Album Hiphop Terbaik 2015

Ada banyak alasan untuk tak lagi komplen ketika di tahun 2015 Public Enemy merilis (lagi-lagi) album buruk. Bukan karena PE sudah harus diikhlaskan, tapi karena banyak sekali album luar biasa yang masih mengingatkan kami mengapa jatuh cinta pada hiphop dahulu sekali. Beberapa berasal dari para veteran, beberapa dari para generasi baru. Dari Large Professor, Sadat X, Ghostface Killah, hingga Joey BadA$$, Skyzoo dan Rapper Big Pooh. Beberapa menjadi fenomena besar-besaran, beberapa nyaris tak terdengar sama sekali. Beberapa yang diantisipasi tak sesuai dengan ekspektasi yang ditaruh terlalu tinggi. Album Cannibal Ox cukup bagus, namun menyamakannya dengan “Cold Vein” terlalu berlebihan. Bergabung kembalinya Stoupe pada Jedi Mind Tricks tidak membuat mereka sehebat 3 album pertama mereka. KRS-One kembali menghasilkan album yang oke, namun kita memerlukan “Return of the Boombap” untuk era ini. Berikut adalah sepuluh yang terbaik. Subjektif tentu saja. sebagai catatan kecil, tahun ini Scarface kambali pada format terbaiknya. “Mental Exorcism” adalah lagu hiphop terbaik tahun ini, meski albumnya tak saya pasang sebagai bagian dari sepuluh dibawah ini. (MV)

09. Your Old Droog – ‘Kinison ‘

01_0000_Layer 11Setelah menggemparkan jagat (internet) hiphop tahun 2014 dengan debutnya yang membuat banyak orang berspekulasi teori konspirasi bahwa Nas sedang membuat alter-ego baru, Your Old Droog kembali di 2015. Display lanjutan bagaimana Your Old Droog menyempurnakan penggayaan talk-shitnya lengkap dengan permainan kata dan humor gelap. Sam Kinison adalah komedian ikonik yang dahulu sempat terkenal dengan gerutuannya soal hiphop; “I just don’t like rap music man. I don’t think it’s an art form, I like Rock N’ Roll”. Your Old Droog menyimpan lawakan sarkas itu sebagai intro dan memulai album unik yang memberi tribut bagi rock dengan sama sekali menjauh dari keklisean membuat musik rock-rap. Sebaliknya ia membuat rap intelektual yang penuh permainan kata dengan meminjam referensi dan kosakata musik rock. Contohnya saja; “Dumb down every lyric, I’m adapting/So it could bump in these hoods that even Eric would get clapped in (Clapton)” atau “Jethro meets Death Row, Death Row Tull” dan yang paling terngiang di telinga “Team Super Nintendo, I never played Sonic as a youth”. Secara musikal, Kinison terdengar lebih eksotis dari debutnya. Dengan musik super funk, diproduseri oleh beatmaker El RTNC dan DJ Skizz, Kinison bersuara seperti pesta pot dengan DJ yang memasang acak Grand Funk Railroad, The Elders dan Beastie Boys. Beberapa bulan kemudian, Your Old Droogs merilis EP bertitel ‘The Nicest’, kemungkinan besar merupakan filler album ini yang ia pisahkan menjadi mini album.

