Album Hiphop Terbaik 2016

Nampaknya harus ada pepatah jejadian baru setelah 2016 ini; “Jangan pernah membuat list apapun sebelum tahun benar-benar akan berakhir”. Q-Unique dan Run The Jewels merilis album di minggu terakhir bulan Desember. Daftar yang disiapkan di awal bulan, terpaksa sedikit berubah. Dua album itu memang luar biasa sehingga saya mengikhlaskan satu album keluar dari daftar, meski satu album lainnya sulit untuk digeser apapun alasannya. Oleh karena itu, jumlah 11 ini tak usah lagi ditanya mengapa harus 11. Tapi bagaimanapun, 2016 adalah tahun yang menyenangkan dalam soal mengkonsumsi musik hip hop. Untuk setiap satu album mumble rap yang lahir di planet bumi, seolah hadir pula satu album yang layak kalian luangkan waktu khusus untuk mendengarnya. Beberapa sesuai ekspektasi, beberapa lainnya terlupakan dalam hitungan hari. Dari veteran (Apathy, J-Zone, Kool Keith) hingga MC dekade ini (Torae, Beneficence, Reks) merilis album-album solid. De La Soul dan AFRO akhirnya pula mengeluarkan album sesuai janjinya meski hasilnya tak seperti yang saya bayangkan. Untuk pertama kalinya album The Game bisa dinikmati justru ketika ia melakukan upaya throwback memberi tribut bagi hiphop 90-an. Childish Gambino mengejutkan banyak orang dengan album yang sama sekali tak melibatkan rap dan bereinkarnasi menjadi Sly and the Family Stone versi tahun duaribubelasan. Meyhem Lauren merilis dua album tahun ini dan untuk pertama kalinya saya mendengarkan serius album Macklemore. La Coka Nostra tanpa Everlast meski tak buruk namun mulai membosankan, mereka sudah harus mengganti nama proyek tersebut dengan yang lebih realistis seperti “Ill Bill vs Slaine”. Mixtape Ill Bill justru malah sangat menarik, menandakan akhir dari perang dinginnya dengan Goretex. Mari berharap album reuni Non Phixion hadir di 2017. Oke, pengantar ini sudah cukup memenuhi syarat 300 kata. Langsung saja. Berikut adalah 10 + 1 album terbaik tahun ini yang sangat berjasa mengobati kekecewaan akut pasca mendengar album Prophet of Rage. Selamat tahun baru!*** (HS)

 

11. Masta Ace – The Falling Season

2016 adalah tahun kembalinya banyak veteran. Sang legenda rap berkonsep, Masta Ace ini salah satunya yang masih sangat relevan. Setelah album kolaboratifnya dengan MF Doom empat tahun lalu, ia kembali dengan album baru yang (pula) berkonsep. Kekhasan storytelling dan kecakapannya dalam melakukan beragam gaya dan beradaptasi dengan apapun jenis mood beat yang ia kendarai, tak sedikitpun hilang di sini. Konsep album ini adalah (seperti ilustrasi pada sampul albumnya) melihat kembali hari-hari zaman SMA-nya, dan kemudian mengajak pendengarnya ikut mendalami ketika ia melakukan retrospeksi atas apa yang ia alami hari ini. Keseluruhan album ini diproduseri oleh beatmaker bernama Kic Beats yang konon menurut Ace merupakan beatmaker wahid yang memiliki pola produksi unik. Sang produser tersebut tidak memakai banyak samples dalam proses pembuatannya, melainkan bermain-main dengan instrumen live yang ia manipulasi sedemikian rupa di studio hingga materi tersebut memiliki karakter “warm/fat feel” selayaknya suara musik sample-based. Rima tamu dalam album ini cukup kuat; dari Chuck D, Hypnotic Brass Ensemble, Cormega, AG (DITC) hingga Your Old Droog, Wordsworth dan Queen Herawin dari the Juggaknots. Meski skitnya agak menganggu, album ini cukup fantastis, dan salah satu album terbaik di deretan diskografi sang inspirator Eminem ini.

