30 Album Hiphop Terbaik 2017 (Bagian 3 dari 3)

Hip hop di 2017 menunjukkan banyak persimpangan baru yang menarik. Terutama dalam hal semakin banyaknya rekaman luar biasa yang dibuat secara independen dengan begitu massifnya. Teknologi informasi sangat berjasa dalam hal ini, lepas dari faktor semakin banyaknya juga sampah diproduksi dalam jumlah dua kali lipat gara-garanya. Jika kalian sedikit rajin, kalian tak hanya menemukan pahlawan lama kalian membuat karya menarik baru, tapi juga mahakarya-mahakarya dari rapper antah berantah yang tak pernah kalian sangka pernah eksis selama ini. Sehingga ketika Eminem melahirkan album maha buruk, KRS-One dan Fat Joe kembali mengecewakan, hip hop 2017 masih menawarkan kita banyak amunisi untuk dipakai. Di 2017 pula hip hop kehilangan banyak, Prodigy, Fresh Kid Ice, Educated Rapper (UTFO), Pam the Funkstress (The Coup), dancer Voodoo Ray adalah di antaranya. Dalam wilayah literasi, hip hop kehilangan salah satu sejarahwannya yang paling konsisten, seorang ensiklopedia berjalan, Reggie “Combat Jack” Osse. Dalam hal ini, banyak yang berhutang banyak pada beliau selama ini, termasuk bagi kami, Combat Jack memberi banyak wawasan, kesaksian sejarah, catatan pinggir dan wacana lainnya yang kadung menjadi bagian dari perjalanan kami menikmati dan mengapresiasi hip hop. Tulisan ini merupakan bagian final dari 3 tulisan akhir tahun kami. Sekali lagi sebagai catatan retrospektif, sebagai perayaan passion mengkonsumsi musik hip hop dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Terima kasih sudah membaca. Audi 5000, G.***(HS)

10. Kool G Rap – “Return Of The Don”
Setelah kecewa setengah mampus dengan kolabonya bersama Necro tempo hari, G Rap datang di era mumble trap setelah 6 tahun tanpa album. Diproduseri penuh oleh Moss, beatmaker piawai yang pernah menggarap Hieroglyphics, Ghostface Killah, Sean Price hingga Ill Bill. Ini album G Rap terbaik dalam sisi musikal sejak debut solonya “4,5,6” (pasca berpisah dengan DJ Polo). Meski tak ada yang baru dari sang O.G di sini, namun ini tetaplah album G Rap. Dengan skema rima legendarisnya (kalian bisa mengurut panjang daftar emcee yang terpengaruh dirinya) yang penuh multi-silabel dan plot cerita vivid, bisa dikatakan G Rap tetap lah juara. Bahkan jika mau jujur membandingkan, bars milik G Rap jauh lebih baik dari karya terkini dari sultan teknik rap lain yang datang dari era yang sama, Rakim. Kisah-kisah ghetto dan dongeng jalanan yang dibungkus dengan teknik prima. G Rap adalah salah satu rapper dengan kelebihan dapat mengangkat topik tak menarik untuk disampaikan dengan cara sangat menarik. Satu-satunya kelemahan album ini adalah terlalu banyaknya MC bertamu. Jangan salah paham, Nore, Raekwon, Cormega, Saigon, Termanology, Crooked I, Sean Price, Conway dan Westside Gunn adalah para rapper yang tak mungkin saya skip baitnya, hanya saja waktu penantian 6 tahun untuk mendengar album baru Kool G Rap tak seharusnya diinterupsi oleh dominasi featuring verse. Berisi total 11 lagu dan hanya 2 lagu G Rap benar-benar tampil penuh? Ini agak keterlaluan.