09. Venomous2000 – ‘Will To Power’

01_0001_Layer 10Saya menemukan Venomous2000 via Erik Blakumuh yang memperdengarkan single ‘Rock The Bells’ pada saat sesi proses rekaman album baru Doyz tahun lalu. Sejak hari itu V2G masuk dalam radar MC generasi baru yang memiliki potensi melahirkan album luar biasa di kemudian hari. Setelah mixtape demi mixtape dan proyekan via halaman Bandcamp-nya, momen itu akhirnya datang di pertengahan tahun 2015. V2G berasal dari New Jersey, rumah para MC maut legendaris, dari Treach, Chino XL, hingga Apache. Album ini bertitel ‘Will to Power’, tak ada urusannya dengan Nietzsche dan nihilismenya meski ujungnya nyerempet sama; keyakinan bahwa manusia memiliki kemampuan mencapai hal-hal luar biasa dalam hidup. 15 lagu dalam album ini berputar dalam poros tema besar itu. Metafornya yang terkadang terbaca biasa-biasa (“keep exercising mental gifts like this was all aerobics”) diselamatkan oleh flow dan cadence-nya yang istimewa. Hal penting dicatat dari album ini adalah bagaimana V menghadirkan ulang keoptimisan dan energi positif yang lama hilang dari horizon hiphop (meski hadir sekalipun, ia datang dalam bentuk hiphop yang membosankan, maaf Lupe Fiasco). Jika ada rapper yang lahir di era duaribuan yang mengingatkan kita pada KRS-One dan Talib Kweli, V2G adalah salah satu dari sedikit saja MC yang bisa kalian hitung. Cek langsung singlenya yang kental dengan B-Boyism 80-an, Will Power, hingga banger spartan mikropon-nya, Watch the Pen Smoke. Cukup mengejutkan ketika membaca credit, mayoritas album ini diproduseri oleh beragam produser tak dikenal, kebanyakan dari Eropa. Namun demikian, dari mulai yang Dilla-esque hingga boombap jazzy semodel A Tribe Called Quest, album ini bersuara jauh dari Snowgoons atau beatmaker Eropa pada umumnya. Dari album ini pula saya mencatat nama DJ End K yang nampaknya layak disejajarkan dengan DJ Revolution dalam teknik dan kepresisian scratch chorus.

08. Clever 1 – ‘Caveman Cuisine’

01_0002_Layer 9Da Buze Bruvaz adalah salah satu grup lama asal Philladelphia yang terlalu sibuk melakukan hal tak penting di masa mudanya (mabuk, merampok, bisnis mobil curian dsb termasuk masuk penjara) sehingga tak sempat merilis apapun di 90an kecuali beberapa singles dalam format vinyl dan demo. Yang menakjubkan adalah mereka tetap konsisten hingga hari ini membuat musik hiphop era 90an awal (seolah dunia tak pernah berubah) meski tetap cukup sulit ditemukan (termasuk di dunia maya, yang hanya bisa kalian dapatkan di Unkut). Clever 1 adalah salah satu MC (dan favorit saya) dari duo Buze Bruvaz ini. Ia adalah kombinasi cerita jalanan ala Beanie Siegel dan flow/tone suara Sean Price dengan rima multi-silabel maha juara yang sangat bisa disandingkan dengan Diabolic atau R.A the Rugged Man. Semuanya ia gelontorkan di atas beat boombap dengan kadar budug yang jarang kalian dengar sejak Wu-Tang merilis 36 Chambers. Agak berbeda dengan album pertamanya, Dirty Dozen, Clever 1 menulis album Cavemen Cuisine dengan konsep yang mirip Roc Marci, Mayhem Lauren atau Action Bronson lakukan dalam beberapa tahun kebelakang; Food Rap. Dengan sangat brillian, ia kembali meneruskan cerita thuggery dan bragadocio-nya menggunakan referensi, istilah, metafor dan konsep masakan. Mulai dari nama masakan, teknik penyajian, hingga nama restoran khas ternama. 10 lagu, tak satupun buruk. Sialnya, album ini bernasib sama dengan album Da Buze Bruvas lainnya, sulit ditemukan, jarang didengar orang apalagi diresensi dalam blog-blog rap umumnya. So peeps, digs deeper next time. Oya, pribahasa ‘Jangan menilai sesuatu dari sampulnya’ sangat berlaku untuk album ini. Caveman Cuisine meneruskan legacy keburukan sampul album-album hiphop cult, yang saking buruknya kalian anggap sangat jenius.

