kebanyakan track mereka terdengar seperti A Tribe Called Quest yang berkolaborasi dengan The Roots atau Portishead. Bukan berarti album ini buruk, sebaliknya, Souls of Mischief membuktikan mereka masih tetap relevan dan inovatif di era hiphop yang dengan generiknya mengadopsi EDM sebagai parameter ‘keren’.

 

09. Blu – ‘Good to Be Home’
blu_goodtobehomeEra gangster rap sudah lama selesai. Dre sudah lama meninggalkan G-funk, Ice Cube sukses main film lawak, Snoop sudah jadi ‘singa’ (tak lagi ‘Dawg’). Gangster rap yang kalian dengar hari ini hanya berupa adu congor preman murahan di atas beat bouncy southern kekinian semodel Chief Keef yang -sumpah demi arwah Eazy-E- rasanya lebih baik mendengar musik dangdut koplo Pantura. Ketika Kendrick Lamar banyak dinobatkan orang sebagai penerus pantai barat, saya mulai berhenti berharap album kanon datang dari subgenre ini.

Namun tanpa diperhitungkan sama sekali, ‘Good to be Home’ hadir dengan mengejutkan. Terlebih, ia datang dari seorang emcee yang selama ini saya tak pernah serius menyimak albumnya. Album ini tentu tidak bersuara seperti ‘Straight Outta Compton’ atau ‘Music to Drive By’. Jika pengandaiannya film Boyz N the Hood, album ini bukan narasi Doughboy sang gangster, namun justru datang dari sang kakak yang mencoba menjauhi lifestyle tersebut. Seseorang yang bertahan hidup di lingkungan yang mematikan namun tetap menganggap ghetto ‘rumah’ bagi dirinya.

Blu kali ini dibantu oleh Bombay yang memproduksi penuh album ini dengan musik yang sangat terpengaruh sang kakak-beradik, Oh No dan Madlib. Beat terdistorsi sublim dengan sample soul dominan, bass super-booming dan di-EQ eklektik. Bedanya, Bombay mengadopsi teknik chop yang kasar dan terkesan seenaknya. Dengan flow santai dan permainan silabel yang cantik, Blu bercerita banyak hal dari mulai perihal anthem bagi kotanya, nostalgia era Compton digdaya hingga tribut bagi para pahlawan west coast.

Segudang featuring yang hadir cukup mengganggu, namun beberapa diantaranya, Evidence, Thurz dan Planet Asia misalnya, menolong karakter cerita Blu menjadi semakin berwarna. Bahkan yang paling gemilang, Prodigy (dari Mobb Deep) mengantarkan verse terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Untuk ukuran album dengan 20 lagu dalam dua CD, album ini cukup intens untuk didengarkan tanpa harus banyak skip.

Blu mendedikasikan album ini untuk ‘rumah’nya, West Coast, namun ia sadari atau tidak, ia menghasilkan album gangster rap yang uniknya tak akan pernah dapat dibuat oleh MC gangbanger kekinian macam Game sekalipun. Oya, tambahan props untuk sampul ilustratif yang membungkus album ini dengan sempurna.

 

08. BigRec & Diamond D – ‘DoomsDay’
bicrecSeolah tak ingin kalah dengan beatmaker satu tim nya di DITC, Buckwild, belakangan beatmaker legendaris Diamond D kembali produktif. Membuat album solonya dan beberapa proyek kolabo. Salah satunya bersama BigRec, seorang MC luar biasa liar asal Atlanta. Di era MC asal New York bersuara seolah mereka berasal dari Atlanta (lengkap dengan beat southern-nya) sangat menarik menyimak seorang MC asal selatan yang flow dan sensibilitasnya seolah ia dari Brooklyn.

Senjata utama BigRec terletak pada flow yang merepet ritmik yang mengingatkan kita pada almarhum Big Pun. Mungkin itu alasan Diamond D memberikan Rec 80 persen musiknya bersuara seperti Beatnuts dan Gangstarr. Bahkan single utama yang ia sebarkan di sosmed, “Unstoppable”, bersuara seperti Rick Rubin pertama kali memproduksi track hiphop bagi Jay-Z. Ia hanya memberi ruang sedikit bagi Rec untuk tetap mempertahankan identitas ‘ke-selatan-an’ nya yang tak juga buruk.