09. Mach-Hommy – “Haitian Body Odor”
Mach Hommy adalah anomali lain yang hadir di era baru hip hop ini. Ia salah satu rapper yang sempat berafiliasi dengan Griselda Gang, kru Conway dan Westside Gunn yang unik itu. Ia merilis album dalam jumlah sedikit dan menjualnya via DM di instagrammnya dengan harga fantastis. Ia merilis 3 rilisan tahun ini, Dumpmeister, EPnya yang diproduseri Earl Sweatshirt dan album penuh Haitian Body Odor ini. Ia tipe “favorite rappers’ favorite rappers”, bisa dilihat bagaimana Earl Sweatshirt berujar suatu hari “Go listen to fucking Mach-Hommy, man. Do your Googles.” Mach-Hommy adalah rapper dengan keunikan Kool Keith digabungkan dengan kesuraman Prodigy dan pesona preman Tragedy Khadafi. Kadang suaranya mirip Mos Def, rimanya berada dalam teritori thug poetry seperti Conway dan Roc Marciano meski kadang lebih puitik dan abstrak. HBO berisi 18 lagu, hampir semua musiknya diproduseri oleh beatmaker baru, August Fannon. Sisanya dibuat oleh Xavier Alexander, Daringer dan Camouflage Monk dan hanya dua track yang dibuat oleh Roc Marci dan Knxwledge. Dengan sound yang merentang antara beat MF Doom, Alchemist dan sedikit Madlib, HBO bersuara selayaknya album-album progresif Griselda Gang pada umumnya. Hip hop yang berefleksi dengan era 80-an di mana kesederhanaan adalah segalanya, Criminal Minded dan debut Schooly D di antaranya. Kejeniusan HBO terletak bukan hanya pada keotentikan rima dan musiknya, namun pula pada konsep eksoteris yang Mach-Hommy usung. Ia menggunakan sejarah dan memori kolektif sebagai media bercerita siapa dirinya dan apa yang membentuknya. Dari mulai kolonisasi haiti oleh Perancis, pemberontakan kelas hingga New York era walikota Giuliani. Titik-titik penting untuk memahami dunia dari perspektif imigran seperti dirinya, pencarian identitasnya sebagai Haitian-American. Kurang lebih mirip dengan apa yang Billy Woods konsepkan pada album fantastisnya, History Will Absorb Me lima tahun lalu. Dengan sampulnya yang bergambar ilustrasi potret Michéle Bennett, ex-ibu negara Haiti yang melarikan diri keluar negara pada tahun 1986, Mach mencoba memberi gambaran tentang isi albumnya, menaruh sang ibu negara (bukan sang presiden) untuk melambangkan keindahan yang membungkus semua penderitaan dan kebusukan era itu. Semua track nyaris berbobot, namun hi-lite album terletak pada “Band Anna” yang seolah mengundang Dario Argento memoles musiknya, “Tunnel Vision” dan lagu pembuka “Ti Geralde”.

08. MC Eiht – “Which Way Iz West”
2017 pula merupakan tahun revival. Bukan album Eminem baru yang saya maksud, namun kembalinya para veteran dengan karya yang sepadan dengan nama besar mereka. MC Eiht adalah salah satunya. Ia adalah MC alumni era gangsta rap sebelum The Chronic datang, duta besar Compton yang sebenarnya di peta musik rap, idola King Kendrick. Eiht merupakan salah satu figur hip hop yang hidup dalam purgatori, namanya besar namun tak sebesar Dr.Dre, Ice Cube atau MC manapun yang dianggap pilar fondasi hip hop pantai barat Amerika. Mungkin karena faktor itu pula ia memiliki pengikut kult, ia tak pernah merubah apapun meski trend berubah, bahkan ketika dunia disapu G-Funk ia tetap membuat musik yang ia pikir merepresentasikan dirinya, gang-nya dan ‘turf’-nya. Which Way Iz West adalah album solonya yang ke-13 setelah satu dekade tak merilis apapun. Yang paling mengejutkan dari album ini adalah bagaimana sentuhan kuat estetika NY terasa meski secara keseluruhan masih berakar pada tradisi LA. Kemungkinan besar nama DJ Premier pada produser eksekutif lah alasannya. Pada beberapa track sangat kentara terutama dalam hal BPM dan nuansa, single pertamanya “Represent Like This” misalkan atau lagu terbaik album ini, “Compton Zoo”. “Runn the Blocc” bahkan terdengar seperti lagu yang hilang dari album terakhir Gang Starr. Ketika saya menduga Eiht akan banyak mengundang MC baru Compton hari ini (Kendrick Lamar dan The Game misalnya), daftar tamu di album ini malah nampak seperti reuni 90-an; WC, the Outlawz, Kurupt, the Lady of Rage, Xzibit, Big Mike, B-Real, dan Freddie Foxxx (alias Bumpy Knuckles). Diproduseri penuh oleh Brenk Sinatra dan DJ Premier, Which Way Iz West adalah album banger nonstop. Bisa dibilang ini album solo MC Eiht terbaik sejauh ini.