07. Paris – ‘Pistol Politics’

01_0003_Layer 7Bay Area dan Oakland adalah dua kota terakhir dalam peta hiphop yang masih menyisakan skena rap politis yang sinergis dengan gerakan akar rumput yang militan di kotanya. Kedua kota ini berbagi kemiripan yang cukup kentara; rap Black Phanter, militanisme kulit hitam berbalut Marxisme dan G-Funk pre-Chronic dengan bass booming dan clap snare khas Parliament/Funkadelic dan DJ Quik. Dari dua kota ini pula kita mendapatkan dua figur penting yang keberadaaanya tak berubah sejak kemunculannya 25 tahun lalu; dari Oakland kita masih mendapatkan The Coup, dan dari Bay Area, hiphop masih memiliki Paris. Ketika Public Enemy mulai kehilangan relevansinya dan Ice Cube sibuk bernostalgia dengan film NWA, Pistol Politics memiliki level intensitas, kecerdasan rima dan kontroversi yang sama dengan It Takes A Nation of Millions to Hold Us Back dan AmeriKKKa’s Most Wanted. Terutama dalam hal melawan kebrutalan departemen kepolisian. Tahun 2015, pasca tragedi Trayvon Martin dan Mike Brown, lirik-lirik Paris dalam album ini terdengar lebih relevan. “Night of the Long Knives” adalah “Fuck the Police” baru untuk era ini. Dalam wilayah musiknya, Pistol Politics cukup mengejutkan dengan menghadirkan soul ala Marvin Gaye hingga flute Bobbi Humphrey-esque. Durasi panjang dalam dua CD memang nampaknya berlebihan, hampir setengah dari CD 2 berisi filler yang tak dimuatpun tak mengurangi bobot album. Bertamukan para veteran West Coast; Tha Eastsidaz, WC, E-40 dan KAM, diantaranya, Pistol Politics menunjukkan betapa solidnya rap dan politik akar rumput disana dan lebih progresif dibanding East Coast pasca gerakan Occupy, (Oakland adalah kota terakhir yang terlama mempertahankan barikade okupasi). Pistol Politics untuk Ferguson tahun 2015 adalah Death Certificate untuk kerusuhan L.A tahun 1994, dan merupakan album terbaik Paris setelah Sleeping With The Enemy 20 tahun lalu.

06. Earl Sweatshirt – ‘I Don’t Like Shit, I Don’t Go Outside’

01_0004_Layer 6Earl memulai album ini dengan track sok jazzy, dengan chord organ ganjil, ia mengandai “I’m like quicksand in my ways.” Bercerita bagaimana pacarnya menyebut pot mengambil jiwanya, teman-temannya di Odd Future menyebalkan, pers mengetuk pintunya meminta wawancara. Earl terasing. Ia memilih mengurung diri di kamar, membusuk di sofa dengan wine putih dan Colt 45, mengenang neneknya yang sudah meninggal, temannya yang menjauh dan membuka album solo keduanya ini yang gelap dan klaustrofobik. Dalam durasi yang lebih pendek dari Illmatic, album ini melampaui debutnya, Doris. Baik dari konsep lirikal maupun musik, I Dont Like Shit sungguh sebuah album dengan kedalaman yang jarang ditemukan dari generasi MC terkini, terutama sebelia Earl. Dengan usianya yang masih 21 tahun, ia membuat album yang ‘dewasa’, menjauh dari imej rusuh dan brengsek Odd Future, kolektif dimana ia berasal. Flow monoton-nya tetap impresif dan sekaligus depresif. Rimanya yang kadang paranoid, terkadang skizofrenik, menemukan kontras yang aneh dengan musik yang 90% ia tulis sendiri yang berkabutkan The Neptunes dan Portishead. Kadang mellow menghanyutkan, kadang industrial, kadang hanya disonan monoton. Sulit untuk menyukainya saat pertama kali mendengar, namun ada hal magis yang unik yang membuat kalian memutarnya sekali lagi dan lagi, hingga kalian menyadari ini adalah salah satu album terbaik tahun ini.