10. Timeless Truth – Cold Wave

Album kedua dari duet MC/produser Dominika asal Queens NY, Oprime39 dan Superbad Solace. Banyak anggapan album grup-grup seperti Timeless Truth mudah ditebak hasilnya; tipikal ‘album New York’. Ya memang, TT memproduksi album yang tak pernah bersuara jauh sejak debut mereka 6 tahun lalu. Rap New York dengan attitude New York di atas boombap New York.  Cold Wave is a fuckin New York album. Pula karakter sound mereka yang berlumut dengan tekstur Wu-tang era awal, meski kadang drumless track muncul (bagaimanapun, TT merupakan salah satu pelopor komposisi drumless bersama Roc Marci). Selalu menarik untuk mendengar musik TT, yang memiliki eklektisme yang nostalgik hasil dari penggunaan sample yang dipilih telaten dari mulai prog-rock, blues hingga string soundtrack film 70-an dan hard funk. Lirik mereka tetap cerdas dan memikat, merentang dari mulai perihal industri musik, trend yang membuat standar kekerenan dalam hiphop menjadi menyebalkan, kisah kriminal khas Queens (tempat Jam Master Jay tewas ditembak) disampaikan dengan dengan teknik multi silabel yang impresif. Kombinasi bait mereka tetap mewarisi adukan pas dari tough talk dan moral ghetto ala 93an; “Cut ties with some guys for spiritual sobriety/ I keep it peace, but always keep a piece beside me”. Ill Bill dan Your Old Droog diundang mengisi, dan mungkin verse Sean Price di album ini merupakan salah satu karya terakhirnya sebelum ia meninggal dunia. Dan bicara tentang ‘album New York’, sebagai catatan tambahan, sebagian beat album ini diproduksi oleh Large Pro dan El RTNC, salah satu arsitek revivalisme vintage boombap New York. Well, what do you expect then? Its a fuckin New York album.

09. Havoc & The Alchemist – The Silent Partner

Proyek ini agak mengejutkan, karena meski pernah diprediksikan, tak ada pemberitahuan apapun sebelumnya bahwa mereka membuat album kolaborasi penuh. Havoc yang selama ini merupakan juga beatmaker Mobb Deep, kali ini membiarkan The Alchemist memproduksi semua beat dalam album ini dan ia mengambil kendali penuh di mikropon. Terus terang, saya tak pernah tertarik mendengar album solo Havoc. 5 album solonya saya lewatkan tanpa penyesalan karena memang sungguh buruk. Album solo tandemnya di Mobb Deep, Prodigy, jauh lebih menarik. Saya memberi album ini kesempatan awalnya karena faktor Alchemist. Rasanya tak satupun proyek Alchemist yang gagal, terutama Gangrene. Dengan Al di belakang board dan Havoc sepenuhnya di belakang mic, The Silent Partner secara mengejutkan pula terdengar begitu impresif. Bagaimana Alchemist memilih hook-hook sederhana (satu lagu bahkan seolah mengambil potongan music box) dan menyandingkannya dengan drumbreaks boombap renyah yang bersuara sangat organik. Beberapa bersuara seperti musik cek sound Bobby Caldwell di sebuah klab, beberapa lain berusaha menduplikasi mood sinister Mobb Deep era The Infamous, beberapa lainnya mengulang kesuksesan Al ketika membuat musik tanpa beat seperti Roc Marciano dan Ka. Performa rima Havoc pun tanpa disangka cukup prima. Nampaknya memang zona nyaman Havoc adalah ‘zona perang’. “You can say I’m paranoid, I don’t give a fuck, though / I don’t trust a motherfucker, everybody cut-throat.” Nihilistik, grimmy, anti sosial. Seharusnya memang ia terus berada di zona ini untuk tetap relevan. Tetap menyusun skema rima ala tiga album pertama Mobb Deep. Hanya ada 3 tamu di sini, Method Man dan Cormega sukses menyempurnakan. Dan duet bersama Prodigy pada “The Gun Holds a Drum” adalah obat penyembuh patah hati pasca mendengar Mobb Deep belakangan ngerap di atas beat southern yang lebih buruk dari apapun yang pernah kaliah dengar dari Lil Wayne.