07. Apathy & O.C. – “Perestroika”
Album kolabo dari dua rapper dari generasi yang berbeda. O.C. adalah salah satu idola utama Apathy. Pada banyak kesempatan, Ap sering berujar bahwa album “Word…Life” merupakan salah satu album favoritnya yang paling berpengaruh dalam hal pembentukan gaya rapnya. Itu lah mungkin alasan utama mengapa dalam beberapa hal, rap Apathy memiliki nuansa yang sama dengan emcee salah satu pilar DITC ini, terutama dalam hal mengelaborasi hal-hal personal (oke, dalam rock biasa disebut ‘Emo’), sedemikian rupa bisa menyatu dengan bravado rap jualan sompral. Mereka menamakan album mereka dengan istilah perang dingin Amerika-Rusia di 80-an sebagai media untuk melambangkan proses yang tengah berlangsung di antara mereka. Terdengar cetek, tapi dua MC ini membuatnya kompleks. Dari awal hingga akhir, album ini berisi rap yang berkisah tentang latar belakang perubahan (sistem yang buruk, demokrasi Amerika, industri musik pada umumnya, musim dingin Rusia yang mereka pinjam sebagai metafor saat bercerita tentang kehidupan pribadi mereka yang pernah berada di titik terendah), juga bagaimana mereka mengimajinasikan perubahan (Perestroika sendiri berarti ‘merekonstruksi’). Ap dan O.C. memberikan contoh sempurna bagaimana album kolabo mutual seharusnya dibuat. Mereka saling membuka ruang untuk memamerkan kelebihan masing-masing. 12 lagu solid dengan sejumlah tamu dari lingkar mereka; Celph Titled, Slaine, Marvalyss, Kappa Gamma and Jus Cuz. Apathy memproduksi musik 10 dari 12 lagu album ini dan memberikan sisanya pada MoSS dan Illinformed. Bagi Ap ini mungkin album terbaiknya, bagi O.C. ini karya terbaiknya sejak mahakaryanya, “Trophy” tahun 2012 bersama Apollo Brown. Highlite: “The Broadcast”, “Cover Leader to Raven”, “What It’s All About” dan “Winter Winds”.

