30 Album Hiphop Terbaik 2017 (Bagian 1 dari 3)

30 Album. Ini bisa jadi list tahunan terbanyak yang pernah kami seleksi dan resensi. tapi memang sebegitu menariknya lah 2017. Sedemikian rupa sehingga kalian enggan melewatkan album-album menarik untuk dirayakan di penghujung tahun. Tulisan ini kami bagi ke dalam 3 bagian, ini merupakan sepuluh album pertama. Ini artinya pula berhenti lah komplen bahwa hip-hop hari ini buruk dan penuh dengan legacy “skrrt”, “dat way”, “grrah” dan suara emcee kumur-kumur. Itu hanya komentar fans yang malas mencari. Sesuatu yang terdengar aib di era blog dan google. Langsung gas. *** (HS)

30. Lord Lhus – “Essentials”
Setelah digampar Vinnie Paz dan Ill Bill di sebuah konser, Lord Lhus seolah menghilang dan bahkan tak nampak lagi di album-album Sicknature, Snowgoons dan lingkar-lingkarnya. 6 tahun kemudian ia muncul dengan sebuah album yang bersuara seperti dibuat tahun 1994. Dalam hal ini, putusnya hubungan Lhus dengan Snowgoons bisa dilihat sebagai hal yang membuahkan hasil yang positif. Lhus tidak lagi ngerap di atas musik boombap generik ala para produser Jerman itu yang sungguh lama-lama makin membosankan. Lhus, ex-member Savage Brothers, adalah rapper yang memiliki cadence dan delivery stabil khas rapper era 90-an. Meski seringkali terdengar menyebalkan dengan horrorcore-nya (untungnya tak ada satupun di album ini), justru ia terdengar sangat keren ketika ngerap hal-hal sederhana, dari bragadocio standar, ritual hip hop hingga hal receh seperti ‘kedamaian pikiran’. Musik album ini diproduseri oleh Robin Da Landlord, dan tak satupun track yang tak layak dengar. Ia seolah merangkum varian sound era itu dengan sangat ekonomis. Dari “Piece of Mind” yang secara jelas terinspirasi Buckwild, “Making Tracks” yang sangat Main Source, “Lhus Bars” dan “Fucking the Booth Up” yang seolah meminta supervisi dari Chyskillz, “Essentials” yang akan mengingatkan kalian pada Lords of the Underground. Im a sucker when it comes to golden era vibe. Jadi nampaknya album ini akan sangat masuk akal masuk di sini.

29. Career Crooks – “Good Luck With That”
Terdengar baru, tapi sebetulnya ini grup baru yang beranggotakan scenester lama. Emcee Zilla Rocca and beatmaker Small Professor asal Philadelphia. Bukan fans musik terdahulu mereka, namun proyek ini sulit diabaikan. Booming breakbeat-based beats dengan sample soul dan funk, menghasilkan beragam varian turunan warisan mulai dari Def Jef, Diamond D hingga old-school Geto Boys. Highlite-nya tentu saja single ante up mereka “Least Important, Most Important”, plus satu fast-rap dengan sentuhan psikedelik di akhir album yang mengingatkan kita pada Edan. Semoga ini jadi proyek permanen.

28. Quelle Chris – “Being You Is Great, I Wish I Could Be You More Often”
Jangan pernah menilai album rap dari sampulnya. Itu pepatah lama yang masih berlaku hingga hari ini. Dengan cover yang lebih mirip ilustrasi buku anak TK, album ini sungguh di luar dugaan. Dari awal hingga akhir, album ini terdengar seperti hasil disertasi emcee yang melakukan studi De La Soul era awal dan KMD bertahun-tahun. Rima tentang penolakan terhadap eksistensi diri sendiri sebagai refleksi dari hasil observasi kenyataan di luar sana, sudah lama tak terdengar sejak Black Bastard-nya KMD. Quelle Chris menghadirkannya kembali dengan babak baru, versi hari ini, dengan flow off-beat, mabuk di atas musik abrasif, kadang jazzy (“The Dreamer In The Den Of Wolves”), kadang boombap brutal (“Learn to Love Hate”), seringnya soulful dan spacey. Album De La Soul terakhir pun tak sebagus ini.

27. Hus Kingpin – “Cocaine Beach”
2017 nampaknya milik para rapper di lingkar Griselda. Bukan hanya karena Westside Gunn dan Conway menandatangi kontrak dengan label Eminem, Shady records, namun pula karena para emcee-nya menghasilkan album demi album keren tahun ini. Bahkan kadang lebih dari satu (Tha God Fahim misalnya). Hus Kingpin yang biasa merilis mixtape, kali ini menambahkan dosis keseriusannya dengan membuat album yang diproduseri penuh oleh Big Ghost Ltd (yang sempat terkenal gara-gara menyebut Drake sebagai “the Michael Bublé of rap” dan “the human croissant” pada halaman review Okayplayer. Secara musikal, album ini nyaris seperti apa yang selama ini gerombolan Griselda hasilkan, redefinisi ulang boombap NY yang dibuat dalam BPM rendah, sample klasik, noir dan auratik. Mirip Roc Marciano pada beberapa momen. Musik yang menjadi soundscape yang cocok bagi Hus Kingpin melukiskan atmosfir New York di era epidemi kokain di awal 90-an, di tengah Reaganomics, trend pelacur memakai kostum aerobik dan headbands, plus gimmik-gimmik yang lahir setelah seluruh ghetto terobsesi film Scarface. Menjadi imitatornya di dunia nyata. Dirilis gratisan di pertengahan tahun ini. Track favorit: “Serotonin High” yang bertamukan Milano Constantine dan menampilkan scratch akrobat Q-Bert. Hey, siapa yang pernah menyangka akan ada elemen turntablism di album Griselda-esque seperti ini?