08. Vinnie Paz – The Cornerstone Of The Corner Store

Vinnie Paz adalah figur rapper yang memiliki banyak kontradiksi dalam identitasnya. Seorang Italia tulen yang beragama Islam, seorang gangster yang membaca Emma Goldman dan Alexander Berkman, provokator teori konspirasi yang gencar pula bicara tentang rasionalisasi politik warga seperti Dead Prez. Fans maniak olahraga tinju dan musik hardcore/metal ekstrim. Namun satu hal yang membuat ia tetap relevan; betapa konsistennya ia berkarya, membuat album demi album dalam beragam proyek. The Cornerstone Of The Corner Store adalah album solonya yang ke-4. Dan nampaknya, ia sudah mulai menemukan harus seperti apa album solo bersuara, karena selama ini nyaris tak ada bedanya dengan proyeknya yang lain, dari mulai Jedi Mind Tricks, Army of the Pharaohs atau Heavy Metal Kings. Dengan musik yang diproduseri oleh beragam beatmaker paten (dari J-Zone, 7L, DJ Eclipse hingga Psycho Les), album ini adalah yang terbaik yang pernah Paz buat. Momen emasnya hadir di saat Paz bersompral ria di atas beat mega boombap dari sang maestro Buckwild. Juga ketika ia dan Ghostface Killah berbagi mic dalam ring tinju di atas beat racikan adik Madlib, Oh No. Ada dua hal yang menghalangi album ini menjadi sempurna; chorus-chorus yang medioker nan membosankan dan beat-beat butut C-Lance yang terdengar seperti beat generik dari soundbank keyboard Casio. C-Lance pula yang merusak track epik penutup album “Writings on Disobedience and Democracy”, yang merupakan sequel interpretasi hardcore dari buku Howard Zinn (“You Can’t Be Neutral On A Moving Train”) dari album Paz sebelumnya. Bayangkan saja, rima kolosal Paz berpuluh-puluh bar dalam rentang waktu 7 menit harus dinikmati dengan musik payah yang sangat tak sepadan. Keberadaan C-Lance juga yang membuat nila di susu sebelanga pada semua proyek Paz, mungkin ini saatnya Paz memecat C-Lance. Namun bagaimanapun, dengan growl khas, rima non-kompromis, kedalaman lirik yang cerdas, Vinnie Paz adalah salah satu antitesa dan antidot prima dari wabah mumble rap hari ini. Album ini adalah epitomnya.

07. Apollo Brown & Skyzoo – The Easy Truth

Sulit untuk melewatkan tahun tanpa satupun album Apollo Brown. Hari ini, Brown sudah bisa disebut salah satu produser yang tak hanya paling produktif tapi juga paling konsisten dalam mempertahankan boombap dengan ciri khasnya. Di 2016 ini Brown merilis dua album, satu bersama grupnya Ugly Heroes, satu lagi adalah kolaborasinya dengan rapper Brooklyn, Skyzoo. Ugly Heroes tidak buruk, hanya saja sulit untuk bisa mengalahkan chemistry yang lahir dari album ini. Musik boombap Brown memiliki kekhasan warna Detroit yang soulful dan Motown-esque (tak mungkin melupakan J-Dilla) menemukan lokasi imajinatif baru pada rima jalanan Skyzoo yang mengambil Brooklyn sebagai inspirasi utama. Jadi bisa dibilang The Easy Truth adalah boombap Detroit dengan cerita Brooklyn, atau rap Brooklyn dengan citarasa Detroit. Sulit untuk bosan dengan beat Brown yang melankolik itu bahkan ketika sample yang dipakai pula pernah dipakai beatmaker lain sebelumnya. Misalnya saja lagu “On the Stretch and Bob Show” (yang merupakan lagu tribut untuk acara radio legendaris Stretch Amstrong & Bobbito) ia mengambil sample Bubble Gum Machine yang pernah dipakai Black Sheep dahulu sekali. Kadang Brown melakukan hal tak biasa tapi efektif, misalnya pada lagu “Jordans & a Gold Chain” yang mengambil sample ala Nina Simone terasa lebih muram justru ketika boombap absen disana. Rima Skyzoo nyaris tak berubah dengan apa yang selalu hadir di album solonya; memiliki daya tarik untuk masuk ke dalam ceritanya dengan detail-detail storytelling memukau. Tentang hiphop dan Brooklyn, tentang mimpi-mimpi ghetto, tentang memori masa kecilnya yang muram dan tak pernah bersahabat dengan polisi dan kemudian menyambungkannya dengan fenomena beberapa tahun terakhir di mana (departemen) polisi tak kunjung pula berubah.