06. Apollo Brown & Planet Asia – “Anchovies”
Jauh hari sebelum drumless rap menjadi pilihan artistik banyak rapper, Planet Asia melakukannya lebih dahulu di akhir 90-an. Kemungkinan besar ia rapper pertama yang secara konsisten melakukannya, karena memang ia memiliki vokal dan cadence yang sangat cocok dan auratik untuk model musik seperti itu. Upaya ini pernah mencapai puncaknya ketika ia melakukan kolaborasi dengan DJ Muggs di 2008. Karakter musik yang hanya menjadi latar belakang mengizinkan lirik Planet Asia yang mendalam terdengar lebih jelas lagi tanpa harus kehilangan ritme. Ketika beredar kabar ia sedang membuat album bersama Apollo Brown, drumless rap adalah hal terakhir yang terpikirkan. Tak lain karena selama ini Brown adalah beatmaker yang piawai menghasilkan boombap soulful super paten dengan drumbreaks paling hardknock yang pernah kalian dengar. Di album ini nampaknya Brown melepas itu semua, termasuk ciri khasnya mengkonstruksi melodi dari potongan chop musik blues dan R&B. Ia sangat paham bagaimana kekuatan utama lirikal Planet Asia ketika drumless rap menjadi kanvasnya. Upaya mengalah Brown ini menghasilkan album yang sangat menarik. Dengan sangat telaten Brown memilih hook yang tepat (rata-rata bassline dan sedikit ornamen sax, piano, gitar atau vokal), dari musik blues, jazz, prog-rock dan R&B lawas. Ia sample lengkap dengan suara klik dan pop dari piringan hitam tua yang ringkih. Beberapa track terasa lebih jazzy dan noir dari lainnya (“Duffles” dan “Deep in the Casket”), beberapa lain mirip track RZA era Wu-Tang Forever dalam format paling reduksionisnya (“Speak Volumes” dan “Tiger Bone”). Memutar “Anchovies” terasa seperti bermain ke rumah kakek kalian yang memutarkan piringan hitam favoritnya sambil memberi kalian cerita kebajikan hidup yang lahir dari rentang waktu panjang hidup yang penuh dengan keringat dan darah, patah hati, tawa dan luka. Semakin sering kalian putar, album ini semakin menghisap kalian. Kalian cukup memutar single mereka “Aura” untuk memahami deksripsi saya tadi. Lebih baik lagi diputar dengan volume maksimum saat menunggu hujan reda di sore hari. Salah satu lagu hip hop terbaik di 2017. Planet Asia dalam sebuah wawancaranya dalam rangka promo album ini berujar “This shit ain’t for everybody.” Aneh, justru ini albumnya yang paling mudah diakses. 15 lagu, tak satupun skippable. Grown man rap at its finest.

05. Meyhem Lauren & DJ Muggs – “Gems From The Equinox”
Bocoran kolabo Meyhem dan Muggs ini berbarengan beredar bersama bocoran album baru Cypress Hill sejak dua-tiga tahun lalu dari Instagram DJ Muggs. Muggs merupakan beatmaker yang selalu bereksperimen dalam setiap fase karir, dan sering meninggalkan zona nyamannya. Ia berpindah-pindah dari ‘blunted phunky sound’ a la dua album pertama Cypress ke beat monoton dan eksotik era Temple of Boom, hingga ke era boombap psikedelik penuh noise dengan drum di-filter berlebihan dan lebih mengutamakan ‘mood’ dibanding ‘head-nod’ seperti dulu. Yang mengasyikkan dari album ini kalian akan mendengar semua jenis beat Muggs itu. Dibuka dengan kalimat “How the fuck you sugarcoat murder and mayhem?”, Muggs memberi umpan lambung Meyhem track berbalut bass overdrive suram baginya untuk mengawali album. Meyhem tak pernah jauh dari template rap nya; garmen mewah, foya-foya gourmet, pemujaan berlebihan terhadap Polo, di antara sompral selebrasi murder rap ala “The Infamous” bertemu vibe trigger happy “How Could I Just Kill A Man”. Momen emas album terletak pada track “Street Religion” yang mengambil sejumput porsi dari lagu soul klasik milik Five Stairsteps dan mengundang Roc Marciano ngerap, “Shea Stadium” yang sangat Cypress lengkap dengan disonan sirine khas Black Sunday dan “Aquatic Violence” yang dengan absurdnya Muggs menaruh sample air menggelontor di depan drum dan string berdebu, plus menghadirkan salah satu performa final almarhum Sean Price. Pada track penutup, B-Real hadir bertamu namun di atas beat Muggs ia sudah seolah tuan rumah. Album baru Cypress Hill nanti pastinya akan sangat menarik. Jika kalian membeli versi awal yang dibundle dengan t-shirt, kalian akan mendapatkan dua track bonus yang seharusnya jadi bagian dari tracklist utama, terutama “Psychedelic Relic” yang super megah. Yang menyebalkan adalah, belakangan mereka merilis lagi versi deluxe format vinyl dengan dua tambahan bonus berbeda. Brengsek.