Hi-lite album ini terletak pada track bertitel “N.O to N.C” yang menampilkan sample klasik “UFO” milik ESG yang sering dipakai rapper era 90an awal yang berkawin sempurna dengan flow old-school super cepat seolah hiphop berhenti berevolusi di era kejayaan LL Cool J merilis ‘Mama Said Knock You Out’. Tak ada throwback di tahun 2014 yang seindah ini.

 

07. Buckshot – ‘BackPack Travels’
static-squarespace-comBlack Moon sudah lama vakum, namun Buckshot tak pernah berhenti merilis album. Sesuai dengan judulnya‘Backpack Travels’ mirip catatan retrospektif. Tentang karirnya, latar belakangnya, ghetto yang membesarkannya dan tentu para pelopor hiphop yang menginspirasinya. Di luar dugaan album ini memiliki variasi dalam BPM yang jarang terjadi pada diskografi Buckshot. Dari yang laid back semodel “Sweetest Thing”, mid-tempo ala “Just Begun” hingga up-tempo seperti “Red Alert” yang mengingatkan hiphop era Red Alert, seorang DJ legendaris yang memiliki acara radio bernama mmmm…”Red Alert”.

Buck adalah salah satu rapper unik yang memiliki suara khas yang membuat liriknya memorable tanpa harus selalu berupa punchline atau memiliki makna berbobot. Sayangnya selama ini tak ada produser yang bisa membuat karakter itu cemerlang selain Evil Dee dari Black Moon. Kali ini ia mengajak beatmaker generasi baru P-Money yang anehnya justru memiliki beat yang bersuara lebih tua dari umurnya, seolah ia bagian dari generasi yang menghabiskan waktu di Latin Square dan memahami total estetika Emu SP-1200. Hasilnya cukup memuaskan. Bahkan bisa dibilang ini album terbaik Buckshot sejak Black Moon bubar.

 

06. Your Old Droog – ‘Your Old Droog’
your-old-droogInilah fenomena yang sempat membuat heboh para trueheads di awal tahun ini. Ketika Your Old Droog merilis single pertamanya via Soundcloud, dunia geger menganggap Nas merilis proyek baru dengan alias misterius dan konsep yang sama sekali baru. Tak jarang komentarnya kebablasan terlalu yakin; “Nas akhirnya kembali ke era Illmatic” atau “Nas akhirnya berhasil memilih beat yang cocok untuk dirinya sejak Illmatic”. Setelah berbulan-bulan para mereka berdebat dan perang spekulasi, akhirnya YOD merilis album debutnya ini dan debat pun berakhir.

YOD bukan Nas. Ia rapper kulit putih asal Brooklyn yang kebetulan memiliki pita suara yang entah mengapa mirip sekali dengan Nas dan bisa membuat kalian berimajinasi liar bahwa Nas selama ini lipsync seperti Milli Vanilli. Bisa diabsen satu persatu, mulai dari flow, cadence hingga delivery-nya sungguh mirip dengan sang maestro yang tepat 20 tahun lalu merilis debut yang merubah wajah hiphop hingga hari ini.

Banyak yang kecewa ketika mereka sadar bahwa album ini ternyata bukan milik Nas. Tak adil memang, karena tak dapat disangkal lagi; YOD memiliki skill mikropon yang luar biasa. Meski selintas mirip, YOD memiliki struktur rima yang jelas berbeda. Bagaimana ia menempatkan punchline dan merangkai analogi dalam empat bar rima, lebih mendekati M.F Doom atau Guilty Simpson dibanding Nas. Album ini eksebisi total nya. Ia memproduksi bar demi bar penuh punchline yang unik dan mereka yang besar bersama Nas tahu, tak mungkin Nas membuat punchline demikian. Misalnya saja “And these Internet thugs, ain’t doing a thing/ Got caught with the Google Chrome now they in the Bing” atau yang paling epik ketika menyapa seorang gangster Blood dengan sebutan “Freudian Crip”.

Sepanjang album YOD ngerap dengan tone santai namun serasa memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dari para rapper Onyx berteriak. Secara musikal album ini memiliki catatan tersendiri, bukan hanya pilihan sampling yang menarik (funk 70-an, rock 60-an bahkan Galt MacDermot!), namun juga karena sukses membuat track bernuansa 90an tanpa boombap sebagai tulang belakangnya. Bisa cek “Nutty Bars” dan “Loosey In the Store with Pennies” yang ia biarkan mengalir nir-drumloop tanpa membuatnya kehilangan relevansinya dengan hiphop era Large Professor dan RZA berjaya.