05. Gangrene – ‘You Disgust Me’

01_0005_Layer 5Humprey Bogart, scene kriminal pada film dokumenter Police Tape 1976, Warhorse, Noir. Menakjubkan bagaimana Gangrene yang awalnya merupakan proyek kolaborasi, menjadi sebuah grup permanen yang tak hanya konsisten tapi pula produktif dan progresif. Dalam rentang waktu 3 tahun mereka telah merilis 7 rilisan, 4 E.P dan 3 album penuh. Tahun ini saja mereka memiliki dua album. Welcome to Los Santos yang dirilis awal tahun, dan You Disgust Me ini yang dirilis pada akhir November 2015 lalu. Itu soal konsistensi, bicara tentang Gangrene kita bicara lebih dari sekedar kolaborasi. Alchemist dan Oh No menyempurnakan tak hanya konsep musik Gangrene pada album ini, namun juga memberi perspektif dan pendekatan baru atas musik sampling. Alchemist, beatmaker alumnus Whooliganz, salah satu grup dari keluarga besar Soul Assasins, di era hiphop mengalami masa keemasannya. Ia menjadi produser besar pasca memproduksi musik bagi banyak rappers, dari Prodigy, Cypress Hill hingga Dilated People. Oh No, beatmaker dengan reputasi digger-nya yang nyaris selevel dengan kakaknya, sang sample maestro Madlib. Gangrene adalah proyek mereka yang tak hanya berkolaborasi beat namun pula bertukar rap bars, tepatnya lirik preman. You Disgust Me adalah album boombap pasca-boombap. Dua produser ini melakukan apa yang dilakukan Rick Rubin 30 tahun lalu terhadap album debut LL. Cool. J; menelanjanginya, membuang yang tak penting dan menyisakan apa yang menjadi tulang punggung dari sebuah lagu hiphop; beat. Hanya saja, Gangrene melakukan kebalikannya. Mereka melenyapkan beat dan menyisakan satu komposisi hook yang dipilih dan di-loop dengan ketekunan tingkat tinggi. Bila dibutuhkan sekalipun, beat tak lagi menjadi tulang punggung. Ia hadir disana sebagai ornamen tambahan. Hasilnya sungguh luar biasa, kalian masih bisa merasakan nuansa Black Moon dan Main Source meski beat tak hadir dominan. Tak banyak yang bisa melakukan ini dengan sukses. Ka, Roc Marciano dan Timeless Truth di antaranya. Highlite album terletak pada track “Reversals”, “The Man With the Horn”, “Gluttony” dan lagu pamungkas “The Hidden Land”. Sebagai bonus, Sean Price, Havoc dan Your Old Droog bertamu pada beberapa lagu.

04. Czarface – ‘Every Hero Needs A Villain’

01_0006_Layer 4Album sophomore dari trio 7L, Esoteric, and Inspectah Deck yang tak hanya memperbaiki apa yang kurang dari album debut mereka 2 tahun sebelumnya, namun pula memberi contoh bagaimana membuat album boombap progresif yang memanggil ulang ruh 90an dan sekaligus memperlihatkan bagaimana ia bisa lebih progresif dari album kekinian. Yang paling kentara adalah bagaimana 7L bereksperimen gila-gilaan dengan hook dan drumbreaks tanpa harus terdengar eksperimental. Ia tetap berada dalam khittah boombap ala Marley Marl, RZA dan Large Pro, namun bagaimana ia mencomot, men-chop dan mengkomposisi samples agak diluar perkiraan. Ia tak hanya bergantung pada satu samples dan menambahkan hard-knocking drum seperti wajarnya hiphop 90-an. 7L bermain tekstur, multi-drumbreaks, bahkan merakit hook dengan teknik live cuts ala DJ tradisional 80an. Hasil paling maksimalnya bisa didengar pada track “Ka-Bang!” yang disambangi MF Doom dimana 7L meramu booming kick 808 dengan comotan samples dari lagu tradisional India/Pakistan, atau pada “When Gods Go Mad” yang dengan impresifnya, 7L enam kali berganti-ganti hook sebelum kemudian menyediakan kanvas psychedelic yang luar biasa bagi GZA menutup lagu. Every Hero Needs A Villain pula memperlihatkan chemistry yang semakin mantap antara Inspektah Deck dan Esoteric. Berangkat dari template bragadocio dengan fantasi komikal, Deck dan Eso tahu persis bahwa mereka tak harus berlebihan dan membuat konsep aneh-aneh. Just straight-forward savage emceeing. Sompral yang dilakukan dengan intensitas tinggi, semisal “Y’all don’t want any of this, score without any assist / Sound boogie down like the brothers Kenny and Kris / Get a better serve, your dream has been deferred / That ain’t God’s path, you’re a pathetic herb.” Daftar tamu pun cukup impresif meski agak berlebihan. Namun sekali lagi, 7L berperan besar dalam membuat surplus tamu ini tak terasa mengganggu. Bagaimana ia membuat track yang sangat ‘Main Source’ ketika Large Pro hadir, membuat nyaman Method Man, bahkan nampaknya 7L adalah orang yang tepat untuk memproduksi album Meyhem Lauren dan RA Rugged Man, setelah mendengar dua track yang disambangi mereka. Album ini sangat enjoyable, bahkan bagi kalian yang bukan penggemar Inspektah Deck atau Esoteric selama mereka belum bergabung dalam proyek ini.

