DJ Muggs vs Ill Bill – Kill Devil Hills [Review]

Dengan antisipasi luarbiasa album ini sedikit banyaknya mengingatkan saya pada masa-masa mengkoleksi album di tahun 90-an. Berburu kabar, menandai tanggal rilis dan memburu rekamannya di toko-toko kaset, meski tak selalu berakhir sesuai harapan karena terkadang kalian tak menemukannya dan harus menunggu beberapa bulan kemudian, bahkan tahun, untuk mendapatkan rekaman tersebut. Pengalaman seperti itu yang tidak saya alami lagi pasca 2000-an, bukan hanya lantaran tinggal memburunya lewat situs download, juga karena hiphop tidak lagi menarik untuk ditunggu-tunggu seperti dulu. Jika ada album luar biasa, ia tak lebih seperti merasakan mendapat hadiah uang di dalam bungkus kopi atau sabun cuci. Oleh karena itu pula, kalimat ‘most anticipated’ hari ini hilang aura-nya. Sering kali dipakai industri sebagai gimmick menjual rekaman, padahal kenyataanya banyak rekaman yang sebenernya ga ditunggu-tunggu amat dan kalimat ‘sangat diantisipasi’ hanya sekedar pelengkap di media-media promo. Namun tidak dengan album ini. 10 bulan sejak Muggs dan Bill mendeklarasikan bahwa mereka akan lebih dari sekedar membuat lagu kolaborasi seperti biasa, kontan album ini menjadi penantian para hiphop heads di ghetto NY, slum di Ceko dan Tokyo, hingga RW 08 di Sukajadi, Bandung. Bedanya mungkin sekarang saya harus memesannya lewat online store, bukan mengantri di kasir di Aquarius Dago seperti dulu. Beruntung kantor pos kali ini cukup kooperatif.


DJ Muggs vs Ill Bill – Kill Devil Hills
Released:
April 5, 2011
Label:
Enemy Soil/Uncle Howie
Producer:
DJ Muggs, Shuko, Gemcrates, ILL Bill, Vherbal, Sicknature, C-Lance, Junior Makhno, Grand Finale, Jack Of All Trades

Review_IllbillmuggsOke, hype yang mengitari perilisan album ini beralasan, karena Bill dan Muggs merupakan sosok ikonik di dunia hiphop. Jika kalian tidak mengetahui mereka, kemungkinannya hanya ada dua: kalian bukan hiphopheads dan tak pernah tertarik dan berminat menyimak musik ini, atau kalian adalah hiphopheads tersesat yang selama 15 tahun terakhir mendengarkan album dan lagu yang sama sekali sesat pula, dalam kata lain selera hiphop kalian sempat mampir di WC umum dan terkurung satpam disana.

Ill Bill adalah salah satu dari 3 MC Non-Phixion, sebuah grup legendaris NY di era 90-an, telah merilis 3 solo album, ia bersama adiknya, Necro, pendiri salah dua label hiphop yang masih merilis album-album waras hari ini, seorang B-Boy penerus tradisi rugged rhyme era Golden Age yang tak peduli trend apa yang menyapu dunia Ill Bill selalu datang dengan rima ganas, flow juara, dan delivery yang semakin hari semakin langka di scene NY bahkan dunia. Sedangkan Louis Muggerud aka DJ Muggs sebelumnya terkenal sebagai DJ/Producer dari supergrup Cypress Hill, memiliki reputasi yang panjang dalam hal memproduksi track-track maut yang tak hanya membuat grupnya sohor, namun juga membuat lagu-lagu klasik dalam milestone hiphop bagi MC/grup lainnya. Dari Ice Cube, KRS-One hingga La Coka Nostra, dari alumnus Wu-Tang sampai jebolan Boot Camp, me-remix Portishead hingga U2. Untuk gampangnya; siapa yang tak pernah mendengar “Jump Around” dari House of Pain di era 90-an dulu? Muggs dengan karakter sound nya yang ber-evolusi kesana sini, tak bisa dipungkiri adalah salah satu produser hiphop yang paling signifikan dalam sejarah hiphop. Hanya masalah waktu bila bicara soal kolaborasi Muggs dan Bill ini menjadi kenyataan. Karena album ini merupakan seri dari tradisi album kolaborasi Muggs dengan paket ‘versus’ yang sebelumnya sukses menghasilkan album klasik bersama Planet Asia (‘Pain Language’), GZA (‘The Grandmasters’) dan Sick Jacken (‘The Mask and the Assasin’).