06. Czarface – A Fistful Of Peril

Ada alasan khusus mengapa sejak awal proyek trio ini diidentikkan dengan komik (terutama wilayah visual, sampul album mereka misalnya), setiap album mereka memang terdengar seperti membaca komik; penuh petualangan, action-packed, menghentak-hentak dan nostalgik pada saat yang bersamaan. Tak terkecuali album ketiga mereka ini. Hanya saja, setelah berminggu mendengarkannya, album ini membuktikan asumsi saya bahwa setelah Every Hero Needs A Villain akan sulit bagi sang beatmaker, 7L, untuk melampaui kualitas musik album ke-2 mereka tahunlalu yang sangat cemerlang. A Fistfull of Peril ini sebetulnya cukup fantastis dan kembali menempatkan 7L sebagai salah satu beatmaker ‘tradisional’ yang ‘progresif’ paling penting hari ini. Dengan hardcore boombap yang jauh mengakar pada estetika yang sama yang melahirkan Enta Da Stage, Bacdafucup dan Ruff, Rugged and Raw, 7L mempatenkan cetak biru musik Czarface. Jauh dari kesan sekedar mereproduksi ulang, melampaui hiphop 90-an dengan komposisi unik, pola drum aneh dan breaks yang jarang dipakai produser lain. Ia masih sering melakukan hal yang tak lazim; menyisipkan sample unik, stab string, potongan gitar fuzz, synth yang atmosferik, suara laser dari film sci-fi jadul dan elemen psychedelic di tengah komposisi, menginterupsi kemonotonan, berganti beat setiap 16-24 bar. Hanya saja dilihat dari hasilnya, jika album ke-2 mereka, Every Hero Needs A Villain, berkali lipat lebih enerjik, lebih raw, tajam dan lebih liar dari debut mereka, tidak demikian adanya dengan album ini meski tak ada yang berubah dalam hal proses kreatifnya. Meskipun demikian nyaris tak ada album hiphop di tahun ini yang seabrasif A Fistful Of Peril dalam hal mengkonstruksi bangunan lagu dari potongan samples. Bahkan yang mendekati sekalipun. Kalian masih bisa menemukan lagu dengan komposisi abnormal, dengan 3 fragmen, dengan prelude ganjil dan drone aneh muncul di tengah verses. Sebaliknya, di departemen lirik, Inspektah Deck dan Esoteric semakin liar. It’s rapping for rapping sake in its best format. Lanskap imajinatif komik memberi mereka berdua wilayah bragadocio yang tak kepalang tanggung. Permainan karakter mereka kadang refleksi dari dunia nyata, kadang memperbuasnya hingga level komikal yang menggelikan. Meski tak ada beat yang seagresif “The Great” atau “Escape From Czarkham Asylum”, kita masih menemukan keunikan eksperimen boombap pada “Revenge On Lizard City” dan (lagu terbaik di album ini) “Steranko” bertamukan Meyhem Lauren dan Rast RFC yang mencuri perhatian di akhir lagu.

05. Run The Jewels – Run the Jewels 3

El-P dan Killer Mike sempat mengumumkan akan merilis album barunya di awal tahun 2017, maka ketika album ini dirilis secara digital pada hari Natal kemarin menjadikan ini kejutan akhir tahun lainnya di 2016 selain album baru Q-Unique yang selang beberapa hari rilis. Tak ada alasan lain untuk menunda mendengarkan kolaborasi dua monster veteran mikrofon yang dalam beberapa tahun terakhir memberi lagi ruang bagi hiphop sebagai media provokasi politik dan ruang politik menjadi lantai dansa. Terlebih ketika berbicara tentang Atlanta dan Brooklyn, dua kota yang selama ini berada dalam dua kutub yang berbeda dalam hal estetika hiphop. Killer Mike dan El-P adalah salah satu dari sedikit saja MC yang memiliki chemistry ajaib dan melampaui banyak hal, termasuk dalam hal dobrakan lirik dan musik. Mereka bicara tentang naiknya fasisme, tentang suramnya dekade di era ISIS menjadi teror baik di dunia nyata pula virtual. Di album ini mereka tetap menjadi bandit yang cocok dalam ‘politically correctness’ hiphop, berbicara politik dengan attitude Ice Cube di awal 90an yang tak pernah meminta persetujuan siapapun. Politik jari tengah. Di era demokrasi dibajak kaum kanan dan mayoritas massa memilih tirani sebagai pemimpin, sikap politik ini menjadi sangat menarik. Melampaui ekspektasi, album ini meneruskan pola produksi El-P yang memaksimalkan konsep ‘wall of sound’ dan abrasifnya noise yang dibangun dari sample dan setumpuk synth-nya, sambil tetap memberi ruang bagi beat untuk bernafas di beberapa momen. Seperti halnya dua album terdahulu, musik Run The Jewels masih sangat enjoyable bagi hiphopheads ortodoks, mungkin karena detournement El-P diiringi pula dengan pengalamannya besar di era 90-an yang membuatnya sangat paham estetika boombap dan meminjam elemennya untuk beat southern-inspired nya. Mungkin pula kita semua terbiasa mendengar Company Flow, Cannibal Ox dan semua diskografi solo El-P yang pembendaharaan soundbank-nya berserakan di album ini. (Sample shout dari lagu klasik “It Takes Two” milik Rob Base & DJ EZ Rock pada lagu “Call Ticketron” membuat saya joget kegirangan.) Dengan pendekatan demikian, album ketiga Run The Jewels ini secara musikal semakin meningkat eskalasi goyangnya. Ambil saja dua lagu sebagai contoh, “Hey Kids (Bumaye)” dan “Call Ticketron” tadi. Bagi para DJ, putar dua lagu ini sekencang mungkin di klab kalian, dan silakan liat respon instan crowd di hadapan kalian. Yang cukup membuat saya senang adalah ketika pada beberapa momen album ini El-P mengunjungi lagi corak musik dua album pertama solonya. “Phanter Like Phanter” yang luar biasa aduhai mengingatkan saya pada “Tasmanian Pain Coaster” dari albumnya I’ll Sleep When You’re Dead. Juga track profetik “Thursday in the Danger” yang mengundang kembali ingatan ketika pertama kali mendengar “Stepfather Factory” dari debut fantastisnya “Fantastic Damage”. Sebagai bonus istimewa, di akhir album Zack De La Rocha kembali bertamu, menutup album dengan sempurna. Dengan intensitas seperti ini, rasanya di waktu ke depan Killer Mike dan El-P harus berupaya ekstra keras untuk menghadirkan RTJ dalam format yang tidak menjadi pengulangan. Karena saya tidak yakin, RTJ4 akan bersuara lebih hebat dari ini. Mungkin 2017 adalah waktunya untuk album solo El-P yang baru. Mungkin.

