Deltron 3030 – ‘Event II’ [Review]

Released: September 30, 2013
Recorded: 2004-2013
Length 54:10
Label: Deltron Partners, Bulk Recordings
Producer: Dan the Automator

Deltronevent2_coverMenunggu album ini rilis mungkin mirip dengan menunggu My Bloody Valentine merilis album baru di tahun kemarin. Kita sama-sama tahu, agak mustahil Kevin Shield membuat album sehebat “Loveless” lagi, namun kita masih saja berharap ia melakukannya. Deltron 3030, proyekan yang diinisiasi oleh sepupu Ice Cube, seorang rapper paling underrated di era paling dahsyat hiphop, Del The Funky Homosapien, 13 tahun lalu. Ia mengajak Dan the Automator sebagai beatmaker dan Kid Koala sebagai DJ, yang kemudian menghasilkan album legendaris dan berpengaruh besar, dengan nuansa science-fiction diramu plot politis yang kental dan satir sosial cyberpunk dan humor gelap tentang distopia yang menggelikan. Album itu sungguh luarbiasa, baik dari segi konsep, lirik dan musik. Meninggalkan jejak pada banyak grup-grup lainnya, bahkan pengaruhnya melampaui genre hiphop sendiri, Gorillaz misalnya. Dan 13 tahun bukan waktu yang sebentar, dalam rentang waktu selama itu hiphop dibanjiri nerd rapper, budaya geek dan over-populasi fashionista ala Pharell dan sebatalyon MC bercelana pinsil yang terinspirasi album ini.

Ketika proyek sekuel ini diumumkan 8 tahun lalu, semua orang gembira, namun setelah mengalami penundaan berkali yang jumlahnya hanya bisa disaingi “Detox”, album visualisasi anarki masa depan lanjutan ala Katsuhiro Otomo ini akhirnya dirilis juga dengan antisipasi yang mulai bodo amat mengurangi rasa penasaran. Mendengarkan hasilnya, tentu sudah pasti akan mengecewakan, karena kita selalu ada dibawah bayang-bayang album debut mereka dulu. Bahkan del sendiri mengakui dalam sebuah waancaranya bahwa album ini tidak lebih baik dari debut pendobraknya dahulu. Namun jika objektifitas diperlukan tanpa harus membandingkan, saya bisa bilang album ini tidak seburuk yang dibayangkan.

Secara musikal, Deltron 3030 kembali menawarkan eksperimentasi hiphop yang tetap berada pada jalur sebagaimana mestinya hiphop dibuat. Bermain avant sembari memegang teguh prinsip-prinsip hiphop yang diperoleh dari tradisi suara 90an. Ia mengambil elemen rock tanpa harus terdengar rock-n-roll, mengintegrasikan gitar fuzz, string, terompet kungfu dan bebunyian lainnya ke dalam beat khas ala Dan yang banyak terpengaruh Paul C, Q-Tip dan Prince Paul. Terlebih jika menghitung peranan Kid Koala dengan aksi turntablism-nya, tak ada aksi scratch dan cutting yang biasa-biasa. Begitu pula kontribusi para tamu, dari ketebak seperti Damon Albarn hingga yang mengejutkan, Mike Patton, memberi sentuhan lain pada beberapa lagu. Satu catatan penting dari sisi musik, hilangnya efek simfoni dan pemakaian sample string/orkestra mengurangi kesan epik yang dahulu dengan mudah dirasakan pada album pertama.

Sejak awal album nuansa gelap disetting dengan teliti, Deltron memilih Joseph Gordon-Levitt membacakan narasi intronya, menyebut tahun 3040 sebagai marka waktu. Del meninggalkan plot anarki pasca apokalips dan mulai berkeksperimen dengan plot kenabian sang tokoh, Deltron Zero, menjelajahi ranah yang luluh lantah, bercerita bagaimana kebusukan berlanjut dan petualangan baru dimulai. Del membangun plot dengan intrik-intrik masa depan, ketika tirani totalitarian mengumpulkan kembali kekuatannya, dan kelas menengah dianggap “had faded into irrelevance”. Ia memberinya nama “Event II”.

Menarik, sekaligus menyulitkan kita untuk tidak kembali mengungkit-ngungkit album pertama. Yang agak menjadi masalah adalah alur cerita yang Del bangun terasa terlalu dibuat-buat, kurang mengalir. Ada yang gregetnya kurang dari Del pada album ini, mulai dari flow, pembawaan/delivery hingga permainan emosi yang mengimbangi humor konyolnya. Pula kurangnya kesan krisis pada karakter Deltron Zero mungkin pula mempengaruhi plot secara keseluruhan. Atau mungkin hilangnya relevansi sosial-politik plot sekarang dengan realitas yang membuatnya kering? Jika dahulu perkara pembangkangan melawan rezim totalitarian bisa menghubungkan dengan krisis dunia pada saat itu, “Event II” nyaris tak punya cermin pada pergolakan massal yang terjadi secara global. Entahlah, mungkin saya terlalu berharap banyak. Seperti yang saya bilang tadi, agak sulit bersikap wajar dengan album magnum-opus sehebat debut mereka ‘Deltron 3030’ dahulu.

Sedikit asumsi tambahan, mungkin album ini dibuat terlampau lama. 7-8 tahun menggarap album tentu sudah harus dipertanyakan soal konsistensinya. Bisa dilihat dari beberapa track yang terdengar agak tidak up-to-date. Dan Automator dan Kid Koala pernah berujar 3 tahun lalu, bahwa musik album ini selesai digarap dan tinggal menunggu Del mengeksekusi liriknya. Jadi jika album pertama Del mengerjakannya dalam 2 minggu dengan hasil yang begitu dahsyatnya, 2 tahun pengerjaan liriknya kali ini dengan hasil yang agak mengecewakan cukup menjelaskan bahwa pengerjaan yang terlalu lama membuat mereka kehilangan fokus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here