Bisa dipahami mengapa banyak orang kecewa ini bukan Nas. Itu merupakan tanda bahwa banyak pengikut cult-nya berharap Nas menjadi seperti ini, kembali haus dan lapar seolah ia tak pernah merilis ‘Illmatic’.

 

05. Sage Francis – ‘Copper Gone’
sage_francisKarya pertama yang Sage Francis buat pasca keluar dari Epitaph dan kembali merilis album lewat label yang ia dirikan, Strange Famous. Sage Francis akan selalu diingat orang sebagai emcee yang selalu solid dalam mengemas isu personal sekaligus menjadi total Politically Correct, dengan musik yang menyentuh dan ’emo’. Tentunya ketika kata ‘emo’ masih bermakna terhormat. Masih dekat urusannya dengan Embrace dan Rites of Spring dibanding dengan Dashboard Confessional atau My Chemical Romance.

Selain mempertahankan musik sebagai terapi personal, kabar baiknya adalah Sage berhenti memproduksi musik dengan gitaris Death Cab For Cutie dan yang paling penting; Sage kembali pada format talk-shit nya persis ketika ia merilis punchline ikonik; “If rap was a game you’d be MVP – Most Valuable Puppet in this industry”. Sage tetap sedih dan marah. Tetap personal dan berada di jalur aktivisme politik. Dalam lagu pembuka ia merangkum album ini dengan deklarasi “They say that anger is a gift. I’m very gifted. And if ignorance is bliss then I’m sadomasochistic.”

Track paling gemilang di album ini adalah “Vonnegut Busy”. Ia mengelaborasi narasi Kurt Vonnegut ke dalam rima tentang pergulatan personal yang ia sebutkan tak pernah terlepas dari keputusan-keputusan politik. Lupakan dua album terakhirnya yang mengecewakan itu, ini album terbaik yang pernah Sage Francis buat sejak ‘Human Death Dance’, jika terlalu dini untuk menyebut ‘Copper Gone’ lebih baik dari album fenomenalnya 7 tahun lalu.

 

04. Apollo Brown & Ras Kass – ‘Blasphemy’
kass-brownNampaknya tak ada tahun tanpa album Apollo Brown. Lupakan Dre, Apollo bisa jadi produser/beatmaker paling sibuk dalam satu dekade terakhir sekaligus paling produktif. Meski tak selalu, beberapa kolabonya dengan beberapa MC/group berakhir sangat gemilang. Di antaranya adalah album The Left tahun 2010 dan tandemnya dengan veteran O.C tahun lalu.

Kali ini Brown mengajak sang maestro lirik West Coast, Ras Kass yang memiliki reputasi kekuatan rima yang membuatnya ada dalam setiap daftar MC terbaik yang pernah ada dalam sejarah. Dengan konsep ‘blasphemy’ Kass menulis album yang konsisten berbenang merah pertanyaan spiritual tentang tuhan dan agama. Intro pada “Deliver Us From Evil” merangkum hal ini; “everything is backwards. Everything is upside down. Doctors destroy health. Lawyers destroy justice. Universities destroy knowledge. Governments destroy freedom. The major media destroys information and religions destroy spirituality. That’s where we are!”

Tema ini mengalir dari lagu ke lagu, mulai dari kemunafikan institusi agama hingga politik imperialisme seperti Palestina. Tentunya bukan Kass jika tidak menyajikannya dengan diksi gangsta yang khas, ketajaman metafornya dan kebengisan punchline-nya. Menariknya, ia mengembangkan konsep itu, memakai analoginya pada topik lain yang tak ada urusan dengan spiritualitas. Seperti pada “Animal Sacrifice” yang merunut akar hiphop Kass dengan memajang para inspiratornya dalam dua verse yang mematikan dan menganalogikan terminologi ‘slay the track’/’murder the beat’ serupa ritual pengorbanan kambing yang ada pada hampir semua agama ketika ia berujar “Goat/ Witness animal sacrifice/ I bar up, won’t none of y’all rap tonight” sembari mengukuhkan posisinya;“I am Kendrick before Kendrick”.

Hampir tidak ada track buruk. Satu lagu generik ditengah-tengah album bisa dimaafkan. Akrobat kalam Ras Kass di album ini tentu saja akan bernasib sama dengan album-albumnya terdahulu, berakhir terlupakan, jika saja Brown tak membungkusnya dengan musik boombap soulful khasnya. Jadi bisa dibilang ini album pertama Kass yang kekuatan musiknya bisa sebanding dengan lirik dan flow-nya yang paripurna.