Oke, cukup introduksi. Jika kalian merasa tidak cukup silahkan tanya dewa Google tentang legacy mereka. Saya tak mau menyia-nyiakan malam panjang ini yang diguyur hujan tanpa henti, yang nampaknya mood malam yang cocok dengan atmosfir album ini; gelap, menghanyutkan, gothic, nyaris menghipnotis. Sebelumnya saya sempat membayangkan album ini serupa gabungan antara ‘Temple of Boom’ dan ‘Hour of Reprisal’, namun yang lahir disini lebih dari itu. Konsep adalah kata kuncinya, ini yang tidak terlalu mencolok di 3 album kolabs Muggs sebelumnya, juga di album-album solo Ill Bill. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Planet Asia, GZA dan Sick Jacken, karya mereka dengan Muggs masih terasa aroma ‘versus’ nya, sedangkan album ini sebaliknya, seolah terdengar datang dari duo yang telah memang bertahun-tahun bekerja dalam satu bendera (misalkan saja Eric B and Rakim, Kool G Rap & DJ Polo dsb)

Album ini sungguh intens, berdurasi 40 menit, tidak pendek pula tidak terlalu panjang sehingga menderita penyakit kebanyakan album yang membosankan karena panjang terlalu banyak filler. Muggs melakukan pekerjaannya dengan benar. Semua yang saya harapkan dari Muggs hadir; track monoton, hard beats, sample hipnotik, gelap dan atmosferik, beberapa terdengar pengaruh RZA namun pula tidak terlalu eksploratif. Jika memang mengharapkan sesuatu yang eksploratif/cutting edge tentu saya akan mendengarkan Dalek, El-P atau Madlib, tidak dari Muggs. Yang sedikit berbeda di album ini adalah begitu organiknya sound sample yang ia pakai, bahkan hingga synthe sekalipun terdengar ajaib di tangan Muggs. Album ini pula menandakan kembalinya Muggs pada beat-beat boombap NY ala 90-an. Ini ironis, mengingat beat-beat mayoritas hiphop NY sekarang payah dan salah satu pewaris hardcore boombap adalah produser dari LA/West Coast ini. Betapa intensnya album ini membuat saya bersyukur Muggs tidak terlibat dalam album Cypress Hill terakhir yang buruk itu hingga sang DJ bisa berekslorasi penuh dalam proyek-proyek non-Cypress.

Ini semua diimbangi oleh Ill Bill yang memproduksi bentangan lirik paranoid-nya secara konspetual. Dengan konsep Illuminati sebagai tema sentral, album ini menampilkan imaji burung hantu sebagai cover album, mahluk malam yang melihat dan mengawasi dalam kegelapan. Meski Bill terkenal dari dahulu dengan lirik-lirik bertemakan konspirasi, kontrol dunia, mistrust, the Knights Templar, perang psikologis (selain tentu rima bragadocio-nya), ‘Kill Devil Hills’ adalah karya terbaik Bill dalam menulis hal-hal seperti itu. Ia adalah nyawa album ini; memandang dunia dengan kacamata distopia, kali ini seolah menjadi sempurna karena bertemu dengan beat-beat gelap Muggs yang memiliki kapasitas untuk menjadi kanvasnya.

Dibuka dengan drum marching dari track “Cult Assasin”, Muggs menunjukkan bagaimana membuka album dengan benar, dengan track yang mewakili nyawa album keseluruhan. Flow Bill dalam album ini lebih tenang, laid-back meski tidak mempengaruhi kecepatan delivery nya. Suaranya yang lebih pelan membuat konten yang ia sampaikan terdengar lebih serius dibanding saat ia berteriak;

There’s a fixed rate of pay per murder/
And the assassin is an expert so you know that he stay with the burner/
From buying glocks to LSD psych ops/
Amen Ra Masonic Lodge to the private blog of Adam Weishaupt/
Public enemy caught in the shooter’s lobby/
The real life Luca Brasi, so fuck you and the Illuminazi/

Namun kuncinya ada di chorus yang melukiskan dengan cocok pergulatan eksternal/internal yang melampaui tema konspirasi album ini; “The darkness that surrounds us can’t hurt us — it’s the darkness in the heart of our souls that turns us into murderers”. Tema lirikal seperti ini ditemukan pada track-track selanjutnya dengan beragam varian. “Illuminati 666” yang fokus pada eksistensi elite secret society;

“Yo, we got a black President, the aliens’ll be here soon
Open up your eyes and your ears, here’s the truth
Beyond blind faith, we don’t really know what to believe
The meaning behind these old books could be anything
Who the fuck translated these words from Aramaic
to the language spoken in the empire of the hated?”