26. Mike – “May God Bless Your Hustle”
Mike menulis album luar biasa ini di umur Nas menulis Illmatic. Oleh karena itu dipahami jika ada yang sulit mempercayai album dengan topik dan tema seotentik dan secerdas album ini dibuat oleh seorang emcee asal Bronx berusia 18 tahun, sama halnya seperti dahulu sulit mempercayai Illmatic dibuat oleh orang semuda itu pula. May God Bless Your Hustle merupakan kumpulan testimoni seorang muda di tengah sebuah zaman yang bergerak, koleksi observasinya, pemikiran dan pengakuannya menjadi seseorang di umur 18 tahun. Dengan suara booming-nya (ini lagi-lagi keunikan yang jarang ada di rapper semuda Mike), ia berkontemplasi tentang hidup dan mati, tanggung jawab dan ambisi. Semuanya ia sampaikan tanpa bumbu-bumbu tambahan sotoy artifisial, sangat jujur bahkan ketika ia kebingungan berhadapan dunia yang sedang marah, tersiram bensin dan siap terbakar, ia berujar “I ain’t even trained for this.” Menyenangkan mendengar bagaimana Mike menggunakan beragam teknik dalam rapnya, bermain dengan kecepatan dengan transisi yang seakan-akan itu hal yang sepele. Dari flow lambat ala Too Short hingga double-timing bars modern yang sering dipakai MC-MC hari ini. Termasuk dalam menyusun narasi. Seringkali ia menggunakan metode juxtaposing, menunjukkan bahwa MC seteliti dan sefokus apa ia. Dibungkus dengan musik a la MF Doom dan J Dilla yang ia hasilkan sendiri. Bermaterikan sample soul namun dikonstruksi dengan pendekatan berbeda, kadang di-stretch melambat hingga terdengar begitu buruk, terdistorsi, kadang hadir dengan sound-sound aneh yang membuat kalian terdisorientasi. Contoh sempurnanya adalah track “Somebody Please” dan “Standout” yang bertamukan Wiki dan Chip Skylark. May God Bless Your Hustle adalah salah satu album paling segar tahun ini.

25. M-Dot – “egO anD The eneMy”
M-Dot adalah rapper yang dihormati di Boston yang jarang terdengar di jajaran MC prominen hari ini. Setelah petualangan tur dan mixtape demi mixtape, ia merilis album debutnya ini yang membuktikan dua hal; ia layak mendapatkan anugrah Boston Music Awards beberapa waktu lalu, dan kedua, lyricism masih dianggap serius oleh generasi baru hip hop, sekaligus membuktikan bahwa mereka yang komplen tentang kualitas MC baru hari ini adalah keliru. M-Dot merupakan murid loyal dari hip hop 90-an, tak heran pada album pertamanya ini ia dengan sengaja mengundang sederet produser legendaris dari era tersebut pula produser baru yang mewarisi gaung artistik yang sama. Marley Marl, Buckwild, Hi Tek, Marco Polo, Large Professor hingga Khrysis. M-Dot menulis rima demi rima dengan mentalitas “me vs. the world” sepanjang album. Baik ketika ia hanya memamerkan skillnya atau menulis tentang dunia yang ia lihat dan pengamatan pasca berinteraksi dengan sekelilingnya. Dari yang gelap hingga yang mencerahkan, M-Dot mencurahkan energinya dengan total. Kalian dapat menemukan topik tentang corporate Amerika hari ini, wabah candu drugs hingga pergulatan personalnya melawan kecanduan alkohol. Dari harapan hingga paranioa semua dibungkus dalam rima yang well-crafted, penuh multi-silabel dengan emosi yang kentara. Tamu yang secukupnya pula efektif memberi kontribusi. Method Man, Camp Lo dan (yang cukup mengejutkan) legenda NY, Krumb Snatcha. Dengan jumlah 17 lagu total, album ini cukup solid, hanya saja beberapa track ada di bawah standarnya, termasuk lagu sok horor seperti “Death to Raquel” (yang seharusnya ia pisahkan saja untuk mixtapenya), sehingga mungkin album ini bisa cukup lantang hanya dengan 12 lagu.

