30 Album Hiphop Terbaik 2017 (Bagian 2 dari 3)

Bagian ke-2 dari daftar resensi hip hop terbaik versi kami di tahun Trump boker di seluruh penjuru dunia dan Habib Rizieq kabur ke luar negeri. Kami bagi ke dalam 3 bagian, dan ini merupakan sepuluh album ke-2. “Loh Bang, kok gak ada…” Shut the fuck up, bitch. *** (HS)

20. Slaine & Termanology – “Anti-Hero”
Album duet dari dua orang MC bawah tanah prominen yang awalnya bermusuhan. Termanology dan Slaine membuat album yang lebih keren dari solo-solo mereka selama ini, ironisnya. Dengan musik yang dirancang oleh para beatsmith Evidence, Psycho Les, Statik Selektah hingga DJ Premier. Penggayaan Term rasanya pas dengan gruff khas Slaine yang selama ini memiliki kesamaan dalam gaya agresifnya bermain wordplay dan punchline. Flow mereka tetap seperti dahulu, hanya saja kali ini kalian akan merasakannya lebih detail setelah bait demi bait mereka bertukar. Secara tematik, seperti judulnya, mereka bercerita tentang peran antagonis yang tak selalu berakhir negatif, karena dari mulut orang-orang seperti mereka lah pesan-pesan klise soal kemarahan tak terkontrol, keserakahan dan keegoisan yang berakhir fatal akan terdengar lebih ‘bunyi’ di suburban dan ghetto-ghetto. Cek langsung single album ini dengan judul sama yang diproduseri oleh DJ Premier dan bertamukan Everlast dan legenda pantai selatan, Bun-B.

19. GQ Nothin Pretty – “Animation”
Album kedua rapper asal NY yang menampakkan kematangannya sebagai reinkarnasi AZ dan Tragedy Khadafi. Membahas GQ tentu tak bisa dilepaskan dari betapa impresifnya flow agresif yang bermain multi silabel rapat ala AZ, Diabolic dan Chino XL. “Animation” merupakan hasil lanjutan studinya, dengan teknik yang demikian ia bercerita tentang hal receh seperti pesta dan grupies, hingga subjek berat seperti obituari sang ayah dan betapa buruknya pemerintah bekerja di Queensbridge, NY. Musiknya sendiri “hit & miss”. Kadang boombapnya sukses seperti “Everybody Wanna Rap” dan duetnya bersama Tragedy Khadafi pada track “High Quota”, tapi kadang pula malah membuat skema rimanya membosankan, seperti pada track “Express Your Love” dan “Bar Massacre”. Untungnya, dari mayoritas 15 track album ini sungguh memuaskan. Pula ditambah bertamunya rapper favorit GQ sendiri; Rass Kass, Chino XL dan Ruste Juxx.

18. Dalek – “Endangered Philosophies”
Sebetulnya album ini agak mengecewakan, terutama setelah mereka kembali ke skena dengan “Asphalt for Eden” yang impresif itu. Ekspektasinya pun ditambah dengan faktor kembalinya mereka ke Ipecac (label milik Mike Patton) dan atmosfer Amerika yang sedang hamil tua hari ini. Dalek saya anggap akan menghasilkan album yang lebih marah dari “Absence” dan lebih kompleks dari “Filthy Tounge…”. Namun, “Endangered Philosophies” bersuara ragu-ragu. Mereka masih bereksperimen mengawinkan noise, drones dan ambient dengan boombap namun nampaknya tak ada sesuatu yang benar-benar baru. Beberapa track berkelindan di antara kabut album “Abandoned Language” terutama bagaimana mereka menyelipkan lapisan disonan dalam breaks dengan BPM rendah dan menghadirkan efek hipnotik yang cocok untuk rima Dalek tentang akhir zaman seperti “Truth’s once evident/replaced by vile rhetoric/content to be your heretic/i’m surrounded by my derelict’s”. Bukan berarti album ini buruk pula, sebaliknya ini album yang menarik untuk disimak, terutama pada momen-momen yang sebelumnya kalian belum pernah dengar datang dari Dalek, misalnya pada “Beyond the Madness” yang seolah merupakan versi cadas dari anthem klasik Cannibal Ox “A B-Boy Alpha”. Ini album ke-2 bagi Dalek setelah pergantian personil, DJ rEk dan Mike Manteca menggantikan DJ Still dan Oktopus. DNA nya masih bisa terlacak tak jauh dari inspirasi awal mereka, My Bloody Valentines, Black Moon, Einstürzende Eeubauten hingga Public Enemy. Meski terdengar lebih seperti ‘aftermath’ dibanding sebuah ‘apocalypse’, ini tetap album Dalek, artinya dalam format terburuknya sekalipun, tak ada satupun grup eksperimental noise rap mendekati mereka, tidak Death Grip tidak pula Ho99o9.