04. Q-Unique & The Brown Bag All Stars – BlaQ Coffee

Sungguh menyedihkan jika album salah satu rapper favorit dari rapper favorit kalian terdengar senyap nyaris tak terdengar baik promo atau geliatnya. Q-Unique adalah satu-satunya rapper terbaik yang tersisa dari crew b-boy legendaris Rock Steady Crew dan frontman salah satu grup rap NY paling penting, Arsonists. Cukup lama ia tak merilis album. (album Stillwell, grup hip-metalnya yang buruk itu tak masuk hitungan). Tiba-tiba saja album ini muncul, out of nowhere. Beberapa minggu sebelum 2016 berakhir. Mungkin jika saya tidak mengikuti Q-Unique di media sosial, album ini pula tak akan tertangkap radar sama sekali. Kali ini ia bekerja sama dengan kolektif beatmaker dari Brown Bag AllStars (J57, Audible Doctor dan DeeJay Element), yang merupakan pula label mate-nya di Fat Beats. Sungguh mengejutkan bagaimana beat boombap ala Brown Bag sangat menyatu dengan flow tajam dan wordplay Q-Unique. Memaksimalkan sample loop piano, flute, string vintage dan rhodes dari rekaman-rekaman soul lawas dengan breaks-breaks funk liar. Dari mulai yang sangat Beastie Boys era Check Your Head seperti “3 for the Paper” hingga “One Door Close” yang mengingatkan kita pada “Shadowboxin”, lagu opus milik GZA. That good ole New York underground sound. Trio produser Brown Bag cemerlang sepanjang album, bahkan saya pikir BBA tak pernah sesolid ini pada diskografi lampau mereka. Tentunya Q-Unique lah yang membuat Blaq Coffee ini layak kalian cari rilisan fisiknya. Ia melakukan victory lap di tiap lagu, tanpa satupun lagu dengan tamu MC lain. Delivery dan cadence khasnya tetap cemerlang apapun mood-nya. Berefleksi, bermeditasi, bercerita suram atau ber-nonsense ria dan ugal-ugalan. Dengan jumlah 10 lagu dalam durasi yang kurang dari 30 menit, album ini sungguh pas, terutama ketika kalian memutarnya berkali-kali, tak terasa tak ada satupun lagu yang harus kalian skip. Solid piece. Rasanya ini bisa disebut album terbaik yang pernah Q-Unique buat.