04. Roc Marciano – “Rosebudd’s Revenge”
Roc bisa dianggap sebagai salah satu figur penting dalam kebangkitan formalisme dalam musik rap. Ia memang bukan Rakim, namun ia adalah salah satu rapper yang membangunkan rap dari kebuntuan artistik pasca Eminem digdaya (yang membawa hip hop ke mainstream tanpa mengorbankan sisi teknikalnya sebagai MC.) Dalam posisi itu, ya ia memiliki peran yang hampir sama dengan Rakim dan G Rap di 80an akhir. Roc memberi contoh bagaimana bentuk adalah poin paling utama dalam melahirkan karya. Ia tak hanya bicara tentang rima (yang oleh Eminem dipisahkan dengan reduksionis; rap cadas x musik pop.), tapi juga sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dengan musik. Ini poin penting jika kemudian bertanya mengapa Roc mengadopsi beat tanpa drum (terutama pada karya-karyanya di fase awal), musik simplistik yang bertujuan lebih ke memberi aura dibandingkan memberikan ritme, flow yang nyaris tanpa emosi, berbisik dan monoton, dan perenggangan kata di antara kalimat untuk memberi ruang bagi nuansa musik ikut berbicara. Itu baru penjelasan secara bentuk. Secara konten, lirik Roc sebetulnya merupakan keturunan tulen dari rap NY dengan elemen ‘crime noir’ kadang bahkan secara brutal penuh kekerasan, plus pemujaan ultra-fetis terhadap cuisine level kahyangan dan barang-barang mewah melampaui swag pengacara Setya Novanto di acara Mata Najwa. Album ke-4nya ini memperlihatkan kematangannya. Skill pendongengnya menggurita menjadikannya pengonsep ulung. Ia berangkat dengan menggunakan film Citizen Kane, sebuah drama misteri lawas dari tahun 1940an karya Orson Welles (ini sekaligus rekomendasi film, jika kalian belum pernah menontonnya). Ia meminjam cara narasi film itu direpresentasikan, dengan acak. Memori, flashback, potongan citra, fragmen-fragmen ingatan kolektif, berloncatan dari track ke track di antara mafioso rap-nya yang mengilustrasikan kegelapan dunia bawah NY, lengkap dengan palet a la Martin Scorsese. Meski ini album gelap, Rosebudd’s Revenge terdengar lebih berwarna dibanding 3 rilisannya terdahulu, apalagi jiga dibandingkan dengan Marcberg, bahkan pada sepertiga terakhir album musiknya bertransisi menjadi semakin ‘cerah’. Sangat menarik ketika menemukan sejumput rasa RZA era Liquid Swords lewat melintas. Dengan album terpadu dan sekonseptual ini, sulit untuk menentukan lagu mana yang layak disebut ‘single’. Album ini tak punya single kuat seperti “Pop” bagi Marcberg, atau “Emerald” bagi Reloaded. Namun disitulah nampaknya kekuatannya, tak ada spot yang lebih menarik perhatian dari yang lain. Bukan berarti tak ada lagu favorit; “Marksmen”, yang bertamukan sahabatnya, Ka, “Herringbone” yang hanya mengandalkan satu potong suara gitar yang seolah diambil dari lagu prog-rock 80an, juga “History” saat Roc ngerap lebih cepat dari biasanya dengan flow konstan di atas musik smooth jazz a la Bobby Caldwell dan Al Jarreau. A quiet-storm masterpiece. Saya tak bisa membayangkan bagaimana Roc akan membuat album yang lebih bagus lagi dari Rosebudd’s Revenge ini.