17. Your Old Droog – “Packs”
Tiga tahun setelah kemunculannya yang menghebohkan jagat hip hop, sudah tidak ada lagi yang membandingkan Droog dengan Nas. Dunia sudah menerima kenyataan bahwa suara, flow dan cadence Droog memang sangat mirip Nas, kecuali konten, penggayaan dan apapun diluar hal teknis tadi. Terutama setelah satu penampilannya di Sway In The Morning. Album ini menunjukkan level progres yang signifikan dari rapper keturunan Ukraina ini. Ia tak lagi menulis album yang hanya seolah kumpulan punchlines lepas. Pada Packs Droog berusaha menggiring pendengarnya ke dunia yang melahirkan humor-humor gelapnya. Punchlines-nya tentu saja masih bejibun, pula permainan kata dan konstruksi makna-makna gandanya. Namun hal-hal teknis itu tak lagi hanya elemen lepas tapi, misalnya, menjadi bagian dari cerita tentang lingkungannya yang buruk di Coney Island lengkap dengan mitos-mitos bodega-nya. Packs kaya akan simbol-simbol rap NY 80 dan 90an, nampaknya memang sengaja ia mainkan sedemikian rupa, dari mulai cerita hingga bebunyian. Contohnya saja, pada single-nya yang sangat menarik, “Help”, ia merekayasa sample klasik “I Wanna Rock” milik Rob Base & DJ E-Z Rock di tengah boom-bap psikedelik yang bertamukan Edan dan Wiki sambil bergaya petugas kebersihan kecamatan di NY. Droog dan RTNC kembali membuat nyaris semua musik di album ini, dan memberikan sebagian tugasnya bagi The Alchemist, 88-Keys dan The Purist.

16. Recognize Ali x Giallo Point – “Back 2 Mecca”
Giallo Point adalah The Alchemist baru, ia menjadi beatmaker bawah tanah paling sibuk yang tak pernah kehilangan ketajaman dan intensitasnya pada setiap karyanya, sebanyak apapun itu. Kolabonya bersama Recognize Ali ini merupakan yang paling cemerlang. Begitu pula bagi Ali, dari sekian banyak rilisannya, ini albumnya yang paling mencolok. Dari judul albumnya saja sudah cukup jelas, ini album yang memiliki konsep tunggal; membawa hiphop kembali ke kiblat awalnya di NY (ironisnya, Giallo Point sendiri berasalnya dari Inggris). Dari awal hingga akhir, duo ini bertubi-tubi melakukan throwback yang sukses dalam hal merepresentasikan estetika sonik hip hop era epidemi kokain di NY. Meskipun demikian, tak satupun musik yang membosankan, atau hanya sekedar mereplika komposisi Marley Marl dan Premier dengan sample baru. Mirip The Alchemist dan Ka, Giallo justru hanya mengambil esensi dari boombap yang ia peras lewat cara pemilihan sample yang teliti sehingga ketika tanpa drum sekalipun kalian masih akan menangkap vibe era itu. Ali sendiri mendemonstrasikan rima multi silabelnya yang penuh diksi dunia mafia bawah tanah, mirip Westside Gunn. Dalam setiap 16 bar kalian akan menemukan momen terkesima ketika ia memasukkan silabel penuh paling sedikit 4 bar dengan kerapatan sempurna. Victory lap album ini ada pada track “Gold Pen Assasin” dan “Boombap Lord”.

15. Heavy Metal Kings (Vinnie Paz & Ill Bill) – “Black God White Devil”
Album kedua hasil kolaborasi legenda ikonoklastik hip hop Vinnie Paz dan Ill Bill setelah debut mereka yang biasa-biasa itu 6 tahun yang lalu. Dengan titel dan cover album menarik, Black God White Devil bersuara lebih menarik karena dua hal; pertama musik mereka jauh lebih baik dibanding musik sok horror di album mereka yang pertama. Hanya satu saja yang diproduksi oleh C-Lance (puji tuhan) dan sisanya dibagikan ke Apathy, Giallo Point, Sunday dan Blastah Beatz. Faktor kedua, dan yang paling penting, adanya kontribusi massif dari anggota Non-Phixion paling ‘kvlt’; Goretex. Seiring dengan berakhirnya beef Ill Bill dengan Goretex, ia menyumbangkan bars di 7 dari 13 lagu pada album ini. Artinya, Goretex seharusnya menjadi anggota ke-3 Heavy Metal Kings. Kombinasi rima Vinnie Paz dan Ill Bill sudah barang tentu bukan sesuatu yang harus diragukan, terutama diproyek ini di mana mereka melanjutkan menggunakan diksi-diksi metal dalam menuturkan narasi-narasi tentang betapa nihilnya dunia. Album ini menjadi jembatan bagi para fans mereka untuk berharap proyek mereka selanjutnya akan lebih bagus lagi di departemen musik. Apalagi konon album selanjutnya, DJ Muggs akan bergabung memproduseri semua lagu.