03. Rast – ‘Across West 3rd Street’

01_0007_Layer 3Rast membuka album ke-3 nya ini dengan penuturan singkat tentang latar belakang hidupnya, orang tuanya yang aktivis Black Phanter di era gerakan sipil 60-an, bagaimana ia hidup di lingkaran kemiskinan, terlibat dalam kehidupan gang, kriminalitas dan dunia gelap NY hingga kemudian ia berusaha keluar dari sana dan total berubah menjadi seseorang yang berbeda. Di atas gitar doo wop, testimoninya ini terdengar sangat auratik dan menjadi arwah sepanjang kurang lebih 40 menit album ini berlangsung. Tentunya ada hal yang sangat penting mengapa Rast berbeda dengan Cheef Keef atau siapapun yang bercerita tentang kebrutalan kehidupan gang dan pojokan gelap ghetto. Rast bercerita dengan sangat detail dan puitik, namun ia tidak menglorifikasinya seperti Mobb Deep (dimana Rast mengakuinya sebagai inspirator). Sedangkan pada sisi lain, Kool G Rap mempelopori crime-rap semodel ini, namun kebanyakan lagunya adalah cerita yang berangkat dari kisah nyata. Mendengar Rast, kalian seolah mendengar cerita tentang kemiskinan dan dunia kriminal dari perspektif orang pertama. Accross West 3rd Street mirip pengakuan raja kokain level kabupaten yang tobat namun caranya bercerita sangat menarik sehingga kalian merasa tak sedang mendengar kisah membosankan tentang penyesalan. Ia seolah paham persis bagaimana mentalitas anak muda yang tertarik pada gaya hidup gangster sehingga ia memilih untuk bercerita sedetilnya untuk menarik perhatian mereka. Namun itu baru satu poin alasan mengapa album ini begitu luar biasa. Rast akan terdengar berbeda bila ia memutuskan untuk nge-rap di atas beat 808 dan clap kekinian. Sebaliknya, Rast merakit musik hiphop yang template-nya diambil dari boombap 90an, namun bedanya, ia tidak mengeksekusinya dengan ‘benar’, seolah membiarkan beat berfungsi sebagai latar belakang, termasuk saat ia meminjam beat Cypress Hill “I Wanna Get High” yang tak ia pakai sewajarnya. Pemilihan sample yang mayoritas dari musik pop 50-an juga berperan menghasilkan efek eklektik yang gelap. Mirip nuansa yang kalian dapat ketika menonton film Tarantino dengan musik soundtrack khasnya. Pula cara Rast dalam mengeksekusi semua cerita ini dalam album yang bernuansa demo. Ini tentunya bukan tidak disengaja. Perbandingan volume antara vokal dan musik yang jomplang ini menghasilkan efek aneh yang eklektik, terlebih ketika Rast memberi efek echo pada kanal vokal yang bahkan kadang terdengar ‘pecah’ seolah mulutnya terlalu dekat dengan mikrofon saat ia mengeksekusinya di studio. Mendengar Accross West 3rd Street hampir mirip dengan pengalaman pertama kali mendengar Ka atau Public Enemy atau Cypress Hill dahulu sekali.