 

03. Diabolic –‘Fightin Words’
diabolic-coverDua tahun pasca debutnya yang luar biasa, Diabolic keluar dari Viper Records dan mengembara mendatangi para beatmaker satu persatu, mengoleksinya dengan telaten dan membungkusnya sebagai album kedua yang ia rilis sendiri lewat record label-nya yang baru ia dirikan. Hasilnya sangat memenuhi ekspektasi. Bahkan dalam level tertentu album ini melampaui debutnya, terutama pada momen ketika ia ngerap diatas beat DJ Premier dan Junior Makhno yang diluar dugaan melahirkan boombap yang diluar kebiasaannya selama ini, lagu “Introvert” contohnya.

Diabolic memiliki reputasi mewarisi teknik rap multi-silabel ala Kool G Rap dengan delivery super-hardcore di atas boombap klasik lo-fi yang selalu menjadi penawar dahaga ketika hal tersebut tidak konsisten datang dari Eminem. Pada album ini ia mempertahankan reputasi itu. Terutama keahliannya membuat rima yang di atas kertas terbaca biasa namun menakjubkan ketika Bolic mengeksekusi verbalnya, seperti “I’m the epitome of sick, I live in infamy/ Spitting a written history depicting my vision vividly/ The industry’s clearly tripping when I start a movement/ Like Timothy Leary given LSD to Harvard students”.

Permainan kata yang Bolic tampilkan dari lagu ke lagu membuat album ini tak membosankan untuk disimak tanpa jeda. Intensitasnya nyaris hampir pada setiap bar, pada setiap verse, pada setiap lagu. Kalian hanya diberikan kesempatan bernafas singkat hanya pada beberapa momen. Sisanya, Bolic menggeber multi-silabel di atas boombap tanpa henti. Tak ada album tahun ini yang intensitas hardcore boombap-nya melampaui album ini. Beberapa momen terdengar lebih meledak, duetnya dengan RA the Rugged Man dalam ‘Suffolk’s Most Wanted’ misalnya. Dengan komposisi 16 bar klasik, RA dan Bolic bertukar bragadocio paling ngehe yang pernah dibuat di 2014. Satu-satunya yang di luar perkiraan yang agak mengecewakan adalah tak ada tandem brutalnya bersama Immortal Technique dan betapa buruknya sampul album ini.

 

02. Run The Jewels – ‘Run The Jewels 2’
rtjTerus terang saya terlambat mencerna proyekan Killer Mike dan El-P ini tahun lalu. Faktor beat yang sangat southern dan pola rima yang kekinian agak menjauhkan saya untuk memutarnya secara intens berulang. Memerlukan waktu lebih dari setahun untuk akrab dengan debut mereka yang dirilis tahun lalu untuk menyadari betapa liar duet mereka ini dan menyadari bahwa ini tag-team terhebat yang pernah ada sejak Run DMC. Tepat ketika saya sedang dalam puncaknya menikmati album pertama mereka, album sekuel ini datang tanpa peringatan.

Chemistry mereka terasa semakin cocok. El-P merupakan rapper alumni era keemasan hiphop mulai berakhir di penghujung 90an dan Killer Mike merupakan rapper yang mereinkarnasi Ice Cube ketika Ice Cube sudah sama sekali tak relevan. Keduanya memiliki kesamaan, mengkombinasi bragadocio nan brutal dengan lirik politis yang padanannya hanya bisa ditemukan di era ‘Death Certificate’ dan ‘Fear of A Black Planet’ menjadi epitom hiphop mainstream. Hampir tak ada yang berubah, bagi kalian yang terbiasa dengan El-P, tentu akan sangat familiar dengan beat berlapis sample yang abrasif yang ia praktekan sejak ia tergabung di Company Flow. Hanya saja bedanya, kali ini cara ia memproduksinya lewat reproduksi sound elektronik hiphop 80-an dan beat bouncy yang ia kompromikan untuk mengadopsi flow Killer Mike yang notabene alumni skena Atlanta.