14. Therman Munsin – “Sabbath”
Album ini merupakan penemuan baru terbaik tahun ini. Therman Munsin, MC asal New Jersey, datang tanpa ada tanda-tanda. Tak terdengar di mixtape manapun atau memberi feature verse di album siapapun. Meskipun ada, mungkin tak terlacak radar. Awal tahun ini ia merilis album debutnya yang diproduseri oleh Roc Marciano. Tentu saja musiknya sudah bisa ditebak arahnya, avantgarde hiphop yang mereduksi boombap NY hingga ke level paling fundamental dan mengandalkan aura bagi soundscape sang MC berima. Munsin sendiri bersuara seperti rapper klasik khas east coast 90an, selintas mirip Large Professor namun dengan suara lebih bariton. Ngerap dengan skema rima stabil, jelas dan lantang. Sesuatu yang tidak lazim bagi rapper dengan musik a la Marciano atau Ka. Jika kalian fans rap ignoran a la Mobb Deep dengan attitude Bumpy Knuckles dan bragadocio tulen, Therman Munsin akan menjadi favorit baru kalian. Bertamukan MC sejawat yang paten, Ransom, Guilty Simpson, Roc Marciano, Big Twins dan AG DA Coroner. Cek single favorit saya dari album ini sebagai jaminan; “Bread Winner”, “Gold Plated Guns” dan “Carberator”.

13. Da Buze Bruvaz – “Adebisi Hat”
Jika analoginya hip hop itu death metal, maka Da Buze Bruvaz ini adalah Bolt Thrower. Unit musik yang tak pernah berubah meski zaman beralih dan dengan penggayaan yang sama, teknik yang tak beranjak mereka masih menghasilkan album demi album bagus. Meski berasal dari Philladelphia, Da Buze Bruvaz bisa dibilang merupakan salah satu fosil hidup dari prototipe MC ortodoks NY 90an awal. Flow gagah dengan rima multi-silabel maha juara pula talk-shit paling sembrono dan ngasal yang sudah sangat jarang ditemukan di jagat boombap. Tema mereka tak pernah ada yang penting, karena tak ada yang lebih penting di hidup mereka selain beli minuman, hangout, mabuk dan ngerap tentang betapa kerennya mereka. Kadang mereka berkonsep memang, tapi jangan harap konsep yang dimaksud ini sama dengan Logic mengkonsepkan album barunya tentang reinkarnasi atau hal-hal kompleks lainnya. Dulu mereka pernah membuat konsep yang sangat brillian saat mengadopsi cerita thuggery dan bragadocio-nya menggunakan referensi, istilah, metafor dan konsep masakan. Ya, masakan. Dan kali ini, mereka menamakan albumnya dengan nama jenis topi kecil yang biasa dipakai oleh karakter notorious Adebisi di film Oz. Mereka bermain-main dengan jokes topi itu dan seolah-olah satu lagu dan lagu lain memiliki benang merah yang sama padahal tidak. Satu-satunya benang merah di album ini adalah dua MC maut yang berbagi bars, mabuk dan ngerap dengan teknik jenius yang membuat orang waras geleng-geleng kepala. Sesimpel itu. Jangan komentar apapun selain hal itu karena akan sama dengan mempertanyakan mengapa Bolt Thrower selalu cerita tentang kebrutalan perang dengan begitu kerennya.