24. Ran Reed – “Still Commanding Respect”
Ran Reed merupakan salah satu veteran NY rap pertengahan 90-an yang saya tak pernah habis pikir bagaimana bisa ia tak kunjung membuat album, padahal reputasi spit-nya sama sekali tidak biasa-biasa. Selain EP, mixtapenya bersama Nick Wiz 15 tahun lalu, namanya nyaris tak terdengar. Lalu tiba-tiba saja ia merilis album yang sudah sangat diprediksi akan bersuara tidak sembarangan, diproduseri penuh kembali oleh beatmaker ikonik NY Nick Wiz yang berdekade memberikan kita musik-musik Mad Skillz, Rakim, Darc Mind, Pudgee dan Chino XL diantaranya. Skema rima Reed (juga vokalnya) yang sangat jelas terpengaruh Rakim menjadi kelebihannya (atau mungkin juga kekurangannya, tergantung perspektif melihat). 20 lagu yang nyaris tak ada filler, seolah Ran Reed sedang mencoba melampiaskan dendam menahun tak pernah merilis album. Untuk ukuran debut ini sungguh luar biasa. Sebagai bonusnya, MC kelas berat NY bertamu; Kool G Rap, Sadat X, Khryst, MOP dan Bumpy Knuckles membuat album ini sebagai salah satu hadiah istimewa bagi fans NY rap tahun ini.

23. Tha God Fahim – “Tha Tragedy of Shogunn”
Jika ada rapper yang paling produktif tahun ini dalam menghasilkan karya, nampaknya The God Fahim tak punya saingan. Tahun 2017 ia merilis 33 rilisan!. Tiga puluh tiga! Terdiri dari album penuh, EP, mixtape dan kolaborasi dengan teman sejawat di lingkar Griselda. Jika hasilnya sembarangan mungkin bisa dipahami, namun apa yang ia hasilkan nyaris berkualitas sama. Dari semua yang ia rilis, Tha Tragedy Of Shogunn ini yang paling mencolok. Album ini begitu sinematik dan memiliki noir gelap yang menjadi kanvas paling cocok bagi crime-rap paling vivid di 2017. Jalan pintas mengeceknya; dengarkan “Kafkaesque” yang diproduseri oleh beatmaker baru favorit saya, Giallo Point, juga “Kevlar Coating” yang mana bragado-nya pada track ini merangkum pentingnya album ini; “10 years later, sayin’ I’m the illest you 10 years late”.

22. Supreme Sniper – “As I Enter”
Satu lagi pewaris Rakim di era milenial ini. Rapper asal Brooklyn yang sering ditemukan di kompilasi-kompilasi rap NY (yang paling siginifikan, kompilasi Brooklyn Kingz County dari DJ Modesty). Flow tajam, silabel maha presisi, bariton yang mengancam, Supreme Sniper memilikinya semua. 13 lagu boombap gelap dari beragam produser yang semuanya berhutang pada T-Ray, DJ Muggs dan Buckwild. Begitu gelapnya, hingga kalian berharap album baru Heavymetal Kings bersuara seperti As I Enter ini. Langsung cari singlenya “Its Goin Down” di Youtube jika kalian meragukan. Bagi kalian fans rap ortodoks BrookNam seperti Buckshot, Jeru dan Just Ice, album ini ada di urutan nomor 1 pada upaya perburuan kalian.

21. Milo – “Who Told You To Think??!!?!?!?!”
Saya tak pernah memperhatikan Milo sampai album ke-3nya ini, tepatnya sampai satu hari mendengar satu lagunya yang bertitel “Landscaping” pada sebuah artikel yang membahas mitos-mitos hutan Amerika Latin, dan itu pun gara-gara ada anggota Armand Hammer, Elucid bertamu. Milo membuka lagu tersebut dengan “What’s a selfie, that’s not me, that’s my chullachaqui/ The path is littered with many a useless tchotchke/ I’m Muriel crying “Eustace” in that building lobby/ Oh, and my Courage is such a cowardly dog”. Tak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menemukan album penuhnya ini dan kemudian takjub dengan kenyataan betapa progresifnya “Who Told You to Think??” yang dirilis pertengahan 2017 lampau. Album ini membuat Milo menjembatani fans rap tehnikal tradisionalis dengan apapun yang dimaksud oleh para hiphopheads dengan musik rap para nerdy, Alt-Rap. Rimanya begitu puitik namun selalu memiliki ruang untuk bragado elegan yang bermain wordplay dan silabel seperti “Spit it like Zadie Smith with a Jay-Z lisp/Or like J.Z. Smith, you could take your pick/The point is, my vocabulary pays my rent.” Ia memproduksi sendiri semua materi dalam album ini. Dengan mood pesona vintage Madlib, glitch unik, dan sentuhan jazz ala The Roots, 15 track ini begitu adiktif sehingga kalian semakin menikmatinya ketika diputar berulang-ulang tanpa jeda. Jika ada contoh prima bagaimana hip hop eksperimental tetap bisa didengar oleh fans Gang Starr, MOP atau Black Moon, maka album ini salah satu wakilnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here