03. Dälek – Asphalt For Eden

Setelah hiatus selama 7 tahun sejak album terakhir mereka dirilis, Dälek kembali di tahun 2016 dengan line-up baru. Sang beatmaker/soundscapemaker, Oktopus aka Alek Momin, memutuskan untuk tidak terlibat dalam album ini sejak ia pindah ke Berlin. Namun ia memberi izin Will Brooks untuk melanjutkan proyek Dälek. Will kemudian merekrut DJ lama mereka di era 90-an, Reks, dan Mike Manteca (gitaris grup noise eksperimental Destructo Swarmbots). Mereka masuk ke studio selama setengah tahun pertama 2016 dan merilis album luar biasa ini di bawah label metal ekstrim Profound Lore. Dälek tentunya akan selalu dikenal dengan musik hiphopnya yang mengambil tongkat estafet eksperimental kebisingan dari sang pelopor, The Bomb Squad (tim beatmaker Public Enemy). Mereka meneruskan sisi avant dari hiphop, meramu boombap yang berpetualang dengan sound shoegaze, noise berlapis, ambient yang mereka kuasai dan populerkan lewat diskografi mereka yang terbentang sejak 1998 dalam 5 album solid, satu EP dan satu album kolaborasi dengan sang maha guru Krautrock, Faust dari Jerman. Satu hal yang sangat signifikan pada Asphalt For Eden ini, tidak lagi dominannya sound drum boombap monolitik yang menghentak. Mereka menggantinya dengan kick 808 dan snare renyah atau bahkan klik dan handclap ala J-Dilla. Upaya ini ternyata memberi ruang besar bagi ambient dan drone berbicara. Lebih menyerupai beat yang di-filter sedemikian rupa lalu ditaruh di belakang berlapis kabut ambient. Pendekatan seperti ini membuat harmoni dan melodi dari soundscape yang mereka bangun menjadi lebih kentara dari rilisan-rilisan mereka sebelumnya (track berjudul “6db” merupakan contoh sempurnanya). Seperti album mereka lainnya, vokal Will Brooks (yang sangat mirip Rakim itu) terkubur di antara belantara kebisingan. Namun proses mixing yang piawai membuat suara vokal itu tetap terdengar cukup jelas. Secara lirikal, atmosfer sosial politik Amerika dan dunia hari ini yang muram membuat rima distopian Dälek menjadi sangat relevan. Berdurasi 30 menit, album ini relatif lebih pendek untuk ukuran Dälek. Terdengar agak menggantung meski ditutup dengan track melankoli yang terdengar seperti potongan musik Brian Eno setelah melewati beberapa efek pedal distorsi. Selamat datang kembali, Dälek. Konon album mereka selanjutnya yang sedang dalam proses akan dirilis kembali oleh label Mike Patton, Ipecac. Penasaran akan seperti apa hasilnya.