12. Killah Priest & 4th Disciple – “Don’t Sit On The Speakers Vol. 1”
2017 merupakan ulang tahun perak bagi Wu-Tang. Sayangnya, album baru mereka kemarin tak cukup impresif sebagai bahan perayaan. Begitu pula album solo Raekwon dan Masta Killa. Untungnya di penghujung tahun Killah Priest (yang selama ini selalu dianggap pahlawan yang tak sering disebut di keluarga Wu) menggaet beatmaker Killarmy, 4th Disciple untuk melahirkan album kolabo yang berkonsep sangat menarik. “Don’t Sit On The Speakers” merupakan celetukan untuk menegur siapapun yang duduk di speaker mobile yang biasa mereka bawa ke taman-taman di pesta-pesta pada tahun-tahun awal lahirnya hip hop, akhir 70-an. Kali ini kalimat tersebut mereka pakai sebagai judul album untuk merepresentasikan tribut bagi pengalaman awal mereka bersentuhan dengan hip hop. Album berdurasi 40 menit ini, bersuara persis seperti rekaman acara-acara pesta taman yang direkam memakai kaset (yang sampai sekarang masih bisa kalian cari artefaknya di internet). Mereka seolah sedang membuat kapsul waktu kembali ke tahun 1979 di mana musik funk, R&B dan proto-elektronik masih merajai lantai dansa dan para DJ memakai breakbeats dari rekaman-rekaman itu sebagai bahan set-nya. 4th Disciples membuat musik dengan bahan breakbeats tadi, (dari klasik milik Isaac Hayes “Ike’s Mood” hingga “Love Is The Message” lagu disko yang hits tahun 73). Ia kemudian mengimitasi cara bermain DJ para pelopor seperti Wizard Theodore, Grandmaster Flash dan Kool DJ Red Alert. Bahkan dalam beberapa momen ia mengkonstruksi ulang break tersebut dan menambahkan elemen baru seolah-olah ia sedang membuat beat disko baru. Dengan latar belakang musik seperti itu, Killah Priest ngerap tentang ajaran Five Percent plus referensi-referensi kebajikan lokal jalanan NY dibungkus diksi 80an. Bertamunya Raekwon, Cappadonna dan Ghostface Killah seolah melengkapi dan tiba-tiba terbersit kepenasaran mungkin kah Wu-Tang direvitalisasi dengan konsep sefundamental ini?

11. Kendrick Lamar – “DAMN”
Apa yang belum dikatakan tentang King Kendrick dengan segala mitosnya? Ia adalah Ice Cube di 91 dan Tupac di 95 dengan skill level Eminem di rentang dekade pertama prime time-nya. Sebetulnya, yang paling jenius dari Kendrick Lamar bukanlah kemampuannya dalam ngerap, meski ia memiliki semuanya termasuk senjata utamanya; rima dengan multi-silabel kompleks, delivery yang tiba-tiba berubah kontras plus flow dengan varian kecepatan plus yang banyak diadopsi oleh rapper era sekarang. Hal yang paling luar biasa dari K Dot adalah kemampuannya melihat hal besar dan memampatkkanya dalam toples-toples kecil, ia susun sedemikian rupa dengan bungkus beragam, bisa jadi lapisan metafor, bisa pula dalam makna-makna ganda. Ia mampu memotret hal kompleks dan menukarnya dengan potongan kecil yang siap ia susun ulang untuk kemudian hanya dengan upaya ekstra para fansnya menyusun ulang potongan itu seperti menyusun rubik. Dalam adonannya, ia memasukkan banyak masalah, personal, emosional, moral, politikal bahkan hal yang remeh seperti trend. Pada “Butterlfy” ia mendokumentasikan bagaimana kontradiksi nuraninya ketika berada di hadapan ‘stardom’ dan kemanusiaan, yang pada saat bersamaan ia mencari spiritualitasnya sendiri. “Damn” seolah merupakan narasi lanjutan “Butterfly”, di mana pada proses selanjutnya ternyata Kendrick membayar mahal pencarian kedamaian tadi dengan membiarkan dirinya bertransisi menjadi seorang ignoran. “Damn” adalah dokumentasi ia menjadi asshole kompleks. Sebuah fuck you album. Dari sisi musikal, album ini justru seolah terdengar seperti sekuel “good kid, M.A.A.D. City”. Dalam proses kreatifnya berbalik arah dengan “Pimp the Butterlfy”. Ia tak lagi berkontemplasi di ruangan dengan sejumlah musisi untuk menghasilkan musik jazz-funk yang ambisius, namun mengendarai trend boom-trap simplistik yang sangat mudah diakses. Single-nya “Humble” adalah contoh yang paling sempurna. Melanjutkan dua album pertamanya (Empat, jika kalian menghitung pula “Section.80” dan “untitled unmastered”), “Damn” kembali membuktikan betapa ambisiusnya Kendrick dalam menghasilkan karya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here