Album kedua ini melanjutkan episode yang mereka tinggalkan pada album pertama, tentunya dengan nuansa lirik Parliament vs MC5 yang sama, jika tak bisa dibilang lebih intens. Hampir semua track mengundang adrenalin. Bahkan track yang sama sekali tidak bouncy, seperti “Blockbuster Night Part.1”. Momen gaspol album ini terletak pada track maha goyang “Close Your Eyes (And Count To Fuck)” di mana Zack Dela Rocha datang bertamu, menghadirkan verse 16 bars paling dahsyat yang pernah ia tulis sejak Rage Against the Machine bubar. Dengan lirik Mike seperti “And if I get stopped by a crooked ass cop I’m a put a bullet in a pig”, album ini terasa tepat dirilis di tengah protes Ferguson dan isu kebrutalan aparat menyeruak di Amerika sana.

 

01. Royce 5’9” & DJ Premier – ‘Prhyme’
prhymeAttention rap purists and boombap fundamentalists!. Jika kalian pernah berharap bahwa satu hari akan ada album transendental yang merangkum semua elemen hiphop era keemasan ke dalam format hiphop kekinian, ini lah prototype-nya. Boombap dengan tehnik sampling ortodoks, hook hardfunk dengan sensibilitas Gangstarr era ‘Hard to Earn’, lirik penuh punchline dengan flow membara dan penekanan penuh pada kebermaknaan rima multi-silabel. Hardcore rap di atas hardcore boombap. Turntable dan mikropon.

Chemistry duo ini dimulai 15 tahun lalu ketika DJ Premier memproduksi single Royce Da 5’9” bertitel “Boom“. Sejak itu semua trueheads berharap mereka membuat album kolaborasi. Tentunya atas alasan betapa mautnya kombinasi dari seorang DJ pendiri fondasi boombap modern pasca MPC diproduksi massal dengan seorang MC generasi 2000-an yang mewarisi tehnik Rakim, Kool G Rap dan kekinian delivery Eminem. (sebagai catatan kecil; Royce memang pernah membuat grup bersama Em sebelum Em terkenal).

Keduanya mencoba keluar dari zona kenyamanan untuk menghindari album ini bersuara seperti yang diperkirakan orang. Preemo, misalnya, kali ini mengambil sample untuk semua lagu hanya dari satu sumber; album ‘Something About April’ milik Adrian Younge, dan Royce mencoba membuat komposisi verse-chorus yang tidak konvensional dan struktur verse yang tak lazim ia buat dengan mengurangi cadence rima tounge-twist yang biasa ia pakai diatas beat semi crunk penuh simbal. Dari lagu ke lagu, permainan flow Royce berkembang.Ia tidak mengandalkan rimanya terpaku pada akhir bar, tak jarang teknik pemotongan cadence-nya membuat kejutan punchline di tengah-tengah bar. Ia banyak membuat referensi old-school dengan teknik yang sama sekali baru, kompleks dan tidak ortodoks.

Dari sembilan lagu yang mereka hasilkan, tak satupun track yang kalian ingin skip. Bahkan kalian bisa memaklumi beberapa rapper tamu yang tak kalian harapkan datang disini, Mac Miller dan Jay Electronica misalnya. Common hadir di satu track progresif “Wishin“, yang tak pernah Preemo buat sebelumnya. Ia membuat medley dengan dua pola chopping, satu cepat dan satu lambat. Killer Mike membuat track “Underground Kingz” semakin menyala. Lagi-lagi Preem membuat komposisi dengan beat tak lazim. Bayangkan Company Flow yang bertukar sumber sample dengan Geoff Barrow.

Di lagu terakhir, Royce menutup dengan mengundang crew-nya, Slaughterhouse. Tak ada yang lebih lengkap memang, crew ini membuat kalian berharap fase selanjutnya adalah Preemo memproduseri penuh album mereka. Durasi 35 menit sudah cukup membuat puas harapan menahun akan album hiphop yang bisa mengulang betapa abrasifnya hiphop dua dekade lalu tanpa harus berkesan berhenti di nostalgia. Retrospektif sekaligus progresif. Ini adalah instant classic yang tak yakin akan bisa dicapai oleh duet DJ Premier dan Nas sekalipun, itupun jika satu hari nanti terlaksana.

Honorable mentions:

  • Statik Selektah – ‘What Goes Around’
  • Freddie Gibbs x Madlib – ‘Pinata’
  • Ghostface Killah – ’36 Seasons’
  • Meyhem Lauren and Buckwild – ‘Silk Pyramids’
  • Army of the Pharoahs – ‘In Death Reborn’
  • Diamond District – ‘March on Washington’
  • M.O.P. – ‘Street Certified’
  • Rozewood – ‘The Ghost Of Radio Raheem’
  • Apathy – ‘Connecticut Casuals’
  • Dilated Peoples – Directors of Photography

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here