03. Sean Price – “Imperius Rex”
Dua tahun lalu hip hop kehilangan salah satu MCnya yang paling karismatik, kurang ajar, hardcore sekaligus paling lucu dalam sejarahnya. Di akhir hidupnya, Price sedang dalam proses menyelesaikan album ke-7 dan konon hanya tersisa 4 lagu lagu menuju perampungan. Setelah ia meninggal dunia, sang istri meneruskan proses album itu dengan bantuan crewnya, Boot Camp Click, termasuk dalam memilih featuring sisa. Hanya 1/3 musiknya dibuat oleh beatmaker terkenal (Marco Polo, 4th Disciple, Stu Bangas, The Alchemist dan Notzz), sisanya dibuat oleh beatmaker tak ternama (Crummie Beats, Joe Cutz, Harry Fraud, Dan the Man dan DJ Skizz). Meskipun demikian ini album Sean Price yang paling kohesif dalam diskografinya. Imperius Rex adalah victory lap boombap dari awal hingga akhir. Tak satupun medioker. Kalian bisa menemukan boombap hentakan boot Timberland khas Boot Camp, sinister gelap hingga yang sangat funky era “Back to The Grill”. Semua yang kalian harapkan dari bars Sean P ada di sini. Bravado rap, multi-silabel sompral dengan pemainan kata yang kompleks, dan tentu saja ‘ugh’ khas nya. “Better rapper, Beretta clapper, The clever bastard/ Metal masher, Devil laughter, Cheddar after/ After the gold then after that the platinum, no/ After your soul then after that I clap ’em, yo/ Make your back spin, the four bust/ Back when used to back spin for Cold Crush”, barsnya selalu memukau. Semua MC tamu yang hadir tak satupun yang mengecewakan. Mulai dari Styles P, Smif N Wessun, Method Man, Raekwon, Inspectah Deck, Buckshot, Ruste Juxx, Freeway bahkan penyanyi reggae/danchall Junior Reid. Yang sangat mengejutkan adalah kehadiran MF DOOM, juga kolaborasinya bersama MC legendaris lain yang juga meninggal dunia tahun ini, Prodigy dari Mobb Deep. Ini adalah salah satu album boombap terbaik yang pernah di buat di tahun 2000-an. Kalian bisa merekam album ini ke dalam kaset dan memutarnya di boombox berulang-ulang tanpa satupun lagu harus di skip. Namun demikian ada beberapa lagu yang menjadi momen emas dan yang di-‘rewind’ lebih banyak; “Dead or Alive” duet bersama istrinya (yang ia paksa ngerap di lagu ini), “Apartheid” yang mengundang kolega satu Duck Down-nya, Buckshot dan General Steele, kolabnya bersama MF Doom “Negus”, dan “Clan & Clicks” sebuah anthem posse cut Boot Camp (Smiff & Wessun, Heltah Skeltah) mengundang tiga eksponen Wu-Tang, Method Man, Inspektah Deck dan Raekwon dengan chorus “Shame on the Nigga” dan musik yang seolah dibuat oleh RZA zaman 36th Chamber. Imperius Rex bukan hanya tribut yang indah bagi Sean P, namun pula hadiah sempurna bagi para fans epitom musik hip hop 90an. Rest in Power P!.