02. Ka – Honor Killed the Samurai

Mortar sunyi, kekacauan hening. Calm like a bomb. Ka berhenti membuat boombap mulai album ke-2 nya. Mulai merangkai komposisi yang lebih menyerupai soundscape dibanding sebuah komposisi beat rap konvensional seperti umumnya di hip hop. Mulai ngerap dengan setengah berbisik, menuntut pendengarnya untuk mendengarkan lebih dekat apa yang ia coba katakan. Honor Killed the Samurai adalah album ke-4 yang ia buat dengan formula seperti ini. Berangkat dari konsep kode kehormatan tertinggi dalam bushido; Seppuku atau hara kiri, di mana sang individu membunuh dirinya sendiri sebagai bentuk penolakan tertangkap musuh dan kehilangan kehormatan. Ka memberi kita dua poin penting konsep album ini; pertama metafor atas prinsipnya yang memilih jalan pedang di bawah tanah, sebagai veteran skena hiphop NY yang memilih mati bersama kehormatannya membuat musik dan lirik yang ia inginkan, tanpa sedikitpun melibatkan apapun yang hari ini ‘menjual’ dari hiphop. Kedua, ia memposisikan sebagai seorang samurai yang memiliki keyakinan menjadi seorang individu yang rendah hati, menolong sesama dan lebih menghargai pengetahuan dibanding kekuatan materi dan uang. Namun dunia tak pernah mengizinkan seseorang untuk sedemikian idealnya menjadi samurai, Ka bercerita bagaimana ia pada perjalanan hidupnya melakukan hal-hal mengerikan menjual drugs dan menyakiti orang untuk bertahan hidup. Meski ia sendiri menyesalinya dan berusaha tetap menjadi samurai, ia menyatakan bahwa menjadi samurai adalah hal yang sia-sia hari ini di dunia yang seperti ini. Ka memberi jendela melihat yang kompleks terhadap apa yang terjadi di lingkungannya. Tidak pernah hitam dan putih. Pemikiran ini dengan segala kontradiksinya lah yang menjadi tema lirikal utama album ke-4nya ini, di mana secara simultan kita bisa mendengar musik Ka semakin menemukan wujudnya dan semakin variatif pada saat yang bersamaan. Ada hal yang tak pernah berubah, bagaimana ia membangun mood dari satu sample yang ia pilih dengan ketekunan seorang Samurai membuat pedangnya. Contohnya saat ia mengambil hook synth hipnotis dari grup krautrock lawas, Irmin’s Way bagi lagunya “Just” atau riff gitar grup musik prog-rock Inggris, Riff Raff untuk digunakan sebagai kanvas “Mourn at Night” yang bercerita tentang bagaimana penghuni ghetto berduka di malam-malam sunyi dan senjata menyalak. Satu hal yang agak mencolok pada album ini adalah upayanya meneruskan tradisi Diego Stocco atau The Avalanches dalam menggunakan found sounds dalam komposisi musiknya. Pada “That Cold and Lonely” misalnya, ia hanya me-loop satu bassline dari lagu 70-an milik musisi Jazz Yusef Lateef dan menambahkan suara gemerincing, lolongan mirip serigala, humming pendek penyanyi soul dan piano sederhana di atasnya. Hasilnya luar biasa efektif untuk upayanya mengisahkan hal-hal yang membentuk dirinya; “That’s what mold me, that cold and lonely/ Where they call you out if they know you phony”. Tak ada satu pun bar disia-siakan oleh Ka. Seperti halnya yang selama ini ia lakukan, dibalik flownya sederhana dan monoton, membentang hasil proses meditasi dan kedalaman berfikir dalam teknik maha sempurna merangkai rima. Kalian masih akan tercengang bagaimana ia melekatkan suku kata pada satu bangunan bait rima dengan sangat sempurna dan bercerita dengan sangat detail; “Hardest novelist, carving this marvelous / If not, they lovin’ this, the governors pardon us”. Sulit membayangkan karya seperti ini lahir dari seseorang yang hidupnya didedikasikan untuk menolong orang sebagai pemadam kebakaran. Another flawless album from the master of the craft.

01. A Tribe Called Quest – We Got It From Here… Thank You 4 Your Service

Dua hal dari A Tribe Called Quest yang sangat mengejutkan tahun ini. Pertama, kematian Malik “Phife Dawg” Taylor yang kabar sakitnya tak terdengar sebelumnya. Kedua, dirilisnya album baru (dan terakhir) A Tribe Called Quest setelah selama 18 tahun terdengar hanya berupa gosip saja. Ada sedikit kekhawatiran ketika kabar album ke-6 grup seminal ini beredar. Khawatir ia hanya sekedar mengenang Phife Dawg, hanya berisi lagu-lagu sisa yang selama ini tidak pernah dipublikasi. Hanya berupa kumpulan lagu yang memakai vokal Phife yang sempat terekam, disulap dan direkayasa dengan keajaiban teknologi rekaman hari ini. Tak lama setelah We Got It From Here… Thank You 4 Your Service dirilis, kami memutarnya siang malam dengan antusiasme dan euforia seperti mendengar Low End Theory dua dekade lampau. Album ini begitu sempurna, kita tak hanya mendengar kembali kehebatan grup yang dahulu di tahun 1991 merubah wajah hiphop, tapi juga melihat bagaimana mereka tidak berhenti di kapsul nostalgia. Catatan paling istimewa dari album ini adalah performa tanpa cacat dari tiga MC, Q-Tip, Phife dan Jarobi yang sepanjang diskografi mereka jarang hadir. Pula secara tematik, album ini lebih kaya dari album manapun yang pernah mereka rilis. Mulai dari rap abstrak ala mereka, empowerment personal hingga wilayah politik yang selama ini mereka sentuh secara sublim saja. Pada lagu “We the People”, di atas loop drumbreaks Black Sabbath, Q-Tip merangkum seperti apa jadinya ‘people’ di hadapan politik alt-right (baca: fasisme) Trump; “All you Black folks, you must go/All you Mexicans, you must go/And all you poor folks, you must go/Muslims and gays, boy we hate your ways/So all you bad folk, you must go”. Pada lagu “The Killing Season” mereka berbicara tentang bagaimana Amerika menggunakan warga negaranya berperang untuk kepentingan ekonomi politik segelintir. Dan seperti layaknya setiap album ATCQ, musik mereka selalu berada di depan pendeskripsian. Kalian masih bisa menemukan bouncing groove khas mereka, suara blip dan drum hardknock yang tergagap, suara sample bass betot, pengaruh jazz yang kuat dan boombap paten (Q-Tip masih yang terbaik dalam hal ini, cek drum yang ia buat di “Conrad Tokyo”). Namun Q-Tip dan kru nya tidak pula berhenti di situ. Ia memperkayanya tanpa harus terdengar seperti album eksperimental. Mereka tidak lagi mengandalkan sample berdiri sendirian, pada “Solid Wall of Sound” sample lagu Elton John mereka rekayasa sedemikian rupa (di-filter echo, reverb dsb), dikawinkan dengan efek spacey dari lagu milik Michel Colombier dan menambahkannya elemen instrumen live dengan sangat ciamik. Mereka mengadopsi reggae dan masih sangat ‘low end theory’ pada “Black Spasmodic”. Mereka menyomot petikan gitar grup musik pop rock Argentina 70an, Invisible, menambahkan synth di belakangnya, sedikit fragmen piano di bagian akhir lagu “Dis Generation” dan menghasilkan track yang tak hanya angelik tapi juga sangat funk. Kehadiran sejumlah musisi dan para kerabat MC menyempurnakan album ini. Kontribusi Jack White, Anderson .Paak, Casey Benjamin, Katia Cadet tidak main-main. Begitu pula verses luar biasa dari Talib Kweli, Busta Rhymes, Consequence dan André 3000. Kehadiran Kanye West yang (syukurnya) hanya menyanyikan satu hook pada chorus “The Killing Season” juga cukup pas. Seperti album opus Donuts milik koleganya J-Dilla almarhum, We Got It From Here… Thank You 4 Your Service adalah swansongs yang paripurna. Bersyukur mengalami keajaiban musikal selama lebih dari dua dekade dan besar bersama musik mereka. Selamat jalan Phife, terimakasih A Tribe Called Quest.