“Millenium of Murders” yang mendeklarasikan abad paling banyak membunuh orang, hingga “Ill Bill TV” yang merefleksi balik teori Orwellian tentang masyarakat terkontrol. Ill Bill mendemonstrasikan skill menulis album dengan gabungan lirik jalanan dan riset mendalam pada sejarah-sejarah tersembunyi, divisualisasikan hampir seperti film. Bill pula nampak semakin lihai dalam hal ini, ia lebih jeli memilih kata-kata aneh tanpa harus terlihat membaca kamus konspirasi, rima-nya lebih vivid namun tetap deskriptif dan visual.

Satu lagi hal tambahan istimewa nya album ini adalah bagaimana Muggs mengundang MC-MC tamu dan ia dekorasikan sedemikian rupa sehingga tak ada satupun yang salah tempat dan ditata tanpa mengurangi esensi album. Bertubi-tubi mulai ”Trouble Shooters” yang menampilkan konstelasi Sick Jacken, Sean Price dan O.C, ”Amputated Saints” bersama B-Real saling berbalas venom. “Skull & Guns”, yang memperlihatkan skill Muggs dalam membuat hardcore track hanya dengan kick 808, suara clap dan sitar, dibuka Bill dengan “Every Kennedy was assassinated by the Illuminati/ They shoulda went to Yankee Stadium for Guilliani” dipoles akhir oleh dua konco La Coka Nostra; Slaine dan Everlast menjadikan track ini favorit saya di album ini.

Kemudian ”Giant Stadium” yang pengaruh RZA nya sangat kentara, menampilkan beat dengan snare tabrakan kagok ala Wutang dulu plus synthe yang panik menjadikan lagu up-tempo ini jadi background cocok bagi Q-Unique dan Bill saling berbagi anthem tentang hiphop dan Brooklyn. ”Chase Manhattan” yang menambah deretan lagu duet klasik Bill dengan Raekwon. Saya pun terkesima bagaimana Bill dengan bantuan beat Muggs merangkai hal-hal yang sebenarnya tidak relevan dari satu ke lagu lainnya. Sebelum masuk ke track yang memakai sample film-film blaxpoitation ala Shaft ini, Muggs menyisipkan track skit yang bercerita tentang bagaimana kejahatan jalanan merupakan juga bagian dari agenda Illuminati dalam mengkonstruksi dunia, memberi gerbang bagi Bill dan Raekwon berbagi cerita tentang perampokan bank.

Album diakhiri dengan dua track andalan lainnya, ”Kill Devil Hills” yang menutup tema album bersama B-Real dan Vinnie Paz (jika track ini teaser album kolabo Bill dan Vin Paz tahun depan nanti, maka album itu penantian selanjutnya) dimana B-Real kembali berkontribusi dengan mengakhiri teori konspirasi ini dengan jari tengah bagi sang Illuminati; ”I climbed the pyramid and punched him in the eyeball/ Give him a black eye, take a picture with my iPhone”, sebelum ”Narco Corridos” benar-benar menutup album dengan tribut bagi Uncle Howie, paman Ill Bill yang legenda drug-using nya ikonik di kampung halamannya, Carnasie NY.

Terlepas dari percaya atau tidak kalian pada teori konspirasi, album ini wajib dengar dengan 2 alasan: pertama, isu konspirasi dunia mungkin bisa diperdebatkan, namun level kefrustasian dan krisis dunia ala Tata Dunia Baru hari ini tidaklah fiktif. Perang, terorisme, pembunuh bayaran, segelintir elit yang mengendalikan ekonomi dunia cukup nyata untuk dijadikan tema. Dan jika kalian menganggapnya khayalan orang-orang iseng sekalipun, maka tinggal kalian anggap saja album ini fiksi seperti kalian mendengarkan album Deltron yang bercerita tentang dunia di tahun 3030, then this album still dope as fuck. Alasan kedua; album seperti ’Kill Devil Hills’ ini yang dibutuhkan hiphop hari ini. Konsep solid, llirik keras dan cerdas, flow dan delivery maut, beat boombap klasik dengan 808 se-low mungkin, hook ganas dan sample gelap. Gabungan solid antara otak, adrenalin dan nyali.

Bill dan Muggs memproduksi kandidat album terbaik tahun 2010 ini. Namun biasanya seperti yang sudah-sudah, heads sleep on this. Make sure you don’t. Cop the album. (MV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here