02. Rapsody – “Laila’s Wisdom”
Terminologi female emcee sebetulnya memiliki sisi konotatif yang merendahkan. Seolah wanita adalah kategori khusus dari teritori emceeing yang terpisah dari arena yang didominasi lelaki. Dalam emceeing bagus tetap bagus, jelek tetap jelek tak peduli ia cewe atau cowo. Tapi memang kadang istilah itu diperlukan terutama ketika kalian ingin mengekspresikan ungkapan seperti “kapan album solid terakhir yang pernah kalian dengar dari seorang female emcee?”. “Necessary Roughness” Lady of Rage? “Classic”nya Rah Digga? “Attack of the Attacking Things” Jean Grae? “The Miseducation of Lauryn Hill”? Sejujurnya saya mengharapkan album solid itu datang dari Nitty Scott tahun ini, namun entah mengapa album Scott muncul dengan output tak seperti yang saya duga (terutama mengingat betapa impresifnya debut penuh Nitty, Art of Chill). Album dambaan itu justru datang dari rapper yang sama sekali tak saya antisipasi tahun ini, Rapsody. Album ini tiba-tiba datang tanpa promosi besar-besaran 5 tahun setelah debutnya The Idea of Beautiful dan penampilannya di lagu Dilated People “Hallelujah”. Ia sempat mencuri perhatian dunia dua tahun lalu di album ambisius Kendrick Lamar To Pimp the Butterfly dan merilis salah satu mini album terbaik di 2016. Laila’s Wisdom terdengar begitu hidup dan berwarna, spontan dan segar. Diproduseri oleh beatmaker prominen 9th Wonder dan dibantu oleh Khrysis, Ka$h dan Nottz, album ini adalah spektrum pelangi di mana setiap lagu memiliki warnanya sendiri. Setiap lagu memiliki melody, drum atau keistimewaan bahkan kejutannya tersendiri. Album ini (baik musik dan lirik) memiliki resonansi kuat dari hip hop 90an, memperkayanya dengan musik yang progresif, jazzy, soulful dan sangat indah. Sekali lagi 9th Wonder memperlihatkan keajaiban musiknya yang mengakar pada musik R&B laid back a la Al Green dan Curtis Mayfield dengan salah satu koleksi boombap paling keras gaungnya taun ini. Kendrick Lamar, Anderson Paak, Busta Rhymes, Black Thought berkontribusi bait rap dengan luar biasa. Namun bintang sebenarnya adalah Rapsody sendiri. Pola rapnya semakin mengerikan, cadence dan delivery-nya seringkali berubah-ubah dengan cantiknya. Ia menggunakan semua teknik yang ia miliki untuk mengusung tema besar tentang komunitas, bagaimana membangunnya dan kemana dan sejauh mana komunitas dapat membawa individu berproses. Pula perihal kontemplasi perjalanan hidupnya dilihat dari perspektif nasehat sang nenek (Laila sendiri adalah nama neneknya). Di tengahnya ia menyisipkan pesan besar tentang pergulatan kolektif, poin-poin penting perihal pergolakan sosial. Di awali dengan sample lagu Aretha Franklin yang menginterpretasi lagu ikonik Nina Simone “To Be Young, Gifted and Black,” lagu tribut bagi Lorraine Hansberry aktivis radikal di era segregasi rasial di Amerika yang menginspirasi Nina Simone kala itu. Pada “Sassy” Rapsody bahkan mengutip Maya Angelou, sastrawan sekaligus aktivis gerakan pembakangan sipil era Martin Luther King. Di atas beat a la Afrika Bambataa dan sample soul, Ia menyisipkan potongan puisi Angelou “Still I Rise” ke dalam hooknya. Rapsody menutup albumnya dengan “Jesus Coming”, lagu epik enam menit di mana ia mengadopsi empat karakter yang sedang menghadapi maut di atas musik dengan sample lo-fi seorang musisi gospel obsure 70-an, Otis G. Johnson yang 9th Wonder gabungkan dengan vokal jazzy Amber Navran. Lagu terakhir ini menutup dengan sempurna, membuat kalian speechless. MC seperti Rapsody lah yang kelak akan meruntuhkan kacamata patriarkis dalam hip hop, karena Laila’s Wisdom bukan hanya album terbaik dari seorang female emcee sejauh ini tapi pula salah satu yang terbaik dalam hip hop di 2017. Hanya dengan karya seperti ini suatu hari orang tak akan peduli lagi dengan terminologi ‘female emcee’.