02. Kendrick Lamar – ‘To Pimp A Butterfly’
01_0008_Layer 2Sejujurnya, sebelum album ini, saya tak pernah mendengar Kendrick Lamar secara serius. Bahkan saya menganggap Section 80 lebih menarik dari Good Kid, Maad City. Meski saya menyetel verse-nya yang luar biasa pada lagu “Control” berulang-ulang saat lagu itu heboh (minus verse Big Sean dan Jay Elec tentunya), satu-satunya lagu Kendrick dalam playlist harian hanya “Reagan Era”. Ketika hype album ini beredar, saya mendengarnya dengan anggapan album ini hanya Good Kid Mad City part ke-2. Semuanya luntur tepat ketika kali pertama album ini saya putar. Ini album hiphop paling ambisius, kompleks dan cerdas sejak 20 tahun terakhir. Lamar menulis album yang tidak satu dimensi, ia personal sekaligus politis. Provokatif pula oto-kritik. Lamar menulis tentang kebrutalan polisi dan sistem politik di Amerika dengan ironi yang ia pajang bersamaan dengan mengkritik kaum kulit hitam sendiri yang saling membunuh di bawah gaya hidup gangster lewat celaan terhadap dirinya sendiri; “So why did I weep when Trayvon Martin was in the street?/ When gang banging make me kill a nigga blacker than me?/ Hypocrite!”. Ia menulis semua itu dalam 16 lagu dengan fokus topik berbeda-beda. Dari persoalan dunia hedon kulit hitam, fame, cerita soal ibunya hingga hiphop state-of-mind (pada lagu ‘Hood Politics’ ia berujar dengan sinis; “Critics want to mention that they miss when hip hop was rappin’ / Motherfucker, if you did, then Killer Mike’d be platinum”). Semuanya ia hadirkan dengan presentasi MC-ing yang maha ajaib. Flow dan delivery yang rhythmik dan tak pernah monoton mulai dari flow L.A yang malas-malasan hingga yang total agresif. Bahkan ia melakukan spoken words impresif ala The Last Poets dan Amiri Baraka dalam beberapa lagu. Cadence yang beragam dan warna suara yang berubah-rubah mengikuti emosi lagu dan lirik. Liriknya lebih puitik dan subtle dari sebelumnya tanpa meninggalkan realisme jalanan yang selalu hadir pada setiap verse-nya; “It’s funny how Zulu and Xhosa might go to war/ Two tribal armies that want to build and destroy/ Remind me of these Compton Crip gangs that live next door/ Beefin’ with Pirus, only death settle the score”. Lamar menghadirkan percakapan tentang kondisi mental, ekonomi, politik dan budaya kulit hitam dengan dirinya sendiri, bahkan retrospektif gelap ini ia lakukan dalam bentuk wawancara imajiner dengan pahlawannya, Tupac Shakur, di penghujung album dalam lagu yang berdurasi 12 menit. Album ini tak akan sehebat yang dibicarakan bila saja musiknya tak seambisius rimanya. Pimp the Butterfly memiliki spektrum musik (kulit hitam) yang luas dan kompleks. Lenyap sudah beat 808 dan hihat sibuk kekinian yang biasa ia pakai tergantikan oleh rangkaian P-funk ke G-funk, jazz fusion ke neo-soul, R&B dan straight-up boombap yang diproduksi dengan bantuan satu tim produser/beatmaker. Dengan comotan sample dari koleksi Boris Gardiner, James Brown, Zapp & Roger Troutman, Lalah Hathaway, The Isley Brothers hingga Fela Kuti. Pula ia mengundang sejumlah tamu untuk melengkapi kompleksnya musik album ini, dari George Clinton dan bassis Suicidal Tendencies/Erykah Badu, Thundercat, Bilal, Flying Lotus hingga ikon boombap, Pete Rock. Pimp A Butterfly bukan tipe album yang mudah kalian cerna dalam satu dua kali putar, meski kalian paham ada sesuatu yang kuat disana ketika pertama kali mendengar. This album is a game changer. Waktu yang akan menilai apakah ini adalah Illmatic bagi generasi sekarang.