Honorable Mention:
Common – Black America Again
De La Soul – and the Anonymous Nobody…
Mr. Lif – Don’t Look Down
Kool Keith – Feature Magnetic
La Coka Nostra – To Thine Own Self Be True
Brookzill! – Throwback to the Future
Kyo Itachi & Ruste Juxx – Meteorite
Joe Young – Invincible Armour
Curren$y & Alchemist – The Carrollton Heist
J-Zone – Fish-n-Grits
Meyhem Lauren – Piatto D’Oro
Beneficence – Basement Chemistry
Ill Bill – Septagram
Reks – The Greatest X
Torae – Entitled
Kendrick Lamar – untitled unmastered.
Apathy – Handshakes With Snakes
Macklemore & RyanLewis -This Unruly Mess I’ve Made
Westside Gunn – Flygod
The Game – 1992
AFRO & Marco Polo – A-F-R-O POLO
Atmosphere – Fishing Blues
Agallah – Bo The Legend Of The Water Dragon
Blaq Poet – The Most Dangerous
D.I.T.C. – D.I.T.C. Studios
Elzhi – Lead Poison
Classified – Greatful
Planet Asia – Egyptian Merchandise
Snowgoons – Goon Bap

 

5 COMMENTS

  1. Sayang banget yg ini pada kelewatan “Grand Puba – Black From The Future” , “Ugly Heroes – Everything in Between” , “Blu & Nottz – Titans In The Flesh” , “Sadat X – Agua” , “Phonte & Eric Roberson – Thru The Night”,
    “Atmosphere – Fishing Blues” , “Ras Kass – Intellectual Property SOI2” , “Talib Kweli – Awful People Are Great At Parties” , “Blu & Union Analogtronics – Cheetah In The City” , “Rapsody – Crown” , “Termanology – More Politics” , “Geechi Suede Of Camp Lo – 0.9 NyteLife FM”, “Yasiin Bey – December 99th” , “The Avalanches – Wildflower”

    lumayan greget soalnya mas…

    #Respect #Peace

    • Bukan pada kelewatan, memang kami lebih suka yang kami list disini. Beberapa malah kami tidak suka. Wajar. Next time, bikin list sendiri dan share ke banyak orang, kami tentu akan senang membacanya. Dan tentunya, hal tersebut lebih baik daripada komen disini. Respect.

      • Berarti ini lebih keu list pribadi uprock83, bukan dari hasil survey nya. Menurut saya there ain’t no best lebih ke selera konsumen aja.

  2. List ini jauh lbh mewakili hip-hop dibandingkan list2 dr majalah2 mainstream, contohnya list dr majalah terkemuka RS, hampir semuanya yg ada di list itu sampah semua menurut saya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here