01. Armand Hammer – “Rome”
Sejujurnya, alasan utama saya menyimak dan mengikuti karya Armand Hammer adalah penebusan dosa karena telah melewatkan mahakarya Billy Woods di tahun 2012. Albumnya yang bertitel History Will Absorb Me itu merupakan karya kolosal dalam hal menulis observasi menyeluruh dan detail sebuah perjalanan mencari identitas lewat sejarah, kegetiran hidup, hedonisme, thug life, kekerasan domestik, menganalisa akar kemiskinan dan otoritas. Menggunakan metafor Mugabe di negara asalnya, Zimbabwe untuk melacak semua yang membentuk identitas dirinya dengan musik yang atmosferik. Di kemudian hari Billy Woods membuat grup Armand Hammer bersama sahabatnya, rapper yang sama esentriknya, Elucid. Debutnya, Race Music sangat mengesankan, namun ternyata itu belum seberapa bila dibandingkan album sophomorenya ini. Sulit untuk menyangkal ada faktor Cold Vein yang mempengaruhi kesukaan saya pada album ini. Bukan dalam hal rima dan musik, namun jika Rome adalah lukisan maka ia memiliki gambaran dunia yang sama dengan apa yang Cannibal Ox lukiskan di 2001, hanya saja phoenix tak lagi terbang dan langit tak lagi perak, tergantikan merah burgundy serupa Roma yang terbakar. Duo asal New York ini membuka album dengan skenario tentang akhir dari dunia namun tidak dalam narasi profetik. Lebih imajinatif, fantasi yang realistis dari pengalaman sejarah seabsurd apapun itu, mirip cerita-cerita Phillip K. Dick atau Kurt Vonnegut. Meski moodnya pesimis namun tidak nihilistik. Ada terselip harapan di horizon namun tidak mereka jabarkan lantang, seolah mereka ingin pendengarnya mencari sendiri jawabannya. Dalam eksekusinya, mereka memampatkan rima penuh dengan diksi bodega model Tragedy Khadafi, rima paranoia ala Mobb Deep, fragmen sejarah, omong kosong bragado, penyataan politik, curhat introspektif, referensi budaya pop dan analisa agnostik dengan nyeleneh namun mendalam di era ISIS ini seperti “Who said God is a DJ? Even they went out of style.” Dari lagu ke lagu, Billy Woods dan Elucid ngerap tanpa hook, mereka masih tidak tertarik dalam membuat musik dengan pola verse-chorus-verse sing-along. Ini tercermin juga dengan sempurna pada musik mereka yang sangat jelas tidak menghiraukan struktur. Dan memang salah satu poin penting dari Rome adalah bagaimana musik dan lirik tak terpisahkan. Rima kompleks distopian Woods dan Elucid semakin bernyawa ketika berkanvaskan musik yang gelap, eksperimental namun memiliki DNA yang bisa dilacak berasal dari hip hop pantai timur Amerika di zaman anak muda NY menemukan zeitgeist-nya pada boombap. Dalam beberapa momen, lebih monoton dan membiarkan bebunyian industrial hadir (oke, itu kesamaan lainnya dengan Cold Vein). Diproduksi oleh beberapa beatmaker, (Messiah Musik, August Fanon, Fresh Kils, High Priest, Kenny Segal dan JPEGMAFIA), secara musikal album ini membentang dari beat spacey ala El-P, yang eklektik model MF Doom hingga yang lebih berupa soundscape seperti lagu-lagu Ka. Mengundang pula MC tamu, para rapper bawah tanah NY yang hari ini cukup mencolok dengan rilisan-rilisan hebat mereka; Quelle Chris, Mach Hommy dan Denmark Vessey. Rome adalah tipe album yang tidak mudah. Memerlukan upaya memutar ulang dan mendengarkan lebih mendalam. Untungnya, suara Billy Woods begitu menghisap, otoritatif dalam beberapa momen dan di sisi lain, rap Elucid lebih mistik, dari flownya kalian bisa mendengar gaung Aesop Rock minus kecepatannya. itu semua modal yang cukup untuk memutar Rome berulang kali dan mendekode rima mereka yang enigmatik. Entah disengaja atau tidak, album ini dirilis di bulan gejolak Zimbabwe, saat diktator 4 dekade Robert Mugabe akhirnya turun tahta di Zimbabwe, negara di mana separuh identitas duo ini mengakar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here