01. Dr. Yen Lo – ‘Days With Dr. Yen Lo’
01_0009_Layer 1Im a sucker when it comes to Ka’s works. Bagi yang masih asing, Ka adalah seorang anggota pemadam kebakaran yang pula veteran hiphop dari era 90an. Profilnya sering saya bahas dalam beragam resensi di blog ini. Dr. Yen Lo adalah proyeknya bersama beatmaker Mos Def, Preservation. Menggunakan moniker Dr. Yen Lo, tokoh dongeng propaganda era perang dingin dari film John Frankenheimer, The Manchurian Candidate, album ini dituturkan mirip skena film. Setiap lagu bertitel ‘Days’ dengan marka angka berbeda, mirip catatan harian. Days with Dr. Yen Lo meminjam tekstur sonik noir dari film tersebut untuk menghadirkan atmosfer paranoid dengan setting lokasi sebuah ghetto dan kehidupan harian yang berlangsung disana. Tema sentral album ini adalah indoktrinasi kelas pekerja kulit hitam lewat lingkaran kekerasan yang diinstitusikan, ‘rehabilitasi’, dan kemiskinan yang akan menarik mereka kembali. Dengan teknik penulisan rima khas Ka, plot ini tersusun dengan sempurna. Rap bars milik Ka selalu kompleks, ia memiliki kemampuan bercerita banyak hanya dalam satu kalimat. Saat ia mendeskripsikan kebrutalan kultur kekerasan di teritori yang membusuk, ia hanya memerlukan 2 bar penuh silabel; “When you’re raised around rage and vengeance/ You can change, but in your veins remains major remnants.” Rima Ka selalu berlapis dan bermakna ganda sedemikian rupa sehingga ia memiliki kemampuan bercerita dalam 2 bars apa yang para MC biasa ceritakan dalam 2 verse. Ultimate wordsmith. Cara penyampaian Ka masih tetap sama; dengan nada yang dingin, pitch rendah, monoton dan hipnotis. Rima reportase nokturnal dan lanskap suara jalan sempit kampung kumuh. Secara musikal, album ini mirip album Ka sebelumnya, mengambil serpihan kesadaran kolektif para hiphophead 80-90an dan memajangnya telanjang setelah berhari-hari dianalisa dengan tekun. Dalam hal ini mungkin sebutan ‘beat-maker’ bagi Preservation bisa digantikan dengan ‘soundscape-maker’, karena album ini hadir nyaris tanpa beat. Days with Dr. Yen Lo adalah album M.O.P., Double XX Posse atau Black Moon, yang semua energinya terserap dalam kegelapan pojokan kota dan menyisakan esensinya dalam bentuk potongan chop sample dari musik occult 70an yang berulang pada sebuah E-mu SP-1200. Preservation melakukan tugasnya dengan sempurna, ia paham seperti apa musik yang cocok bagi rima Ka. Dalam momen tertentu bahkan ia menambahkan elemen komposisi baru, seperti elemen psychedelic pada  menit terakhir ‘Day 912’. Banyak yang beranggapan ini bukan hiphop, terlebih boombap. Ok, silakan sebut titel lain semisal hypno-hop atau disco-drone, jika hanya perkara sebutan. If you still dont get it, its ok. Nothing in this album is approachable for mass consumption. But doesnt mean its not the dopest in 2015.

Honorable Mentions
Sadat-X – Never Left
KRS One – Now Hear This
Cannibal Ox – Blade of the Ronin
Large Professor – ReLiving
Scarface – Deeply Rooted
Joey BadA$$ – B4.DA.$$
Guilty Simpson – Detroit’s Son
Ghostface Killah & BadBadNotGood – Sour Soul
Ghostface Killah & Adrian Younge – Twelve Reasons To Die II
Jedi Mind Tricks – The Thief and the Fallen
The Alchemist – Israeli Salad
Apollo Brown – Grandeur
Rapper Big Pooh & Apollo Brown – Words Paint Pictures
Statik Selektah – Lucky 7
Rapper Big Pooh & Nottz – Home Sweet Home
Skyzoo – Music For My Friends

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here